Filsafat Pendidikan? Sepenting Itukah?

Citizen Journalism

Senin, 7 Januari 2019 | 16:17 WIB

190107162421-filsa.jpg

net

APA yang ada dibenak kalian ketika kalian mendengar kata filsafat? Banyak sekali yang beranggapan negatif terhadap filsafat sampai-sampai ada yang bilang filsafat itu ilmu yang menyesatkan.

Filsafat (dalam bahasa Arab adalah falsafah, dan dalam bahasa Inggris adalah philosophy) berasal dari bahasa Yunani. Kata ini terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta (love) dan ‘sophia’ kebijaksanaan (wisdom). Secara etimologis, filsafat berarti berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam artinya sedalam-dalamnya.S eorang filosof (philosopher) adalah pencinta, pendamba dan pencari kebijaksanaan.

Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerwadarminta merumuskan bahwa filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hukum dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti ‘adanya’ sesuatu.

Dari pengertian diatas mana kalimat yang menyesatkannya?

Kembali ke judul, filsafat pendidikan ya Filsafat pendidikan adalah salahsatu aspek yang harus kita pelajari sebagai calon guru karena Pada hakikatnya filsafat mengajarkan setiap orang untuk berpikir kritis dan mendalam tentang sesuatu. Hasil dari pemikiran dan pemahaman tentang sesuatu tersebut akan mengarahkan kepada pelakuknya untuk berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Menurut Mustadi (2015) Guru sebagai pendidik harus menyediakan kegiatan yang relevan dan konteks yang sangat bermakna bagi peserta didik.

Seorang guru yang memahami filosofis pendidikan akan memahami tujuan ia mendidik. Sehingga, dengan seksama ia akan memikirkan bagaimana siswanya belajar, apa yang harus dipelajari siswanya, bagaimana siswanya bisa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, bagaimana hasil belajar siswa bisa membangun sikap mereka, dan sebagainya.

Apalagi kita sebagai calon guru anak usia dini, dimana anak yang kita didik sedang dalam masa dimana mereka  berada pada perkembangan terbaik untuk fisik dan otak anak.

Contoh kasus seperti ibu Handayani salah satu guru di TK Islam Alam Nusantara di Cijambe. Beliau pernah mengajar anak yang susah diatur, tidak mau sekolah, anak itu tidak mau pakai seragam, tidak mau belajar dalam ruangan dan anak itu mempunyai kecerdasan.

Anak itu hanya ingin belajar diluar, ingin bermain bersama ibunya. Setelah diselidiki selama sebulan ternyata penyebabnya adalah dari pola asuh orang tuanya.

Setelah ibu Handayani menemukan penyebanya ibu Handayani melakukan metode-metode yang ampuh untuk membuat anak itu mau belajar dan bergabung dengan anak yang lain dan ternyata berhasil. Dan hasilnya sekarang anak itu sudah kelas 3 SMA dan menjadi salahsatu murid yang berprestasi.

Referensi :

Nur A. Fadhil Lubis, 2015 , Pengantar Filsafat Umum , Perdana Publishing
https://www.academia.edu/26508560/fungsi_filsafat_pendidikan_bagi_pendidik.docx


Penulis :

Ajeng Mariam Ulfah
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Cibiru
ajengmulfah9@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR