Puasa dan Pendidikan Karakter

Citizen Journalism

Jumat, 24 Mei 2019 | 22:08 WIB

190524221309-puasa.jpg

RAMADAN tahun ini boleh dibilang menjadi Ramadan istimewa bagi muslim di Indonesia. Mengapa dibilang istimewa? Setidaknya ada tiga peristiwa yang bersifat nasional terjadi bersamaan dengan Bulan Puasa, yakni Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), dan penetapan hasil Pemilu 2019 oleh KPU.

Dari ketiga peristiwa itu, kita dapat mengambil sebuah hikmah yang dapt menjadi bahan muhasabah, tafakur , sekaligus berharap kepada Allah Swt negeri ini akan semakin maju dan semakin baik menuju cita-cita baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Kita selalu memohon kepada Allah, Penguasa Langit dan Bumi agar bulan Ramadan ini menjadi tinggak semakin bangkitnya semangat bertauhid, semangat mempelajari Islam secara kaffah, da semangat mencari ilmu pengetahuan.

Di samping itu kita pun bermohon agar bulan Ramadan tahun ini menjadi tonggak bagi terbentuknya pemerintahan baru yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya (taqwa), jujur dalam mengemban tugas (amanah), mampu menegakkan keadilan dan kebenaran (siddiq), cerdas membuat kebijakan untuk kepentingan kemakmuran bangsa (fathanah), dan mampu menyampaikan kebenaran (tabligh).

Beberapa tahun terakhir, program pendidikan karakter menjadi kata kunci dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter menjadi upaya paling utama untuk mengisi sisi moralitas dan kejiwaan anak didik (istilah anak didik saya pilih karena secara psikologis kata "anak" lebih memiliki kedekatan yang sangat erat dibandingkan dengan kata "peserta".

Pendidikan karakter yang paling tepat untuk diterapkan, yakni pendidikan Islam. Mengapa? Karena Islam sudah sejak lama memberikan solusi bagi pendidikan anak-anak. Rasulullah mengatakan, "Setiap anak yang lahir berada dalam keadaan suci (firah), tergantung bapaknyalah, apakah dia akan dijadikan Nasrani, Tahudi, atau Majusi." (HR.Muttafaqun 'Alaih )

Rasulullah juga mengajarkan umatnya agar mendidik anaknya untuk salat, berlatih olahraga naik kuda dan memanah, dan harus memisahkan tempat tidur anak-anak ketika mendekati mumayiz. Ini merupakan bentuk aplikatif dari pendidikan karakter .

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang lebih terfokus kepada pembangunan kognitif dengan memberikan porsi lebih pada mata pelajaran, disadari atau tidak, lambat laun akan menimbulkan kegersangan afektif, kegersangan rasa, kegersangan budi pekerti. Anak-anak hanya diarahkan ke sudut kognitif, dijejali dengan materi pelajaran, dan dituntut untuk mengusainya, sementara nuraninya yang menjadi landasan utamanya terabaikan dan dibiarkan kosong.

Oleh karena itu tidaklah heran apabila anak-anak kehilangan arah, kehilangan panduan untuk menerapkan nilai-nilai moral, etika, budi pekerti. Pola pendidikan yang kita terapkan hanya memunculkan hubungan formal antara guru dengan muridnya. Tidak ada hubungan nurani,tidak ada hubungan hati, yang ada hanyalah hubungan kaku yang terbatas pada pemenuhan kewajiban. Baik guru maupun anak betul-betul dikejar dead line. Guru harus menyelesaikan materi dan dituntut untuk mengerjar target jam mengajar untuk pemenuhan sertifikasi, demikian juga anak "dipaksa" untuk menerima dan menyelesaikan tugas-tugas pelajaran sesuai dengan kurukulum yang berlaku. Hubungan keduanya menjadi sangat kaku.

Ki Hajar Dewantara sebetulnya telah memberikan pola hubungan guru dan anak yang sangat ideal dengan filosofi yang sangat dalam. Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. (Di depan menjadi teladan, di tengah menjadi penyangga, di belakang mengikuti dan memberi dorongan). Pendapat ini diperkuat dengan frman Allah, "Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah (Seungguh pada diri Rasulullah itu ada keteladanan yang sangat baik bagi kalian)." (QS Al-Ahzab : 21)

Jika filosofi itu diterapkan pada pendidikan di sekolah, maka tidak akan terjadi kesenjangan hubungan antara guru dengan anak karena kedua-duanya menjadi satu tubuh yang sinergis dalan saling menguatkan.

Kasus-kasus kenakalan remaja yang bahkan menjurus pada tindakan kriminal, menurut saya, berkorelasi dengan pola pendidikan yang diterapkan. Hubungan guru-anak, kalau boleh saya ibaratkan, seperti seorang pebalap reli dengan navigatornya. Jika sang driver terjerembab, maka boleh jadi navigatornya kurang cermat memberi arahan, selain faltor internal. Artinya, jika suatu saat ada anak yang melenceng pada kenakalan remaja, maka boleh jadi fungsi guru sebagai ing ngarso sung tulodo tidak berjalan mulus. Boleh jadi guru tidak maksimal menavigasi anak.

Medan yang harus ditempuh sang pereli ibarat rule of life bagi siswa dan guru, sehingga membutuhkan penafsiran yang arif agar keduanya sampai di garis finis (goal) dengan selamat, sukses, dan menjadi kampiun. Kurikulum adalah medan, rule of life, yang dapat ditafsirkan dengan manis melalui kearifan lokal (local genius), di antaranya melalui budi pekerti, kehalusan rasa, nilai-nilai tradisi, budaya, dan agama. Sebagaimana firman Allah, "Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan beramal saleh beberapa derajat. Sesungguhnya Allah mengetahui apa pun yang kalian lakukan." (QS Almujadalah : 11).

Penafsiran ini akan membuahkan hasil manakala hubungan yang digunakan oleh guru dan anak adalah hubungan personal, hubungan orangtua-anak, hubungan yang didasari dengan nurani; bukan hubungan formalitas antara pengajar dan peserta didik yang kerap tersekat tugas belajar dan mengajar yang diwarnai dengan pemenuhan target menyampaikan materi pelajaran (kognitif) semata.

Dengan kata lain, pendidikan karakter yaitu pendidikan berbasis kasih sayang (school of love/madrasah mahabbah) yang mengimplementasikan kerarifan lokal. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya "ditempelkan" pada kegiatan ekstrakurikuler, tetapi harus menjadi ruh dari setiap proses pembelajaran di kelas. Guru selaku navigator harus selalu membawa anak selaku driver pada hubungan personal yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab agar sukses mencapai garis finis, seterjal apa pun medan yang ditempuhnya, apa pun jenis kurikulum yang diterapkannya.

Ramadan sebagai bulan yang istimewa memberikan keleluasaan pada guru dan murid untuk sama-sama mengeksplorasi nilai-nilai karakter yang sangat baik. Ramadan mengajarkan kejujuran, kerendahan hati, kesungguhan dalam bersikap dan bertindak, disiplin, dan meningkatkan kinerja sepuluh lipat dari hari biasanya. Wallahu a'lam.

Pengirim
Drs. H. Misbakhuddin, M.M.Pd.(Kepala Madrasah Aliah Negeri 1 Bandung)

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR