Nikah Muda Suatu Masalah?

Citizen Journalism

Jumat, 18 Januari 2019 | 13:40 WIB

190118135359-nikah.jpg

net

Ilustrasi.

PERNIKAHAN adalah upacara pengikatan janji nikah yang di rayakan atau dilaksanakan oleh dua orang yang dimaksud meresmikan ikatan pernikahan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakan bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan.

Di dalam setiap hubungan mahluk hidup menikah adalah suatu keharusan yang harus dijalankan karna adanya ikatan tersebut akan mendapatkan keturunan yang menjadi penerus generasi. Menikah bukanlah hal yang mudah karna menjalin hubungan antara dua orang yang mempunyai perbedaan latar belakang, opini, perasaan dan menjadikan satu tidak semudah yang kita bicarakan tetapi harus kuat mental secara lahir dan batiniah.

Batas usia ideal menikah muda yang ditetapkan oleh UU nomor 1 tahun 1974, Menikah baru diperbolehkan jika anda berusia 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita, Tak mengherankan jika pernikahan di usia muda sudah menjadi pemandangan biasa di negri ini, bahkan terkesan hampir dimuliakan. Ironisnya remaja akhir bukanlah rentang usia menikah yang paling ideal.

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pernikahan dini di antara remaja usia belasan akhir hingga 20-an awal banyak terjadi atas alasan adat atau kehamilan di luar nikah. BKKBN juga melaporkan, lebih dari 50 persen pernikahan dini berakhir dengan perceraian. Pasalnya, banyak anak remaja yang belum cukup dewasa (dalam hal kematangan cara berpikir untuk menyelesaikan masalah) dan kurang berpengalaman untuk menghadapi konflik rumah tangga, yang tentu berbeda total dari pertengkaran saat masa pacaran.

Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) menilai, pernikahan usia belia berpotensi meningkatkan angka putus sekolah dan kemiskinan akibat perampasan hak anak untuk meraih pendidikan dan berkembang. Anak remaja pada umumnya belum memiliki keuangan yang stabil dan belum yakin benar soal karir dan masa depan belum lagi masih harus dihadapkan dengan tekanan dari  orangtua, sekolah/kuliah.

Selain itu, ada imbas yang cukup memberatkan dari perkawinan dini pada masalah kesehatan reproduksi perempuan remaja. Pernikahan usia muda diketahui meningkatkan resiko kegugurran, kematian bayi, kanker serviks, penyakit kelamin, hingga gangguan mental akibat tekanan social untuk memikul tanggung jawab orang dewasa di usia yang masih belia.

Kapan waktu yang tepat untuk menikah? Semua kembali ke kamu dan pasanganmu.

Menikah di usia muda dan tua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kelebihan dari menikah muda (dilansirkan BeautyJournal by Sociolla, 12 July 2018 by Andira Kristia).

1. Kondisi fisik yang ideal bagi seorang wanita untuk memiliki anak

Bagi seorang wanita, usia di bawah 30 tahun merupakan waktu yang paling ideal untuk memiliki anak. Hal ini dikarenakan setelah melewati usia 30 tahun, disebutkan sel telur yang dihasilkan sudah tidak secemerlang jika Anda berusia di awal 20-an.

Karena itulah, dengan kondisi kesehatan yang masih prima, wanita berusia di bawah 30 tahun secara fisik lebih siap untuk mengalami kehamilan dan lebih aman saat melahirkan sehingga kesehatan si wanita dan bayinya lebih terjamin.

2. Kesenjangan usia yang tidak terlalu besar antara orangtua dan anak

Hal yang satu ini seringkali dijadikan alasan utama seseorang untuk menikah di usia muda. Seringkali, mereka menginginkan kesenjangan usia yang tidak terlalu besar di antara anak dan orang tua.

Hal ini memungkinkan Anda sebagai orang tua untuk mengikuti tumbuh kembang anak secara intens sejak kecil dan bisa menemani mereka hingga di hari-hari tua Anda. Selain itu, masalah pendidikan anak-anak juga menjadi alasan yang mendasari ini.

Ada beberapa pasangan yang sudah mulai mempertimbangkan masa depan pendidikan anak-anak mereka nantinya dengan menghitung usia pensiun dalam rangka menabung biaya pendidikan anak-anak.

3. Saling mengoreksi diri menuju pribadi yang lebih dewasa

Jika Anda dan pasangan memutuskan untuk menikah di usia muda, maka baik Anda dan pasangan sama-sama memiliki kesempatan untuk mengoreksi diri satu sama lain menuju pribadi yang lebih matang dan dewasa. Tidak ada rumah tangga tanpa adanya bumbu-bumbu konflik, hal tersebut merupakan tantangan bagi Anda dan pasangan untuk belajar bertanggung jawab. Jika konflik dapat dikelola dengan baik dalam usia muda, tentu saja hal tersebut bisa menjadi nilai plus agar fondasi pernikahan Anda berdua semakin kuat kedepannya.

Kekurangan menikah muda:
 
1. Kondisi mental dan psikologis yang masih belum matang

Memasuki usia 20 tahun, itulah saat transisi dimana seseorang mulai belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri terlepas dari campur tangan orangtua. Saat Anda memutuskan untuk menikah muda, Anda tidak hanya belajar untuk bertanggung jawab pada diri Anda sendiri, tetapi juga bertanggung jawab pada diri pasangan Anda.

Padahal, di usia ini terkadang cara berpikir seseorang masih belum matang dan belum bisa memahami apa tujuan hidup yang sebenarnya. Seringkali, baik pria dan wanita, terjebak di dalam situasi ini dan saat mereka memutuskan untuk menikah muda, jalan pikiran mereka masih belum matang sehingga ada kemungkinan rumah tangga tidak berjalan dengan stabil.

2. Waktu untuk mengeksplorasi diri menjadi terbatas

Usia 20 tahun adalah usia dimana biasanya seseorang mulai mengeksplorasi diri serta menambah pengalaman di tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Bagi para wanita yang memutuskan untuk menikah muda, mereka rela mengorbankan masa mudanya untuk mengurus keluarga dan membesarkan anak-anaknya. Sementara itu, wanita lain yang berusia sama masih bisa bersenang-senang bergaul dengan teman-teman yang sebaya.

3. Sulit menyesuaikan dengan kehidupan setelah menikah

Jika tidak dilandasi rasa cinta yang betul-betul mantap dan keyakinan yang kuat, pasangan yang menikah muda rentan akan perselingkuhan dan perceraian. Setelah menikah, biasanya Anda dapat mengenali karakter pasangan yang sesungguhnya. Seringkali perubahan tersebut tidak sesuai dengan karakter yang Anda lihat saat masih berpacaran, begitu manis dan sempurna. Jika Anda dan pasangan tidak dapat mengakomodasi perubahan, hal tersebut malah dapat membuat depresi dan tidak bahagia akan pernikahan Anda.

Bukan Masalah

Ternyata menikah muda bukanlah suatu masalah karena masih banyak contoh pasangan muda yang berhasil dalam menikah muda, ini adalah contoh pasangan yang berhasil menikah muda.

- Rachel Vennya dan Niko Hakim Ungkap Kiat Nikah Muda Harmonis (Dilansir dari cantika.com)



Selebgram Rachel Vennya dan Niko Al Hakim memutuskan menikah di usia muda. Niko menikahi Rachel Vennya di usia 23 tahun, usia yang terbilang cukup muda bagi laki-laki untuk menikah. CEO Sate Taichan Goreng itu menikahi Rachel Vennya pada Januari 2017 setelah tiga tahun menjalin kedekatan.

Menikah muda kini seolah menjadi tren. Putra Arifin Ilham, Alvin Faiz, menikahi Larissa Chou di usianya yang masih 17 tahun. Ada pula, Taqy Malik yang memutuskan menikahi putri pengacara Sunan Kalijaga, Salmafina, di usia 20 tahun. Kendati sekarang Taqy Malik dan Salmafina sudah berpisah, keduanya berani menikah muda.

Rachel Vennya dan Niko Hakim mengatakan sejatinya usia bukanlah masalah untuk menikah. Sebab, kunci menjaga keharmonisan rumah tangga adalah memelihara komunikasi yang baik. "Insya Allah kalau komunikasi berjalan dengan baik semua akan baik-baik saja," ujar Niko Hakim.

Senada dengan Niko Hakim, Rachel Vennya menambahkan, saling pengertian dan bersikap sedewasa juga menjadi jurus menjaga keutuhan rumah tangga. "Tapi semua itu awalnya pada komunikasi yang baik," kata Rachel.

- Pernikahan Alvin Faiz dan Larissa Chou (Dilansirkan hipwee.com dan liputan6.com).


Alvin Faiz melangkah ke pelaminan di umur yang mungkin bagi sebagian orang terlalu muda untuk menikah. Ya, dia memang baru 17 tahun. Meskipun demikian, dia telah berhasil meyankinkan si ayahanda mengapa dia lebih baik menikah di usia yang sedini ini.

Terkait dengan pernikahan anaknya, Ustad Arifin Ilham berkata; Anakku, Insya Allah engkau generasi Robbani untuk agama mulia ini, umat Rasulullah, negerimu dan keluargamu. Abi tidak rela api sekecil korek api sekalipun menyentuh tubuhmu nak, apalagi api neraka jahanam, inilah yg membuat abi buka jalan pernikahanmu, krn ingin Alvin, abi dan kita semua selamat, abi tidak ingin hati, pikiran, mata, telinga Alvin berbuat ma’siyat,

Menikah muda adalah salah satu cara untuk menghindari perbuatan zina. Apalagi, saat ini ia melihat pergaulan bebas anak muda zaman sekarang sudah kelewat batas. Namun buat anak-anak muda yang ingin mengikuti jejaknya untuk menikah muda, Muhammad Alvin Faiz memberikan sedikit wejangan, apa saja sih?

"Saya bukan memprovokatif, saya menyarankan untuk nikah muda, tapi harus didukung dengan mental dan persiapan. Bukan karena nafsu belaka," Tak hanya mental yang perlu dipersiapkan, ekonomi juga perlu dipikirkan. Tujuannya, agar setelah menikah mereka bisa menafkahi keluarga sendiri tanpa campur tangan orangtua. Ini berlaku, terlebih untuk laki-laki.

Menurut hasil wawancara dari pasangan muda yang berhasil dalam menikah muda bernama Nikeni dan Aldo. Nikeni berbagai pengalaman dengan saya menikah muda tidak seburuk pemikiran orang orang yang diluar sana.

“pernikahan yang saya jalani dengan suami saya saat usia saya berumur 17 tahun, kami berpacaran sejak saya berumur 14 tahun saya satu smp dengan dia awalnya dia hanya teman saja, seiring berjalannya waktu perasaan saya dari hari ke hari bertambah saya memiliki rasa lebih dari sekedar teman dan dia pun begitu. akhirnya dia dan saya memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman dan berlangsung selama 4 tahun berpacaran, kedua orang tua kami menyuruh kami untuk menikah karna dari pada membuat gossip atau berfikiran negative lebih baik untuk diperjelas saja hubungannya,” ujar Nikeni.

Nikeni menambahkan, “Awalnya dari keluarga dari mama saya jujur aja mengalami kontra karna mengapa cepat sekali memutuskan untuk menikah setelah SMA sedangkan lebih baik menikah ketika mempunya gelar atau lulus sarja akan lebih baik dilihat orang diluar sana karna kalau menikah di umur segitu banyak sekali opini buruk ada yang bilang saya sudah hamil duluan atau saya sudah pergi liburan berdua dengan pacar berarti sudah melakukan hal hal yang dilarang norma agama, saya merasa kesel awalnya dan sempat down dengan opini buruk tersebut toh mama saya aja setuju masa harus mendengar ocehan buruk dari keluarga yang lain, akhirnya mama saya bilang yaudah ini hidup kamu dan kamu sudah besar dan kamu harus bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah”.

“Dari situ saya merasa bangkit kembali dan memikirkan untuk proses pernikahan, dan akhirnya pernikahan kami pun terjadi prosesnya berjalan dengan lancar dalam pernikahann kami permasalahan yang saya hadapi setelah pernikahan normal seperti pasangan lainnya dan sekarang saya dikaruniai seorang anak perempuan dan saya hidup bahagia, menurut saya menikah muda itu tidak perlu harus melihat dari segi umur tetapi dari kesiapan dari antar pasangan yang membuat hubungan bisa dijalani dan dilalui bersama sama dan membuat komitmen yang mana dari belah pihak harus menyetujui masing masing,” ujar Nikeni.

Ini beberapa kiat untuk mecapai penikahan Bahagia seperti dilansirkan pasanganbahagia.com

1. Saling Mencintai

Merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia. Syarat ini berlaku bagi semua orang. Bagi pernikahan baru ataupun pernikahan yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya. Berlaku bagi pernikahan yang didapat karena dijodohkan ataupun tidak. Mencintai pasangan adalah hal yang harus Anda lakukan. Anda harus mencintai pasangan yang Anda nikahi. Menikahi orang yang dicintai adalah cita-cita hati. Namun mencintai orang yang dinikahi adalah kewajiban hati. Cintai pasangan Anda dengan setulus hati Anda.

Dalam berumah tangga, saat baru memulai kehidupan baru tentu saja gelora cinta masih sangat besar dan mengapi-api. Apalagi jika Anda memang saling suka sebelum Anda memutuskan menikah.  Rasa cinta Anda terhadap pasangan masih membuat kalian berduia merasa dunia bagai milik berdua. Namun sampai kapankah perasaan itu akan bertahan?
Berusahalah untuk pertahankan rasa cinta Anda. Walaupun dalam kehidupan pernikahan rasa cinta itu akan turun naik, Anda harus selalu menjaga cinta Anda agar selalu ada dan utuh. Berusahalah agar rasa cinta tetap bisa Anda berikan kepada pasangan Anda.

2. Menerima Kekurangan Pasangan Anda

Nobody is Perfect! Anda harus menanamkan hal ini pada diri Anda. Bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna. Terima kekurangan pasangan Anda apapun itu. Baik masa lalunya, sikapnya dan apapun yang ada pada dirinya.

3. Jangan Mengubah Pasangan Anda

Jika Anda adalah pasangan baru tentu saja kalian sedang berada pada tahap saling menyesuaikan. Mengetahui bahwa pasangan memiliki banyak kekurangan, sabarlah menghadapinya. Kekurangan yang terdapat pada diri pasangan Anda, jangan berpikir untuk mengubahnya. Jangan pernah berpikir untuk mengubah pasangan Anda.

Karena hal itu hanya akan membuat hubungan dengan pasangan Anda menjadi renggang. Berusaha untuk mengubah seseorang bukanlah jalan terbaik untuk memecehkan solusi yang sedang Anda hadapi.  Mungkin, ada banyak sekali kekurangan yang ada pada pasangan Anda, dan Anda ingin sekali merubahnya.

4. Menjaga Komunikasi

Sebagai pasangan muda yang menginginkan pernikahan bahagia, Anda dan pasangan harus bisa menjaga komunikasi meskipun untuk hal yang simpel. Misalnya Anda menanyakan bagaimana pekerjaannya dikantor, apa saja yang dia kerjakan, dan pertanyaan sepele seperti “Apakah kamu sudah makan, sayang?”

Pertanyaan simpel seperti itu mungkin akan terlihat sepele, namun percayalah, dari hal kecil seperti itu yang akan menguatkan hubungan Anda dengan pasangan Anda. Perhatian Anda akan membuatnya merasa nyaman setiap hari.

Jadi Nikah Muda Suatu Masalah?

Menurut penelitian saya, saya adalah orang yang mendukung menikah muda jika ada pasangan yang ingin menikah muda, karna menurut saya kalau sudah siap secara lahir dan batin, keluarga pun sudah menyetujui buat apa masih menunggu. Karena pernikahan itu di landasi dengan cinta bukan keterpaksaan pernikahan itu adalah sesuatu yang mulia karna menghindar dari zina, menghindari omongan orang diluar sana yang kurang baik. Jadi disini saya menyetujui untuk menikah muda.  

Penulis:
Ghina Rani Bahrun
Mahasiswi London School Of Public Relations
ghinarani18@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR