Serunya Nobar Film Europe On Screen 2019 di Bali

Citizen Journalism

Sabtu, 27 April 2019 | 14:49 WIB

190427145636-serun.jpg

Herdian Armandhani

PENAYANGAN Film Europe On Screen 2019 kembali hadir di Indonesia. Delapan kota di Indonesia mendapat kesempatan emas untuk menayangakan film-film menarik dari Benua Eropa seperti di Kota Jakarta (18-30 April), Bekasi (19-28 April), Tangerang (20-25 dan 27-29 April), Bandung (26-29 April), Medan (22-28 April), Denpasar (26-27 April), Ygyakarta (22-27 April), dan Surabaya (19-29 April) 2019.

Demi memudahkan penonton nobar yang hadir memilih jenis film yang tayang, panitia sudah memberikan jenis film saat memesan film secara online lewat social media. Jenis Film yang di klasifikasikan mulai G (Segala Umur), 12 + (Remaja), 17 + (Pra-Dewasa), dan 21+ (Dewasa). Ada 100 Film yang patut untuk dilewatkan untuk disaksikan diantaranya berjudul The Guilty, Ali & Nino, Amanda,Another Dayof Life,Bareoot, Beauty and The Dogs, becoming Astrid, Beyond Words, Blossom Valley, Blue My Mind, The Bra, A Brief Excursion, Brothers, Bye Bye Germany, Cargo, Champions, The Charmer dan masih banyak lagi.

Di Bali pemutaran Nobar Film Europe On Screen di pusatkan di Lembaga Bahasa Prancis Alliance Francaise Bali di Jalan Raya Puputan Renon I No 13 A Denpasar dan Mash Studio Denpasar di Jalan Pulau Madura Denpasar. Malam itu, Jumat (26/04/2019), di Alliance Francaise Bali pukul 20.30 wita pengunjung disuguhi Film berjudul “Marrowbone”. Pengunjung yang menonton dapat memilih lesehan di tikar yang disediakan pantia di taman atau duduk di bangku. Tak lengkap rasanya jika menonton tanpa hidangan dan air minum. Panitia sudah menyiapakn berbagai kudapan kue mapun the atau kopi hangat selama penayangan film berlangsung selama 2 jam.

Marowbone merupakan film semi horor yang mengambil latar belakang tahun 1969. Film tentang keluarga ini mengisahkan empat kakak adik yang tidak terpisahkan. Mereka adalah Jake (George Mackay), Billy (Charlie Heaton), Jane (Mia Goth), dan Sam Marrowbone. (Mattew Stagg). Jake harus menjadi tulang punggung keluarga semenjak ibu mereka meninggal akrena suatu komplikasi penyakit asma. Teror rumah berhantu mulai menyerang mereka ketika mereka beremapt menggunakan “uang terkutuk” untuk menebus rumah tua yang mereka miliki.

Bunyi musik dari radio tua di kamar bertirai sekilas mirip dengan film Indonesia yang naik daun “Pengabdi Setan”. Penonton yang ikut Nobar ini pun tak kalah “diteror” oleh musik pengiring dan jalan cerita yang mengambil alur “maju mundur”. Akhir cerita film ini bisa membuat penonton yang hadir banjir air mata karena tahu sebuah kisah kelam dari rumah ini.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend dalam sambutannya mengatakan bahwa Sinema merupakan sarana terbaik untuk meningkatkan kesadaran. Tahun ini, kami memberi fokus pada pelestarian lingkungan hidup dengan mendedikasikan segmen khusus berjudul #Ourland.
“Festival ini juga merayakan 100 tahun gaya arsitektur Jerman Bauhaus dan mengenang sutradara Bernanrdo Bertolucci, sutradara ternama asal Italia” jelasnya.

Lanjut Vincent, Festival ini memupuk pula kerjasama antaara Eropa dan Indonesia, serta antara industry kreatif sebagai sektor ekonomi yang meningkat pesat.

“Sebagai contoh, kami menghadirkan beberapa pekerja film dari Eropa untuk bekerja sama dengan Sineas di Indonesia. Saya juga sangat menantikan film-film pendek Indonesia yang mendapat dukungan Europe on Screen tahun lalu ” tambahnya.

Pengirim
Herdian Armandhani
dhaniamoebadevil@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR