5 Bentuk Kekerasan Dalam Pacaran Menurut Psikolog

Citizen Journalism

Kamis, 17 Januari 2019 | 18:56 WIB

190117190141-5-ben.jpg

dewiku.com

Ilustrasi

CINTA? Apa itu cinta? Rasa kasih sayang yang sangat luas dan ingin dirasakan oleh semua orang. Cinta bisa dimengerti sebagai ungkapan sayang seorang ibu pada anak, untuk sesama saudara kandung, teman dekat, dan juga, pada lawan jenis, yang pada nantinya memungkinkan untuk berlanjut ke tahap yang lebih serius, yaitu berpacaran, bertunangan, dan menikah. Ya, memang siklus ini sudah terjadi sejak dahulu kala, yang juga pada akhirnya dipakai sebagai cara untuk mendapatkan anak untuk melanjutkan keturunan.

Semuanya itu berawal dari masa saling mengenal antara 2 manusia yang berlawanan jenis, atau sering disebut dengan tahap PDKT (pendekatan), yang nantinya disaat kedua belah pihak setuju untuk saling berkomitmen satu sama lain, mereka akan menjalin hubungan atau yang biasa kita sebut dengan, berpacaran.

Tentu dari segala pilihan yang kita ambil, akan menghasilkan banyak hasil dan juga konsekuensi, mau hal yang positif ataupun negatif. Sebagian orang mungkin masih menganggap bahwa berpacaran hanyalah mainan saja, tetapi, alamiahnya, untuk sebagian orang lain yang mau serius mencari pasangan hidup dan bukan sekedar untuk mainan, akan sangatlah selektif dalam memilih pasangan mereka. Dikarenakan, pasangan yang sedang bersama mereka saat ini diharapkan akan dapat menjadi pasangan mereka seumur hidup, yang dapat saling menyayangi dan menjaga satu sama lain, juga membangun hubungan rumah tangga yang harmonis.

Sayangnya, pada saat ini juga banyak pasangan-pasangan muda yang sebegitu larutnya dalam rasa cinta sampai tidak bisa berpikir dengan menggunakan akal sehatnya lagi. Ya, masih banyak pasangan mereka yang bukannya mencintai mereka dengan tulus, menyayangi dan menjaga mereka dengan baik, tetapi malah saling menyakiti satu sama lain tanpa mereka sadari. Disini, kita akan membahas 5 hal yang dikategorikan sudah termasuk kekerasan dalam pacaran. Yuk, simak dan cari tahu apakah hubunganmu dengan pasanganmu sudah sehat? Ataukah tanpa kalian sadari, kalian menyakiti pasangan kalian sendiri dengan alibi atas nama cinta?

Menurut Nirmala Ika, seorang psikolog yang juga menjabat sebagai direktur di Yayasan Pulih, kekerasan dalam pacaran ada banyak bentuknya, dan beliau membagi menjadi 5 hal;

1. Kekerasan Verbal
Pastinya kalian sudah tahu bahwa verbal adalah kata-kata yang terucap dari mulut kita, tapi walaupun begitu, apakah kalian sadar bahwa mungkin kalian pernah atau malah sering melakukan hal ini kepada pasangan kalian? Entah dari sisi perempuan, maupun laki-laki, sudah sewajarnya manusia memiliki hati dan perasaan, yang mungkin dapat terluka karena ucapan kalian. Kata-kata semacam, “make up mu terlalu tebal, jadi kayak badut”, “potongan rambut mu aneh, kayak mangkok gitu” juga sudah bisa menyakiti perasaan pasangan kalian. Karena balik lagi, persepsi setiap orang berbeda-beda loh! Jangan samakan cara pikir kalian dengan pasangan kalian. Juga, untuk kalian yang sudah pernah melakukannya, jangan diulangi yuk, mungkin kalian tidak pernah tahu, tapi bisa saja pasangan kalian merasa sakit hati tapi memilih untuk memendamnya. Nanti kalau sudah sampai memuncak, bisa berabe loh! Bagi kalian yang masih melakukannya sampai sekarang, dan hanya menganggap itu sebagai candaan, ada baiknya kalian mulai merefleksikan diri kalian, apakah kalian yakin candaan kalian benar tidak melukai perasaan maupun harga diri pasangan kalian? Lain daripada itu, masih banyak kok candaan sehat lain yang bisa dipakai untuk saling bercanda daripada harus membuat pasangan kalian sakit hati.

2. Kekerasan fisik
Mungkin untuk hal yang satu ini lebih dapat kita sadari, karena sudah dapat jelas terlihat bila ada kekerasan fisik. Bila hal ini dilakukan di depan publik, publik juga mungkin akan membantu melerai dan mencegah kekerasan fisik ini terjadi lebih lanjut. Jangan biarkan pasanganmu melakukan hal ini ya, dimulai dari cubitan, pukulan, tamparan, atau sampai dorongan, semua itu sudah menandakan bahwa pasanganmu sudah tidak lagi menghargai kamu sebagai pasangannya. Beri tahu pasanganmu bahwa itu sakit, dan kalian tidak mau mereka untuk mengulangi hal yang sama lagi di kemudian hari. Jika suatu hari mereka sampai melakukan kekerasan lagi pada kalian, jangan segan-segan untuk tinggalkan pasanganmu. Masih banyak orang lain di luar sana yang bisa mencintaimu dengan tulus, dan juga menghargai kamu sebagai orang paling berharga di hidup mereka.

3. Kekerasan psikis
Kalian masih bingung hal seperti apa yang dianggap kekerasan psikis? Sebenarnya, perilaku mendiamkan pasanganmu sampai seharian atau bahkan lebih sudah dapat dikategorikan sebagai kekerasan psikis loh! Karena, perilakumu yang semacam ini akan membuat pasanganmu menjadi pusing, galau, dilema, serba salah, dan jadi bingung. Bisa jadi mereka menjadi memutar otak mencari tahu apakah ada hal-hal yang telah diperbuatnya yang mungkin menyakiti hatimu, atau bisa juga membuat dia menjadi rendah diri, merasa apakah jangan-jangan kamu merasa dia kurang potensial sebagai pasangan, membuat dia merasa kurang akan dirinya sendiri. Selain itu, apakah kalian bisa menebak hal apa yang sudah dipastikan akan melukai psikis pasanganmu? Ya, diselingkuhi adalah jawabannya. Tahu dengan mendengar dari teman, mengetahui hal ini sendiri, ataupun sampai pasanganmu yang jujur sendiri di hadapanmu, semua hal itu dapat dipastikan sudah melukai psikis pasanganmu. Kepercayaan yang sudah dia berikan kepadamu selama ini, runtuh secara seketika. Nantinya, pasanganmu bisa jadi sulit percaya orang lain, memilih untuk menutup diri, merasa tidak percaya diri akan dirinya sendiri, selalu memendam apapun yang dirasakan, dan masih banyak lagi efek samping yang dihasilkan dari diselingkuhi. Jadi, jika pasanganmu sudah sampai berani menyelingkuhi kamu, itu sudah menjadi tanda yang cukup untukmu meninggalkannya. Hal ini menandakan bahwa pasanganmu sudah tidak lagi memprioritaskan dirimu, dan semua omongan manis dan janji nya selama ini bahwa kamu adalah satu-satunya hanyalah buaian belaka.

4. Kekerasan dalam bidang ekonomi
Sadar ataupun tidak, budaya di Indonesia membuat setiap pihak laki-laki cenderung merasa bahwa membiayai pasangannya saat pergi kencan adalah sebuah keharusan. Dimulai dari pergi-pulang dianterin dan hanya pihak pria yang mengeluarkan kocek untuk biaya bensin, biaya makan, nonton bioskop, bermain di tempat rekreasi, sampai terkadang membelikan barang yang sudah di kode oleh pasangannya. Tetapi, apakah kalian tidak berpikir bahwa kamu menjadi menyusahkan pasanganmu secara tidak langsung? Uang jajan yang diberikan oleh orang tua yang sebelumnya hanya untuk dirinya sendiri, kali ini ia harus mengeluarkan biaya dua kali lipat lebih banyak hanya untuk bisa menyenangkan dirimu? Terlebih jika ia sudah bekerja, jadi, semua jerih payah yang membuat ia lembur bekerja siang-malam, hanya habis untuk membiayai kencan kalian? Yang idealnya, yang berkomitmen dan menyetujui untuk menjadi pasangan adalah kalian berdua, yang menandakan bahwa kalian ingin sama-sama berjuang untuk kebahagiaan diri kalian, dan bukan seorang diri. Untuk itu, yuk untuk selanjutnya, mulailah coba bergantian membayarkan biaya kencan. Selanjutnya, jika pasanganmu mulai meminta banyak dibelikan barang yang diinginkan, atau sampai meminta dirimu untuk membayarkan hutang-hutangnya, tagihan kartu kredit, pulsa, dan semacamnya, tolaklah mentah-mentah hal itu! Sudah jelas bahwa kamu hanyalah pasangannya saat ini. Jikalau masih dalam batas pacaran saja, pasanganmu sudah meminta hal yang tidak-tidak, bagaimana saat menikah nanti? Apa kamu mau hasil tabungan yang sudah kamu kumpulkan dengan susah payah, habis dalam seketika? Kalian harus pintar-pintar juga mengklasifikasikan dan membedakan hal-hal yang masuk dalam ranah ‘kebutuhan’ dengan yang hanya sekedar ‘keinginan’.

5. Kekerasan seksual
Ya, jika pasanganmu sudah memaksamu untuk melakukan hubungan seksual atau tindakan-tindakan berbau seksual lainnya, hal itu sudah dapat dikategorikan bahwa ia sudah melakukan kekerasan seksual padamu. Janganlah kamu mau menuruti keinginannya dengan bualan kata-kata manisnya, karena seharusnya jika cinta, dia bisa mengontrol dirinya dan mencintaimu dengan tulus tanpa meminta hal semacam ini. Jangan juga kamu mau dimanipulasi kata-kata olehnya, yang dikatakan bahwa jika kamu benar mencintainya, kamu harus memberikan dirimu seutuhnya padanya. Sadarlah, hubungan kalian masih dalam batas pacaran. Tidak menutup kemungkinan, pasanganmu selalu melakukan hal ini pada mantan pacarnya, dan setelah dia mendapatkan apa yang diinginkan, langsung orang tersebut ditinggalkan. Jangan sampai kamu meng-iya-kan sebuah ajakan yang akan kamu sesali di kemudian hari. Tindakan-tindakan seperti ancaman yang diberikan pasanganmu agar kamu mau menuruti permintaan semacam itu juga sudah dapat dikategorikan sebagai kekerasan seksual. Sebagai tambahan informasi, untuk pasangan suami-istri yang sudah menikah dengan sah pun, masih memungkinkan mendapatkan kekerasan seksual. Disaat salah satu pihak memaksakan kehendak seksualnya atas pihak lain pada saat pihak lain ini tidak menginginkannya, hal itu sudah dapat dikategorikan sebagai kekerasan seksual karena terdapat unsur paksaan di dalamnya. Oleh karena itu, terlebih lagi bagi kalian yang hubungannya masih dalam batas pacaran, tolak ajakan pasanganmu dengan tegas dan berikan dia pengertian bahwa ini bukanlah hal yang sepatutnya dilakukan oleh pasangan yang masih dalam berstatus pacar.

Nah, bagaimana? Setelah membaca ke-lima jenis kekerasan dalam pacaran diatas, coba renungkan lagi, apakah kamu ataupun pasanganmu pernah melakukan salah satu kekerasan seperti di atas atau bahkan lebih? Jika tidak, dari mengetahui hal-hal tersebut, diharapkan kalian bisa lebih bijak dalam berhubungan dan jangan sampai melakukan hal tersebut diatas dan menyakiti pasanganmu. Jika ya, refleksikanlah dirimu dan pasanganmu, diskusikan hal ini dengan baik-baik agar jangan sampai kejadian semacam ini terulang kembali nantinya. Akui kesalahanmu, dan minta maaflah dengan tulus pada pasanganmu. Setelah itu kontrol dirimu dan jangan sampai kamu mengulangi kesalahan yang serupa! Jika pasanganmu sempat menjadi pelakunya, katakanlah dengan baik-baik padanya bahwa apa yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan, dan kamu ingin agar dirinya mau mengubah perilakunya yang buruk. Jangan diulangi lagi ya. Mari kita sama-sama berjuang membahagiakan diri sendiri dan pasangan dengan cara yang sehat, dan bukan merusak.

Pengirim
Devyana Kurniawan
devyana.kurniawan@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR