Disbudpar Kota Bandung Adakan Forum Diskusi Seni Benjang

Citizen Journalism

Selasa, 9 April 2019 | 12:29 WIB

190409123152-disbu.jpg

ist

PEMERINTAH Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mengadakan Forum Grup Diskusi (FGD) Seni Benjang dilaksanakan pada hari Selasa (9/4/2019), setelah seminggu sebelumnya mengadakan FGD Mapag Panganten.

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu program Bidang Kajian Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 30 peserta perwakilan dari masing-masing grup Seni Benjang yang ada di Kota Bandung. Forum ini diharapkan dapat memberikan masukan yang dapat membangun untuk kemajuan Seni Benjang Kota Bandung.

Sebagai pengantar kegiatan ini ditampilkan seni benjang dari grup Campaka Bodas dari Kecamatan Cibiru, dengan menapilkan musik khas seni benjang suara terebang, kendang dan terompet yang menambah hangat suasana FGD kali ini.


Menurut Kepala Bidang kajian kebudayaan, Tjep Dahyat, kegiatan dalam rangka perlindungan seni budaya ini, salah satunya dengan pendataan lingkung seni benjang yang ada di kota Bandung, dan grup seni yang masih aktif. Kedua masih dalam rangka pengembangan seni benjang harus diadakan kajian seni benjang, out put nya berupa buku seni benjang, baik itu brtupa skripsi, tesis, atau buku lainnya hadil pengkajian. Ketiga, pemanfaatan seni benjang harus bermanfaat, dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat".

Menurut Bah Anto, salah satu narasumber FGD Seni Benjang, kegiatan ini merupakan salah satu pengejawantahan dari Undang-undang no 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan". Seni benjang merupakan seni khas Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Ujungberung. Benjang asal kata dari sasamben budak bujang jadi Benjang, ada juga yang mengartikan Benjang dari kata Band Young Sundanis (Bandnya anak sunda). Tetapi yang lebih ilmiah menurut Bah Anto bahwa benjang asal kata dari Sasamben Budak Bujang, sasamben = permainan yang dilakukan di Amben = bale, budak bujang= laki-laki yang sudah dewasa belum menikah. Sasamben dalam permainan ini bermain secara bersinggungan sambil memainkan terbang.

Perkembangan seni benjang dimulai dari tahun 1923, mulai adanya benjang gelut atau penyebutan orang belanda wreestleun. Pada perkembangan benjang selanjutnya terpengaruh oleh seni rudatsehingga menambah kaya akan permainan tersebut dari alat nya genjring dan kencring, permainannya ada yang dinamakan dogongan, seredan, ujungan, gesekan dan panciran.

Menurut salah satu narasumber, Dr. Suhendi Afryanto, seni benjanghanya ada di Ujungberung Kota Bandung, tetapi ada yang mirip seni ini yaitu sampyong dari cirebon hanya bedanya sampyong di pukulmenggunakan rotan. Kebudayaan di Indonesia harus seperti di negara luar bahwa spiritnya kebudayaan terdahulu harus dijadikan landasan pemajuan kebudayaan.

Kegiatan ini diharapkan juga dapat memberikan semangat bagi para pelaku seni benjang, dan juga sebagai bentuk perhatian pemerintah Kota Bandung terhadap para pelaku atau seniman benjang untuk lebih melestarikan, memelihara seni benjang.


Penulis: Hendi Rohendi, M.Sn.

Jabatan: Pamong Budaya Muda , Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kota Bandung

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR