Bersahabat dengan Katarak

Citizen Journalism

Selasa, 19 Maret 2019 | 10:59 WIB

190319110023-bersa.jpg

net

ORGAN mata memang bukan segalanya, namun tanpa mata yang sehat hidup kita menjadi tak berarti bahkan menjadi tidak produktif. Salah satu penyakit mata yang masih menjadi ancaman di masyarakat adalah katarak. Katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia dan juga di dunia.

Dari semua kebutaan pada masyarakat, lebih dari 50% penyebabnya adalah katarak. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setiap tahunnya kasus baru buta katarak selalu bertambah sebesar 0,1% dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang/tahun.

Adapun penyebab katarak secara umum adalah karena faktor usia, oleh karena itu kasus ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya angka usia harapan hidup. Penyebab lainnya adalah trauma pada mata maupun penyakit–penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus.

Pada usia bayi dan anak–anak, katarak dapat terjadi karena proses infeksi dan malnutrisi dalam kandungan meskipun hal ini sangat jarang dijumpai.

Katarak merupakan penyakit dimana terdapat kekeruhan pada lensa, yang mengakibatkan sinar yang masuk ke mata tidak dapat mencapai pusat penglihatan secara maksimal di retina. Kekeruhan pada lensa ini mengakibatkan penderita tidak dapat melihat dengan jelas atau tidak dapat melihat sama sekali (buta) tergantung tingkat kekeruhan pada lensa.

Biasanya penderita katarak memiliki ketajaman penglihatan yang sangat rendah yaitu kurang dari 3/60. Artinya penderita hanya mampu melihat sejauh (3) tiga meter sesuatu yang seharusnya dapat dilihat oleh orang normal pada jarak (60) enam puluh meter. Hal ini akan mengganggu aktivitas sehari – hari, bahkan bergantung penuh pada orang lain.

Satu–satunya pengobatan yang terbukti efektif adalah melalui operasi, yaitu mengganti lensa mata yang keruh dengan lensa buatan. Namun kesadaran masyarakat tentang hal ini masih kurang. Ada tiga alasan utama penderita katarak belum mau dioperasi antara lain karena ketidaktahuan, ketidakmampuan dan ketidakberanian. Padahal operasi katarak saat ini sudah dikerjakan dengan teknik yang sangat canggih, yaitu phacoemulsifikasi, sebuah alat operasi katarak yang canggih yang mampu melakukan tindakan operasi tanpa jahitan.

Dengan alat ini, risiko terjadinya efek samping akibat operasi sangatlah minimal, bahkan operasi dapat dilakukan dalam waktu 15-30 menit saja. Dan kabar baiknya, operasi ini sudah dijamin oleh BPJS kesehatan yang saat ini sudah dimiliki oleh sebagian besar masyarakat.
 
Jadi yang terpenting adalah kesadaran dan kemauan dari masyarakat untuk menjaga kesehatan mata. Untuk pelayanan di tingkat pertama, dapat dilakukan di puskesmas, dokter keluarga atau klinik fasilitas kesehatan tingkat pertama. Jika dicurigai adanya katarak, anda dapat meminta surat rujukan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pelayanan operasi. Di samping itu terdapat juga Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia, yang juga melayani operasi katarak.

Semoga artikel ini dapat membuka wawasan kita bersama akan pentingnya kesehatan mata dan membebaskan kita dari rasa takut akibat katarak. Goodbye katarak…


Penulis: dr. Yulia Susanto

Email : yuliasusanto86@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR