Idulfitri: Menata Kembali Fitrah Manusia dalam Ukhuah Kebangsaan

Citizen Journalism

Selasa, 4 Juni 2019 | 08:12 WIB

190604081339-idulf.jpg

ist

TAK terasa, kita sudah memasuki fase akhir daripada bulan Ramadan. Yakni fase yang acapkali disebut fase “itqun min an-nar”. Tentu saja, fase akhir ini menyedihkan sekaligus menggembirakan. Menyedihkan karena Ramadan terasa begitu cepat berlalu.  Menggembirakan  karena kita akan kembali berkumpul bersama sanak famili di kampung halaman dengan suasana kebahagiaan.  

Setelah sebulan penuh kita berpuasa menjaga diri dari nafsu kebinatangan dan kesetanan seperti syirik, sombong, dengki, brutal, serta kekerasan, kini kita akan merayakan sebuah kemenangan. Idulfitri adalah momentum "wisuda universitas Ramadan", bagi mereka yang telah berhasil mengembalikan keseimbangan jiwa dengan memosisikan kekuatan hati nurani yang suci sebagai alat untuk memegang kendali kehidupan.

Jika pada akhir shalat kita diperintahkan mengucapkan salam dengan menengok ke kanan dan kiri. Pada hari raya Idulfitri, kita diwajibkan untuk mengucapkan salam, berjabatan tangan dan saling bermaafan dengan orang-orang disekeliling kita. Mulai dari orang tua, keluarga, tetangga hingga kolega, semua harus disalami dalam rangka mensucikan diri dari setiap kedengkian dan keburukan hati kita yang berwatak abdul hawa (budak nafsu).  

Terjebak Watak Budak Nafsu
Salah satu tantangan, dan ujian umat muslim dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan Nya, ialah mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya sendiri. Karena Nafsu yang ada di dalam diri manusia senantiasa berubah-ubah, tergantung dengan kesadaran dan ketaatan yang dimilikinya. Kadang mendorong kearah yang baik (makruf), kadang pula mendorong kepada hal yang buruk (munkar).

Menurut Imam al-Ghazali, ada dua nafsu yang menjadikan manusia terperangkap dalam budak nafsu, yakni nafsu amarah dan nafsu lawamah. Jika yang menjajah manusia nafsu amarah, ia akan memperlihatkan watak sabu'iyyah yang mencerminkan sifat-sifat kebinatangan, seperti mudah marah, pendendam, dan serakah.

Sedangkan jika manusia didominasi nafsu lawamah, ia memunculkan watak bahimiyyah yang memperlihatkan watak kebinatangan yang rakus, tidak mengenal halal dan haram. Sementara, kombinasi nafsu amarah dan lawamah akan memunculkan watak syaithaniyyah dalam diri manusia. Sehingga ia cenderung berperilaku takabur, iri, dengki, pendendam, tamak, korup, dan serakah.

Dalam konteks kebangsaan, penjajahan nafsu terhadap diri kita ini semakin hari, semakin jelas terlihat. Hampir setiap sudut di media sosial dipenuhi umpatan, cacian, hoax serta ujaran kebencian. Polarisasi masyarakat baik menjelang maupun pasca pemilihan umum terus menyeruak. Masyarakat pun terbelah dan menjadikan preferensi pilihan politiknya sebagai hakim untuk menilai individu/pihak lain di luar dirinya.

Akibatnya, nilai-nilai persaudaraan dan semangat toleransi yang selama ini menjadi citra dan identitas kebangsaan ini mulai terkoyak-koyak. Ada pergeseran idententitas bangsa dari ramah menjadi marah; dari toleran menjadi intoleran; dari nilai persaudaraan menjadi sikap permusuhan. Setiap individu maupun kelompok semakin mengentalkan fanatisme buta, menebalkan identitas perkubuan.

Kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah dibingkai dalam Bhineka Tunggal Ika, lambat laun semakin mengkhawatirkan. Tak sekali dua kali, konflik antar masyarakat di Indonesia. Mulai dari konflik antar suku hingga konflik atas nama agama terus terjadi. Hal ini tentu menjadi tantangan yang serius yang harus dihadapi bersama demi mengembalikan tantanan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis, dan yang juga telah dicita-citakan para pendiri bangsa.

Ir. Soekarno bapak proklamator Indonesia, pernah mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke. Itu artinya, bangsa adalah satu jiwa “une nation est un âme”. Satu bangsa adalah satu solidaritas yang besar “une nation est un grand solidarité”.

Realitas Indonesia sebagai bangsa yang plural merupakan sebuah fitrah yang harus disyukuri keberadaanya. Kekayaan akan khazanah budaya, agama, ras, bahasa dan lainnya merupakan bukti bahwa manusia memiliki keanekaragaman dan memang harus hidup dalam kemajemukan. Segala bentuk usaha yang berpotensi merobek-robek persaudaraan harus kita perangi bersama.

Merekat Ukhuah Kebangsaan
Untuk menata kembali ukhuah kebangsaan ini, penulis teringat dengan sebuah pemikiran dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991) tentang Konsep “Trilogi Ukhuwah”. Yaitu menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Pertama, Ukhuwah Islamiyah. Prinsip ukhuwah ini menjadikan hubungan antar sesama umat Islam menjadi harmonis dan mampu menjadi sebuah kekuatan besar untuk bersama-sama membumikan nilai-nilai Islam. Ukhuwah Islamiyah menjadi sebuah ikatan, tidak saja secara emosional, namun juga secara sprititual. Dengan modal ini, maka perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil antar umat Islam tidak perlu menjadi sebuah perpecahan.

Kedua, ukhuwah wathaniyah. Yaitu berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini merupakan modal dasar untuk melakukan pergaulan sosial dan dialog dengan pelbagai komponen bangsa Indonesia yang tentu saja tidak terbatas pada satu agama semata. Namun lebih dari itu, ukhuwah wathaniyah adalah sebuah komitmen persaudaraan antar seluruh masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam agama, suku, bahasa dan budaya.

ketiga, ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah. Prinsip ukhuah ini dilandasi bahwa sesama manusia adalah saling bersaudara.  Karena berasal dari ayah dan ibu yang satu, yakni Adam dan Hawa. Hubungan persaudaraan ini merupakan kunci dari semua persaudaraan, terlepas dari status agama, suku bangsa atau pun skat geografis, karena nilai utama dari persaudaraan ini adalah kemanusiaan.

Hal ini mengingatkan kembali pada Sahabat Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan.” Artinya, bahwa kemanusiaan adalah nilai tertinggi dalam posisinya sebagai manusia.

Dengan demikian, hakikat Idulfitri bukanlah hanya dimaknai mudik (kembali) dari kota ke desa, melainkan mudik spiritual dan kultural. Yaitu, merdeka dari perbudakan nafsu menuju penyucian diri (tazkiyatun nafsi). Fitrah, ukhuwah, dan kedamaian adalah pilar-pilar utama untuk terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman).


Pengirim
Dadan Rizwan Fauzi, S.Pd
Mahasiswa Megister Pkn Pascasarjana UPI
dadanrizwan958@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.



Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA