Bunuh Diri? Bukan Solusi!

Citizen Journalism

Rabu, 9 Januari 2019 | 16:50 WIB

190109165421-bunuh.jpg

metrosiantar

Ilustrasi.

BUNUH diri? “Aku depresi!”, “Karna saya sudah tidak sanggup menafkahi keluarga”, “Di bully teman!”, ”Tidak ada tempat bercerita” dan masih banyak lagi alasan yang terlontar dari seseorang yang ingin mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Bukan hal yang tabu bagi masyarakat sekitar mendengar berita ini.


 

Populasi orang meninggal karna kasus dunuh diri setiap tahunnya semakin meningkat. Dalam satu hari setidaknya ada dua atau tiga orang melakukan percobaan bunuh diri.Kasus bunuh diri di tingkat Global, lebih dari 800.000 jiwa. 75% kasus bunuh diri terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pada tahun 2012 korban bunuh diri di Indonesia meningkat sebesar 10.000, sedangkan tahun 2010 korban bunuh diri sebanyak 5.000 dan Indonesia menduduki peringkat ke-114 di dunia, dengan3,7 per 100.000 penduduk yang memutuskan mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.

Tingkat bunuh diri tertinggi pada usia paruh baya mereka yang berumur di atas 35 tahun dan di bawah 58 tahun atau usia lanjut 60 tahun ke atas. Mereka mengakhiri hidupnya karna sudah merasa cukup, atau sudah ingin segera lekas pergi dari dunia.

Tingkat tertinggi kedua yaitu usia 15 tahun sampai 29 tahun. Mereka memutuskan untuk bunuh diri bukan karna faktor tunggal.

Perbedaan gender dalam kasus bunuh diri.Di dunia Barat pria tiga sampai empat kali lebih banyak, walaupun wanita empat kali lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri. Secara umum, pria melakukan tindakan bunuh diri mengunakan senjata api, pisau atau alat keras lainnya. Wanita cenderung memilih metode meracuni dirinya atau overdosis.

Secara luas pria lebih menyumbang angka kematian tertinggi akibat bunuh diri di banding wanita.

Metode yang di lakukan untuk bunuh diri sangat beragam, di Amerika Serikat senjata Api adalah metode yang paling sering di gunakan untuk mengakhiri hidup. Di negara berpengahsilan rendah dengan akses mudah ke sarana, ganung diri merupakan metode umum untuk mengakhiri hidup.

Metode lain yang digunakan untuk bunuh diri ialahmeracuni diri sendiri (dengan cara minum racun, obat-obatan terlarang, karbon monoksida), terjun bebas/lompat dari ketinggian, dan menusuk/menikam.

Dampak perbedaan budaya pada kasus ini juga berpengaruh. Contohnya di Korea Selatan mencapai 22 per 100.000 manusia, dengan tingkat tinggi secara umum di Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Budaya di Korea Selatan yang tidak mengenal istilah curhat sebagaimana umumnya di Indonesia maupun di negara lainnya, karena bagi mereka memalukan jika orang lain tahu menderitaan yang mereka alami.

Lokasi aksi bunuh diri menjadi salah satu trend. 10 lokasi di dunia yang terkenal sebagai tempat bunuh diri, yaitu Jembatan Sunshine Skyway, Florida, Beachy Head (Inggris), The Gap (Australia), Air Terjun Niagara (Amerika),  London Underground (Inggris), Corinth Canal (Yunani), Jembatan Golden Gate (Amerika), Hutan Aokigahara (Jepang), Gunung Mihara (Jepang) dan Jembatan Sungai Yangtze (Nanjing).

Tempat-tempat tersebut digunakan untuk melancarkan aksi mereka. Di Hutan Aokigahara, di perkirakan tahun 2010 ada 200 orang yang bunuh diri di dalam hutan. Jangan heran jika sedang berwisata di dalam hutan Aokigahara bertemu dengan mayat.

Di Indonesia juga terdapat lokasi yang sering di jadikan tempat bunuh diri, salah satunya yaitu Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung Kidul merupakan salah satu daerah dengan kasus bunuh diri tertinggi di Indeonesia. Data di tahun 2001 sampai 2017 tercatat 459 kasus bunuh diri dan setiap tahunnya ada 27 kasus.

Kasus bunuh diri memiliki latar belakang yang berbeda, tidak hanya satu faktor tunggal. Penyebabnya yaitu oleh faktor multifactorial, seperti psikologis, biologis dan sosial.

Psikologis adalah ganguan yang terdapat pada diri seseorang, biasanya seseorang mengangap hidupnya sudah tidak ada harapan dan tidak punya tujuan yang pasti. Mereka yang memiliki tingkat metal yang rendah akan menganggap bunuh diri sebagai ungkapan rasa frustasi.

Faktor Biologis adalah akibat gangguan kejiwaan secara genetik atau keturunan, yaitu depresi. Seseorang yang memiliki depresi biasanya tidak bisa berfikir secara jernih, bahkan terkadang mendengar suara-suara yang mengarahkan dia melakukan tindakan di luar logika. Sedangkan faktor sosial ialah mental yang terbentuk dari lingkungan sekitar, tuntutan gaya hidup semakin tinggi dan orang sangat mudah mengkomentari gaya hidup orang lain, sehingga dapat membunuh mental seseorang dengan cepat ataupun lambat.

Orang yang melakukan percobaan bunuh diri menganggap bunuh diri adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah hidupnya. Beberapa kasus bunuh diri yang terjadi tak lain karena tiga faktor diatas.

Dimana kalangan remaja bisa saja melakukan aksi bunuh diri karna kasus bullying, seorang suami bunuh diri karna tak sanggup membiayai keluarganya, dan seorang mahasiswa tingkat akhir bunuh diri karena tak sangup menyelesaikan skripsi.

Sasa seorang mahasiswa semester 3 di salah satu perguruan tinggi swasta Jakarta, bercerita tentang pengalamannya yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 2 kali. Penyadang MDD alias Major Depressive Disorder, tak malu menceritakannya.

Menurut Sasa, masyarakat Indonesia perlu pengetahuan dan edukasi tentang mental health, karena penyebab angka bunuh diri masih tinggi disebabkan oleh lingkungan yan tidak menerima seseorang dengan mental issue.

Pengalaman masa lalu yang pahit serta tekanan yang terus menimpa bersamaan dengan MDD yang ia derita, membuat otaknya terus berisik kata-kata “Sasa meninggal, Sasa meninggal” berulang-ulang kali. Membuatnya tanpa sadar melakukan percobaan bunuh diri.

Sempat bercerita tentang kondisi yang di alami kepada mama, namun tidak di respon dengan baik dan tidak terima membuatnya sedikit putus asa.

Namun keinginan Sasa untuk sehat dan menjadi normal kembali tak pernah padam. Melalui metode menghilang dari sosial media dan menyendiri untuk menenangkan diri sementara waktu, akhirnya Sasa memutuskan untuk berobat ke salah satu piskolog untuk memerikasa kondisinya.

Sekarang Sasa sudah bisa lebih mengontrol dirinya sendiri, dengan bantuan obat yang diberi oleh dokter dan mengikuti banyak aktifitas untuk mengalihkan bisikan yang terus bersuara di otaknya.

Lain halnya dengan Caca, dia seorang gadis berusia 19 tahun mencoba bunuh diri karena latar belakang keluarganya. Dari kecil Caca hidup dengan nenek dan ibunya, sampai usia 5 tahun ternyata ayah yang tak pernah dilihat dinyatakan meninggal dunia akibat sakit yang di derita.

Permasalahan baru saja muncul ketika keluarga besarnya selalu memojokkan Caca, tak pernah diangap ada dan tak pernah di perlakukan baik.

Semasa SMP Caca mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari temannya, di bully dan tak dianggap sudah menjadi makananya sehari-hari. Sampai suatu hari teman SMP Caca datang ke rumah dan mengotori seisi rumahnya, pulang begitu saja tanpa mempedulikan rumah yang telah mereka kotori.

Pelecehan sexual juga pernah di alami olehnya, dengan sepupu sendiri.

Karena berbagai faktor itu Caca memutuskan melakukan aksi bunuh diri dengan cara meminum racun. Merasa sendiri dan tidak ada yang bisa menjadi tempat berbagi cerita membuat ia ingin mengakhiri hidup. Namun aksi bunuh dirinya gagal, dan ia memilih untuk melukai diri sendiri (self injury) dengan cara menyelet paha dengan silet.

Waktu berlalu dan dia menyadari perbuatannya tidak benar, ia mulai menceritakan self injury yang ia lakukan kepada sang mama. Respon yang di berikan sangat baik membuat hubungan mereka sebagai ibu dan anak menjadi dekat dari sebelumnya. Aksi bunuh diri berusaha dihilangkan dari pikiran Caca, ia menemukan batterflyproject metode untuk membantu menahan dorongan melukai diri sendiri.

Kuesioner yang di lakukan sebagai salah satu metode survey menghasilkan data berikut; kalangan remaja usia 18 - 25 tahun sering mendengar kasus bunuh diri di Indonesia, dan dari 65.4 % mengangap bunuh diri bukan hal yang menganggu pikirian mereka. Namun jika di tanya bunuh diri untuk solusi menyelesaikan masalah, mereka tidak setuju.

Teman di sekitar kita rata-rata tidak pernah bercerita tentang keinginannya untuk bunuh diri. Mereka yang ingin bunuh diri juga tidak berani bercerita karna merasa malu. Alasan ini terjadi karna masyarakat Indonesia menganggap orang yang ingin melakukan percobaan bunuh diri adalah orang yang tidak dekat dengan tuhan, mereka yang memiliki banyak masalah tidak memiliki siapapun untuk cerita, keluara broken home, dan lain lain. Membuat orang tersebut tidak memiliki harapan untuk hidup.  

Pada akhirnya teman-teman yang bisa berbagai cerita kepada orang lain tentang dirinya yang pernah melakukan percobaan bunuh diri ialah orang yang sangat beruntung. Karna masih di beri kesempatan untuk hidup, untuk memaknai kehidupan dalam hal positif.

Ternyata bunuh diriadalah kejadian yang bisa terjadi kapan saja,dimana saja dan di sebabkan oleh berbagai latar belakang. Yang terpenting kita sebagai masyarakat tidak menutup kuping, mata serta pikiran ketika melihat orang di sekitar kita memiliki gelagat aneh. Sebab bunuh diri bisa di cegah lewat orang di sekitarnya.  

Di Indonesia sendiri ada komunitas untuk advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Dimana komunitas ini di tujukan untuk menjadi wadah bercerita dan mendapatkan rekomendasi professional seperti psikolog, psikiater, atau institusi kesehatan jiwa.

Seluruh pendamping sebaya adalah sukarelawan yang telah menjalani proses pelatihan pencegahan bunuh diri yang komprehensif selama beberapa bulan bersama. Komunitas  tersebut adalah Into The Light, berdiri sejak 2013.

Kementrian kesehatan juga menyediakan layanan kegawatdarurat dengan nomor 199 yang dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Layanan ini merupakan tindak lanjut kementrian kesehatan dalam menanggani kasus bunuh diri yang marak terjadi belakangan ini. Bagi warga diharapkan menghubungi nomor tersebut jika melihat orang yang ingin melakukan bunuh diri.

Sebenarnya kemenkes pada Oktober 2010 pernah membuka layanan konsultasi bagi pengidap depresi melalui nomor telfon 500-454, namun peminatnya semakin menurun dan terjadi ketidakedektifan antara biaya dan sumber daya. Oleh karena itu layanan ini di tutup dan di ganti dengan layanan kegawatdarurat.

Depresi atau stress merupakan salah satu faktor yang mendorong orang bunuh diri, ketika seseorang merasakan hal tersebut dan merasa putus asa sebaiknya jangan malu untuk minta tolong kepada teman untuk sekedar mendengarkan cerita atau jika tidak percaya dengan teman bisa ke piskolog untuk meminta saran.

Jika kamu melihat ada orang yang sedang mempertimbangkan ingin bunuh diri sebagaiknya kamu mulai mempelajari tanda dan gejala orang yang ingin bunuh diri, serta menghubungi dokter untuk tindak selanjutnya agar bunuh diri bisa di cegah. Karena bunuh diri bukan solusi mengakhiri masalah dan bukan satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakit.

Ada beberapa tanda dan gejala ketika orang ingin melakukan bunuh diri, seperti mengatakan soal kematian berulang-ulang kali “saya ingin cepat mati, sebaiknya saya tidak usah di lahirkan, atau saya ingin bunuh diri saja”.

Tanda lainnya membeli atau mencari benda-benda berbahaya, seperti senjata, benda tajam atau menyimpan banyak pill. Menarik diri dari lingkungan sekitar, tidak mau bersosialisasi atau berubah menjadi sangat emosional.

Selalu memikirkan tantang kematian, sekarat dan kekerasan. Merasa terjebak dan putus ada dalam menjalankan kehidupan. Mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang seolah-olah ia akan pergi selamanya, perubahan sifat menjadi selalu cemas dan gelisah terutama mengalami tanda-tanda sebelumnya.

Tanda-tanda bunuh diri tidak selalu sama pada setiap manusia. Ada yang menyatakan terang-terangan ingin melakukan aksi bunuh diri, dan ada pula yang menyimpan keinginan sendiri tanpa satu orangpun tahu. Keinginan bunuh diri pada remaja sering kali di anggap remeh oleh orang tua, permasalahan di sekolah ataupun kehilangan sahabat menjadi salah satu faktor.

Dalam beberapa kasus bunuh diri yang terjadi pada remaja ialah hal yang tidak mereka inginkan (depresi, konflik dengan teman atau keluarga, mendapat pelecehan fisik dan seksual, masalah dengan alcohol dan narkoba).

Cara untuk menghindari bunuh diri yaitu mendapat penangannan yang tepat, mencari pengobatan untuk gangguan mental, mendapat dukungan dari orang yang peduli denganmu, mungkin sulit untuk menceritakan pada orang lain tentang keinginan kamu soal bunuh diri, namun pastikan orang yang peduli dengan kamu tau kondisi kamu dan ada saat kamu membutuhka. Yang terakhir ingat perasaan bunuh diri bersifat semntara jika kamu saat ini merasa putus asa dan tak layak hidup, ingatlah dengan penanganan-penanganan yang kuat akan mengembalikan perfektifmu lebih baik, jangan bertindak terburu-buru atau intulsif.

Setiap orang di dunia pasti punya permasalahan hidup, besar atau kecilnya sudah di perhitungkan oleh sang pencipta sesuai dengan batas kemapuan setiap mahkluknya. Mendekatkan diri kepada Tuhan adalah bentuk syukur kita dalam menjalani kehidupan, jika sudah dekat dengan tuhan hati lebih merasa tenang dan di jaga oleh-Nya. Niat buruk untuk melakukan percobaan bunuh diri pun tak terpikirkan.

Faktor lainnya, memiliki sahabat untuk sekedar bertukar pikiran dalam menghadapi masalah. Memiliki kegiatan yang sosial agar kita melihat bertapa beruntungnya diri kita yang memiliki nasib yang baik. Kadang manusia memang harus melihat kebawah, agar tidak lupa sesungguhnya nikmat tuhan yang diberi kepada kita begitu besar.

 
Mulai sekarang maknai hidup kalian dengan hal yang positif! mulai mencintai diri kalian sendiri dengan perkataan baik untuk diri sendiri di setiap pagi hari. Mulai berolahraga untuk hidup yang lebih sehat, sibuki diri dengan berbagai hal positif, memperbanyak teman agar merasa tidak sendiri di dunia ini, mulai memperbaiki hubungan bersama keluarga, mulailah menatap langit kemudian senyum dan bersyukur masih bisa hidup di hari yang cerah ini.


Penulis:
Atina Rizki Sabila
Mahasiswi London School of Public Relations
arizkisabila@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR