Cegah Erosi, Sekelompok Pemuda Gerakkan Tanam Pohon

Bandung Raya

Selasa, 5 November 2019 | 00:44 WIB

191105004601-cegah.jpg


HUJAN telah mulai mengguyur Kawasan Bandung Raya. Ketika banyak orang mulai mengkhawatirkan dampak banjir dari guyuran hujan, sekelompok pemuda yang bergiat dalam pertanian Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Toaci) memilih bertindak mengambil langkah konkret dengan menggerakkan para petani menanam kelor.

Yayan Hadian, Ketua Taoci  mengatakan bahwa ia telah lama menunggu musim hujan. Begitu hujan memasuki pekan kedua, Yayan bersama teman-temannya, Huda, Misbah, Hamid, Rizky mengundang para petani untuk mendapatkan sosialisasi penanaman bibit kelor (moringa oleifera).

“Kemarau tahun ini panjang dan kami sibuk membibit kelor. Sekarang sudah cukup besar dan musim hujan membuat kami masuk ladang untuk menanam kelor dan tanaman lain,” katanya, Minggu, 3 November 2019 di Sekebalingbing Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan seusai membagikan ratusan bibit kelor kepada petani.

Ditanya mengapa memilih kelor, Yayan mengatakan, kelor merupakan tanaman sayuran yang tidak berdampak pada erosi. Selama ini menurutnya para petani sering dituduh merusak lingkungan karena menanam sayur. Padahal menurut Yayan bukan salah jenis sayurannya, melainkan salah model pertaniannya.

“Kalau jenis sayuran saja yang dominan, bisa berakibat erosi. Tapi kalau beragam jenis sayur, seperti tanaman sayuran seperti kelor, sayuran nangka, sayuran pete, sayuran jengkol, termasuk sayuran rebung bambu, tentu akan menjadi lain urusan,” jelas mantan sopir truk yang kini bergiat aktif bertani di bawah bimbingan Yayasan Odesa Indonesia ini.

Yayan menegaskan, budidaya sayuran bukan hal yang patut disalahkan karena petani terbiasa menanam sayur dan sayuran merupakan tanaman pangan yang dibutuhkan masyarakat. Hanya saja selama ini tidak ada gerakan bantuan bibit tanaman lain seperti buah-buahan, atau bibit kopi sehingga petani hanya mau menanam sayuran.

“Saya bisa membuktikan petani itu mau menanam tananam yang beragam asalkan didukung oleh pembibitan atau bantuan bibit dari luar daerah. Terbukti setiap pekan saya diminta bibit tanaman keras oleh para petani.  Mereka senang menanam sukun, jeruk, nangka, pete, jengkol, dan tanaman tinggi lainnya,” jelasnya meyakinkan.

Gerakan pertanian ramah lingkungan yang digerakkan oleh Yayan Hadian dkk tersebut kini semakin meluas. Jika pada tahun 2016-2018 masih sebatas di Desa Cikadut dan Mekarmanik, pada tahun 2019 ini melebar ke beberapa desa lain seperti Mandala Mekar, Mekarsayulu, Cimenyan, Ciburial dan Punclut di Kabupaten Bandung Utara.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA