70 Persen Guru di Indonesia Tidak Kompeten

Bandung Raya

Senin, 11 November 2019 | 16:25 WIB

191111161543-70-pe.jpg

Hj. Eli Siti Wasliah

Konferensi pers Seminar Nasional "Revitalisasi Profesionalisme Guru", di Kampus UPI, Jalan Setiabudi Kota Bandung, Senin (11/11/2019).


SEBANYAK 70 persen guru dinilai tidak kompeten. Hal ini berdasarkan hasil uji kompetensi guru (UKG) yang diselenggarakan kementerian pendidikan dan kebudayaan. Ini mencerminkan bahwa guru masih banyak yang belum profesional.

Atas dasar itu, Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) Komisariat Departemen Pendidikan Sejarah akan menggelar Seminar Nasional "Revitalisasi Profesionalisme Guru" pada 7 Desember 2019 mendatang.

"Selama ini salah satu penilaian keprofesionalan guru adalah UKG. Namun, ada pakar yang menilai bahwa UKG tidak valid untuk mengukur kompetensi guru," kata Ketua Panitia, Luqman Amin saat konferensi pers di Kampus UPI, Jalan Setiabudi Kota Bandung, Senin (11/11/2019).

Oleh karena itu, kata Luqman, pihaknya ingin membedah dan mengkaji lebih dalam kualitas dan profesional guru melalui seminar nanti. Pihaknya akan menghadirkan nara sumber dari berbagai sisi. Di antaranya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), pakar pendidikan, Ketua PGRI dan praktisi pendidikan internasional.

"Kami akan membahas soal keprofesionalan guru dari berbagai sudut pandang. Baik pemerintah sebagai pemegang kebijakan, PGRI yang mewakili guru sebagai pelaku dari kebijakan tersebut, juga palar yang menilai dan mengkritisi, dan dari pakar pendidikan internasional. Dari hasil seminar ini akan dijadikan rekomendasi kepada menteri baru," katanya

Dijelaskan, menurut pendapat pakar pendidikan UPI, Prof. Said Hamid Hasan bawah UKG tidak valid untuk mengukur kompetensi guru. Sebab kompetensi itu diartikan dalam dua hal, yakni kualifikasi yang diperoleh melalui pendidikan dan hasil penelitian melalui pengamatan dan wawancara. Bukan melalui UKG.

Sekretaris IKA Pendidikan Sejarah UPI, Najip Hendra mengatakan, hingga saat ini jumlah pendaftar seminar mencapai 848 orang. "Peserta ini di luar ekspektasi kita. Awalnya, kita hanya menyediakan tempat untuk 250 orang. Tapi, ternyata membludak," katanya.

Ia menambahkan rekomendasi hasil seminar akan sangat penting di tengah kegamangan para guru terhadap kehadiran Mendikbud baru. Karena Mendikbud bukan berlatangbelakang pendidikan.

"Kehadiran Nadiem Makarim sebagai menteri yang membidangi pendidikan dan keguruan dianggap akan menisbikan peran guru, karena para guru menganggap akan ada pengarusutamaan teknologi dalam proses pembelajaran," jelasnya.

Menurutnya, Mendikbud masih dalam konfirmasi untuk hadir dalam seminar nanti. Kendati demikian, hasil rekomendasi dari seminar ini tetap akan disampaikan kepada Mendikbud.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA