Ramadan, Pileg, dan Pilpres

Citizen Journalism

Minggu, 12 Mei 2019 | 16:04 WIB

190512160632-ramad.jpg

IST

TIDAK terasa, kita sudah berada di bulan suci Ramadan 1440 H. Seluruh muslim menyambutnya dengan suka cita karena pada bulan ini banyak anugerah yang diberikan Allah Swt kepada yang menunaikan ibadah saum, di antaranya segala amal ibadah pahalanya akan dilipatgandakan, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadis qudsi, "Allah Swt, berfirman, 'Setiap amal kebaikan memiliki balasan pahala sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat kecuali ibadah puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalaskan pahalanya'." (HR. Bukhari). Oleh karena itu rugilah kita apabila bulan yang banyak anugerah ini tidak diisi dengan amalan-amalan kebaikan.

Tidak hanya ibadah saum yang dikategorikan amal ibadah, memilih pemimpin pun termasuk amal ibadah, bahkan hukumnya fardhu kifayah. Ini menunjukkan bahwa keberadaan pemimpin dalam negara itu mutlak diperlukan. Begitu pun pesta demokrasi di negara kita yang telah dilaksanakan pada 17 April 2019, itu termasuk bagian amal yang bernilai ibadah.

Apakah disengaja atau tidak, yang jelas bulan Ramadan 1440 H kali ini bertepatan dengan pengumuman hasil rekapitulasi suara Pileg dan Pilpres 2019 yaitu 22 Mei 2019 malah bertepatan pula dengan peringatan Nuzulul Quran (17 Ramadan 1440 H). Suasana ini diharapkan bisa meredakan ketegangan politik yang belakangan sempat terjadi.

Naiknya suhu politik qobla pileg dan pilpres hal yang wajar, anggap sebagai bumbu demokrasi. Demikian pula gesekan kecil antarpendukung tidak dapat dihindari. Di sinilah indahnya demokrasi, bukan pesta demokrasi namanya, jika luput dari gesekan dan ketegangan bahkan kebisingan politik. Tetapi ba'da pesta demokrasi (pencoblosan), semuanya kembali kepada suasana semula yang damai, nyaman, teduh, bersaudara, dan kembali bersama-sama membangun bangsa, tidak terjebak dengan adu domba oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan NKRI damai, adil dan makmur.

Jika sebelumnya terdapat kubu-kubuan, maka seusai pesta demokrasi tidak ada lagi, semua menjadi satu kubu, sehingga terjalin persatuan yang kokoh di antara kita sebagai bangsa yang cinta damai. Dengan persatuan semuanya akan menjadi kuat, tidak mudah kena hasutan.

Allah Swt berfirman, "Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan karena nikmat Allahlah kalian mejadi bersaudara. Saat kalian telah berada ditepi jurang neraka, Allah menyelamatkan kalian. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapatkan petunjuk". (QS Ali Imran : 103)

Memanfaatkan momen bulan suci Ramadan di berbagai kehidupan seperti merajut persaudaraan merupakan perbuatan mulia di sisi Allah Swt. Seseorang atau kelompok yang ingin merajut tali silaturahim akan dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya sebagaimana hadis Rasulullah saw, "Siapa pun yang ingin dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur, hendaklah ia menyambung tali silaturahim". (HR Muttafaqun 'alaihi). Sebaliknya orang yang memutuskan silaturahim, tidak akan masuk surga. "Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, (memutus tali silaturahim)". (Mutafaqun 'alaihi).

Dengan demikian siapa pun yang tidak mau bersilaturahim dan merajut kedamaian, dia akan dijauhkan dari rizki dan tidak akan masuk surga.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan produk politik bangsa kita yang telah disepakati wakil rakyat (DPR). Oleh karen itu siapa pun nanti yang keluar sebagai peraih suara terbanyak, baik pileg maupun pilpres harus dihormati dan itu merupakan takdir dari Allah Swt. Ketidakpuasan terhadap hasil rekapitulasi suara bisa disalurkan secara hukum ke Mahkamah Konstitusi sebagai benteng terakhir hukum di negara kita yang tidak bisa diintervensi.

Islam mengajarkan, seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya kelak dihari pembalasan, termasuk pemimpin produk Pemilu 2019, sebagaimana sabda Nabi saw, "Kalian semuanya pemimpin (pemelihara) dan bertannggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang Amir (raja) memelihara rakyat dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Seorang suami memimpin keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Seorang ibu memimpin rumah suaminya dan anak-anaknya, akan ditanya tentang pimpinannya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta milik majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberi isyarat bahwa setiap manusia itu pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, marilah kita kawal hasil Pileg dan Pilpres 2019 berikut kawal pula janji-janjinya, apakah mampu merealisasikannya atau sekadar pangoloan saja agar rakyat memilihnya.

Kemenangan Pileg dan Pilpres 2019 bukan kemenangan sekelompok orang atau golongan, tetapi kemenangan rakyat Indonesia yang tergabung dalam bingkai NKRI. Pendukung calon yang belum berhasil harus pandai mengelola kekecewaan (meninjam istilah Moh. Abdul Hakim), sebaliknya pendukung pemenang tidak meluapkan kegembiraannya secara berlebihan.

Semoga kita diberi pemimpin yang memiliki sifat siddiq (benar), amanah (dapat dipercaya, tidak bohong), fathonah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan berita dengan benar). Wallaahu a'lam.

Pengirim
Dr. H. Tatang Ibrahim, M.Pd.
Dosen Prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA