Revolusi Industri 4.0: Sebuah Tantangan Atau Peluang Bagi Akuntan?

Citizen Journalism

Kamis, 11 Juli 2019 | 18:55 WIB

190711185658-revol.jpg

kabar3.com

Ilustrasi.

MENARIK sekali melihat percepatan globalisasi dunia ekonomi, keuangan dan teknologi muktahir yang semakin berkembang pesat, mempengaruhi pola kehidupan dan mendorong interaksi manusia semakin massif dan saling terhubung.

Saat ini kita berada pada puncak perubahan besar yaitu era industri 4.0. kehadiran revolusi industri ini tidak dapat dielakkan lagi. Hal ini menunjukkan proses bisnis dan dunia keuangan akan mengkombinasikan tiga elemen sekaligus, yaitu manusia, mesin atau robot, serta big data informasi. ketiga elemen ini menggerakkan seluruh proses bisnis dan dunia keuangan bekerja secara efesien, cepat, dan massif.

Mungkin bagi beberapa orang bisa jadi mengalami cultur schock atas revolusi 4.0 ini. Maka itu perlu adanya langkah untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan tersebut.

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan munculnya komputasi berbasis awan ( Cloud computing ), data dalam ukuran besar ( big data ), rekayasa genetika, perkembangan neuro teknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Perkembangan ekonomi digital ini membuka berbagai kemungkinan baru sekaligus dapat meningkatkan risiko secara bersamaan. Salah satunya, perubahaan itu yang memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan dunia akuntansi dan auditing seperti banyak aset berupa ‘teknologi’ dan intangable asset (aset tidak berwujud), sehingga tidak banyak menggunakan tenaga sumber daya manusia.

Inovasi-invoasi baru mendorong terciptanya pasar baru dan menggeser keberadaan pasar lama. Akankah mesin atau robot menggeser dan mengambilh alih peran kita? Lalu bagaimana kita menghadapinya, akankah hal itu menjadi peluang ataukah sebuah tantangan?

Pada sisi positif menurut Depnakertrans Indonesia membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil per tahun hingga tahun 2030 sekitar 3,7 juta/tahun. Masing-masing 1,59 juta tenaga kerja tingkat ahli tersertifikasi, 0,46 juta tenaga kerja level teknisi atau analis tersertifikasi, dan 1,85 juta tenaga kerja tingkat operator atau pelaksana tersertifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun teknologi semakin muktahir namun profesi akuntan memiliki peluang dan tetap dapat bersaing dengan kecanggihan teknologi.
 
Tantangan revolusi industri era 4.0 dapat mengubah secara keseluruhan peran dan standar akuntan saat ini. Perubahan peran akuntan tersebut antara lain:

- Menyediakan pendapat atau analisis mengenai data. Akuntan dituntut untuk mampu mengidentifikasikan pertanyaan atas data, analisis statistik, pengecekan kualitas data dan interpretasi hasil olah data.

- Berlaku sebagai penasihat, baik sebagai penasihat bisnis, spesialis atau berperan sebagai partner bisnis.

- Mampu bekerjasama dalam penguasaan teknologi yang meliputi manipulasi data, bekerja dengan robot atau sejenisnya dan sebagai trainer dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence)

- Profesi akuntan berkembang tidak hanya dalam aspek finansial akan tetapi akan meluas kepada aspek laporan non finansial (non-financial reporting) dan keamanan data di dunia maya (cyber security)

Akuntan dalam perspektif revolusi industri sudah bukan lagi sebagai “book keeper” tetapi meluas menjadi hal yang baru yang bisa jadi tidak menyentuh sama sekali aspek finansial.

Eksplorasi hal baru tentunya juga menimbulkan spesialisasi yang belum ada pada saat sekarang. Spesialisasi disini  akan bertambah menjadi bidang pekerjaan baru yang menuntut kapabilitas, kapasitas serta kompetensi yang berbeda pula. Sehingga peran akuntan dapat bertransformasi dengan baik sesuai perkembangan teknologi.

Seorang lulusan akuntan dalam mengembangkan kapasitas kognitif nya perlu menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aspek paling krusial yaitu literasi data, sehingga dapat berpikir kritis dan sistematik. Untuk memiliki kemampuan literasi data yaitu dengan membaca, menganalisis dan menggunakan informasi dalam format data besar ( big data ) dan literasi teknologi. Literasi teknologi berarti memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi, Artificial Intelligence (AI) dan prinsip - prinsip teknik (engineering principles). Sehingga kombinasi literasi manusia, data dan teknologi mampu menjawab tantangan revolusi industri 4.0.

Dengan demikian, seorang akuntan ataupun auditing harus mempersipkan diri dengan mengasah softskill baik interpersonal skill maupun intrapersonal skill serta mampu beradaptasi dengan perubahaan yang terjadi. Sehingga revolusi 4.0 bukan hal yang menjadi tantangan namun sebuah peluang di masa depan.

Referensi:
- Salim, Ahmad Ramdani. 2019. Tantangan SDM Menghadapi Industri 4.0: Profesionalisme. Jimea Jurnal Inovasi Manajemen Ekonomi Dan Akuntansi, vol 1, 2684-8031.
- Iswanto, Alex Candra dan Wahjono. 2019. Esai - Pengaruh Revolusi Industri 4.0 Terhadap Ilmu Akuntansi. Infokam, No.1.
- Marsudi, Almatius Setya dan Yunus Widjaja.2019. Industri 4.0 Dan Dampaknya Terhadap Financial Technology Serta Kesiapan Teaga Kerja Di Indonesia. Ikraith Ekonomika, Vol 2, No.2.
- Satya, Venti Eka. 2018. Info Singkat: Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis. Strategi Indonesia Menghadapi Industri 4.0, Vol X, No 09.


Penulis: Anisa Nur Azizah
Mahasiswa STEI SEBI Depok
Email  : azoyzoya@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA