Banyak Bangunan Cagar Budaya di Bandung Diincar para Investor

Bandung Raya

Selasa, 22 Oktober 2019 | 11:44 WIB

191022114650-banya.jpg

kiran jakarta

BANYAK bangunan cagar buday di Kota Bandung yang diincar oleh para investor untuk dijadikan tempat usaha. Mereka mengincar bangunan cagar budaya ini bukan karena nilai sejarahnya tetapi karena lokasi.

"Hal ini dikarenakan minimnya sosialisasi undang-undang cagar budaya pada para pemilik gedung serta para pemangku kebijakan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung," ungkap David Bambang Soediono, salah seorang anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung pada Sosialisasi Perda No. 7 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya Kota Bandung, di gedung Mandala Saba Dr. Djoendjoenan, Pasca Sarjana Universitas Pasundan, Jln Sumatera 41 Bandung, Senin (21/10/2019) kemarin.

David pun menyebutkan, buruknya koordinasi birokrasi menjadi salah satu kendala penyelamatan Bandung Cagar Budaya di Kota Bandung. Berdasarkan Perda Kota Bandung No 7 Tahun 2018 tentang Penetapan Bandunan Cagar Budaya, di Kota Bandung tercatat 1.759 Bangunan Cagar Budaya dan 70 situs serta 26 struktur di 24 kawasan.

“Bila dibandingkan dengan daerah atau kota-kota besar di Indonesia, buruknya koordinasi antar birokrasi di Kota Bandung menjadi penyebab banyaknya bangunan cagar budaya yang hilang atau rusak. Hal ini sangat dirasakan dalam beberapa tahun belakangan ini banyak kasus pengrusakan, perobohan dan pemusnahan serta alihfungsi bangunan cagar budaya di Kota Bandung,” jelas David.

David pun mencontohkan, renovasi bangunan di Jln Bengawan dan Jln Tamblong setelah melakukan rekomendasi TACB, namun begitu bangunan selesai direnovasi tidak sesuai dengan rekomendasi. Selain itu, pemilik bangunan yang mencuri start sebelum rekomendasi dikeluarkan dalam kondisi pembangunan sudah selesai dilaksanakan, seperti di Jln Cipaganti dan Jln Lombok.

“Buruknya kebijakan dan ketidaktahuan birokrat juga terjadi pada pembangunan Taman Pramuka yang menyalahi garis sepadan dan juga Gedung MUI. Kasus yang terbaru adalah perubuhan gedung sekolah SDN Ciujung dan SDN Ciateul, dimana seharusnya pemerintah daerah harus memberi contoh, tapi nyatanya justru contoh yang salah,” ujar David.

Namun pelanggaran-pelanggaran tersebut kata dia, tidak lantas membuat Pemerintah Kota Bandung memberikan sanksi. "Akibatnya pelanggaran pun terus terjadi, dan bangunan cagar budaya yang jadi korbannya," katanya.

Namun David juga mencontohkan keberhasilan sejumlah instansi dan lembaga yang melaksanakan rekonstruksi dan renovasi sesuai prosedur. Contohnya bangunan Sarinah Jln Braga, gedung Nedhandel Bank Mandiri Jalan Asia Afrika, dan beberapa bangunan sekolah.

“Saat ini kita menunggu hasil pembangunan dari Dezon dan Waskita Karya di Jalan Asia Afrika, apakah setelah direkomendasi sesuai dengan rekomendasi,” tutur David.

Selain David Bambang Soediono, hadir sebagai pembicara Sosialisasi Perda No. 7 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya Kota Bandung, Ketua TACB Bandung Harastoeti Sudibyo, Benyamin Harits (Administrator Publik dalam Pelestarian Cagar Budaya), Rizky A Adiwilaga, dan Deny Zulkaidi.

Hingga kini berdasarkan Perda Kota Bandung No 7 Tahun 2018 tentang Penetapan Bandunan Cagar Budaya, di Kota Bandung tercatat ada 251 Bangunan Cagar Budaya golongan A, 447 golongan B, 1061 golongan C dan 70 situs serta 26 struktur yang terbagi dalam 24 kawasan.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA