PAD Kota Bandung dari Sektor Parkir Masih Minim

Bandung Raya

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:10 WIB

191021181225-pad-k.jpg

prfm

Ilustrasi.


PENDAPATAN Asli Daerah (PAD) dari sektor parkir masih minim, DPRD Kota Bandung mengkritisi mesin parkir. Pasalnya Pemkot Bandung telah menganggarkan Rp 88 miliar, untuk pengadaan sekitar 445 mesin parkir.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung, Agus Gunawan mengatakan, PAD dari sektor parkir, baru menyumbangkan Rp 6 miliar. Padahal berdasarkan data yang dimilikinya, dapat mencapai Rp 20 miliar dari sektor tersebut.

"Jadi keberadaan mesin parkir ini masih belum efektif, dalam meningkatkan PAD dari sektor parkir," ungkapnya di Gedung DPRD Kota Bandung, Jln. Sukabumi, Kota Bandung, Senin (21/10/2019).

Menurutnya, ratusan mesin parkir tersebut, sudah mulai beroperasi sejak 2018 lalu, namun masih belum memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan PAD Kota Bandung.

"Ada dengan tidak adanya mesin parkir, PAD kita tetap dan tidak ada peningkatan," ujarnya.

Melihat perkembangan tersebut, berdasarkan pertemuan terakhir pihaknya dengan Dinas Perhubungan, maka untuk tahun 2020, menargetkan Rp 13 miliar. Akan tetapi, diharapkan bisa lebih dari Rp 20 miliar.

Diakuinya bahwa keberadaan mesin parkir saat ini mubadzir dan banyak yang rusak. Maka, Ia mendukung jika pengelolaan mesin parkir tersebut, dikerjasamakan dengan pihak ketiga (swasta).

"Kalau mau dipihak ketigakan, maka mesin parkir yang rusak diperbaiki dulu. Saya berharap agar semua titik parkir dipasang mesin parkir untuk mengurangi tingkat kemacetan di badan jalan," ucapnya.

Disinggung terkait sosialisasi, lanjutnya, pihaknya mendorong agar Dinas Perhubungan lebih gencar untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Terutama terkait cara pembayaran dan edukasi kepada juru parkir.

Sementara itu, untuk mengurangi kemacetan, Agus menambahkan agar penerapan biaya parkir dalam gedung lebih murah, daripada parkir di badan jalan yang menggunakan mesin parkir.

Hal tersebut, guna mendorong pengendara memarkirkan kendaraannya di dalam gedung seperti di mall-mall, perhotelan maupun di tempat lainnya.

"Sekarang kan yang terjadi malah sebaliknya, masih banyak pengendara enggan memarkirkan kendaraannya di mall-mall atau di perhotelan karena terlalu mahal. Kalau banyak yang parkir di dalam gedung, tentu membantu mengurangi tingkat kemacetan," tambahnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA