Lulus ITB, Anak Sopir Taksi Ini Raih IPK Tertinggi

Bandung Raya

Senin, 21 Oktober 2019 | 12:07 WIB

191021124036-lulus.jpg

Asep Awaludin


KEBERHASILAN memang hak semua orang, tidak pernah melihat starta maupun kemampuan ekonomi keluarga. Adalah anak seorang sopir taksi, Muhammad Tio Faizin (21) lulusan Meteorologi Geofisika atau Kebumian ITB meraih nilai tertinggi 3,76 pada wisuda Pertama Tahun Akademik 2019/2020.
Putra pertama dari pasangan Adi Gunawan dan Iswati ini bisa dibilang perjalanan pendidikannya selalu mendapatkan beasiswa. Di mulai saat ia meraih beasiswa selama tiga tahun dari Blue Bird di bangku SMA, kemudian lolos menjadi mahasiswa ITB berkat jalur bidik misi.
Tio mengatakan, program bidik misi ITB bukan hanya mensyaratkan kepintaran dari calon mahasiswa saja melainkan dilihat dari kemampuan ekonomi keluarga misalnya profesi orangtua dan kondisi rumah tinggal.
"Alhamdulillah di ITB  gratis biaya kuliah selama 4 tahun," katanya kepada wartawan ketika ditemui di Sabuga ITB, Kota Bandung, Senin (21/10/2019).
Menurut pria kelahiran 24 April 1998 ini mengaku sebelum lulus kuliah sering mendapakan penawaran pekerjaan dari beberapa perusahaan di Jakarta dan Bandung. Sedangkan, Blue bird yang pertama kali memberikan beasiswa belum menawarkan perkerjaan. 
"Saya ingin mencari pekerjaan sendiri. Sesuai dengan bakat saya dan kemampuan yang dimiliki,"ungkapnya
Ke depan, kata Adi, ingin melanjutkan sekolah jenjang S2 di Jepang. Namun, sebelumnya Tio ingin bekerja terlebih dahulu di dalam negeri untuk menyalurkan keahlianya lewat ilmu yang di dapat selama kuliah di ITB.
Adapun orang tua Tio, Adi Gunawan mengaku bangga mampu menyekolahkan anaknya  di ITB dengan presikat nilai tertinggi. 
"Saya tidak bisa mewariskan harta. Satu-satunya bagaimana caranya saya bisa menyekolahkan anak di ITB dan jangan seperti saya,"paparnya
Meskipun anaknya mendapatkan bea siswa tapi kuliah di ITB masih terbilang mahal bagi penghasilan seorang sopir taksi. Namun, Adi yang hanya tamatan SMA ini pun menyisihkan penghasilannya setiap hari untuk menabung. 
"Waktu itu sempat saya tidak mendukung anak saya untuk tidak kuliah karena keterbatasan dana. Tapi akhirnya saya setiap hari menabung Rp20 ribu dari penghasilan saya narik penumpang,"ungkapnya
Ditanya soal rahasia mendidik anak agar berhasil dalam jenjang pendidikannya, Adi menilai bahwa  pendidikan itu mampu memutuskan rantai kesmiskinan keluarga sehingga ia dan istrinya kerja keras demi mewujudkan impian tersebut.
Dia mengakui pola pembelajaran di rumahmenerapkan disiplin yang tinggi terhadap anak. Untuk itu, sebagai orang tua terus memotivasi anak agar berhasil dalam pendidikannya.
"Saya enggak mau anak saya dapat nilai 8. Jadi kalau nilainya di bawah 10 depan pintu rumah anak saya sudah nangis. Tapi tidak semua anak otaknya nyantel. Jadi tergantung karakter anaknya,"ujarnya
Dia berpesan agar anaknya memiliki cita-cita tinggi dan berhasil dalam kehidupannya. 
"Anak saya jangan seperti saya. Harus memiliki pendidikan tinggi dan berhasil kehidupannya. Kalau dia sukses buat dia sendiri. Orang tua pasti bahagia melihatnya," tutup Adi 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA