Jabar Peroleh Deal Investasi Rp 13,9 T dari Ajang WJIS 2019

Bandung Raya

Jumat, 18 Oktober 2019 | 16:10 WIB

191018161107-jabar.jpg

Irwina Istiqomah

BANK Indonesia Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar berkolaborasi menghadirkan West Java Investment Summit (WJIS) 2019. Ajang ini sebagai platform bagi pelaku usaha dan investor untuk melakukan diskusi mendalam mengenai berbagai hal teknis terkait proyek investasi Jabar.

Kepala Bank Indonesia Jabar, Doni P. Joewono menyebutkan lima kegiatan utama yaitu High Level Session, penandatanganan MoU/Kesepakatan Investasi dan Perdagangan, Project Consultation, One-on-One meeting, serta Pameran Investasi dan UMKM. Dalam kesepakatan tersebut, Jabar berhasil memperoleh deal investasi sebesar Rp 13,9 triliun dari 11 proyek investasi.

"WJIS menjadi salah satu upaya Jabar untuk mempromosikan berbagai proyek investasi prioritas dan komoditas strategis. Karena kita ingin meningkatkan realisasi investasi dan memperluas akses pasar komoditas strategis ke pasar internasional yang berujung pada peningkatan ekspor," tuturnya di Hotel Trans Bandung, Jumat (18/10/2019).

Doni melanjutkan, pada acara ini pula dapat membangun jejaring antara investor, pelaku usaha, perwakilan negara mitra dengan pemerintah sebagai upaya menjaga persepsi positif pemangku kepentingan terhadap Jabar. Mengusung tema "Accelerating Infrastructure Development through Innovative Investment", WJIS 2019 menitikberatkan terhadap konektivitas dengan menawarkan delapan proyek infrastruktur kepada calon investor.

Kedelapan proyek tersebut yakni Monorail Bandung Raya Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Akhir Sampah Legok Nangka, Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Akhir Sampah Ciayumajakuning, Sistem Pengolahan Air Minum Jatigede, Sistem Pengolahan Air Minum Bandung Raya, Aerocity Bandara Internasional Jabar, Kawasan Industri Segita Rebana (Subang-Cirebon-Majalengka), dan Kawasan Ekonomi Khusus di Jabar seperti KEK Lido (Kabupaten Bogor), KEK Cikidang (Kabupaten Sukabumi) dan Kabupaten Pangandaran).

Apalagi, tidak kurang dari 500 peserta yang menghadiri kegiatan WJIS ini di antaranya investor domestik dan investor asing yang berasal dari Kawasan Eropa ( Belgia dan Perancis), Kawasan Amerika (Amerika Serikat dan Kanada), Kawasan Timur Tengah (Kuwait dan Sudan) dan Kawasan Asia (Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Tiongkok, dan Vietnam).

"Kegiatan promosi investasi itu kegiatan yang memerlukan proses yang berkesinambungan. WJIS sebagai alat promosi yang diharapkan dapat terus dilaksanakan. Ke depannya, kita akan terus mengevaluasi kegiatan promosi investasi (WJIS) sesuai dengan kebutuhan dan meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak terkait untuk mendorong iklim investasi yang semakin kondusif dan realisasi investasi yang semakin besar," jelasnya.

Pasalnya, Jabar kini tidak bisa lagi mengandalkan sektor manufaktur meskipun sektor manufaktur di Jabar cukup tinggi yaitu sebesar 42 persen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang tengah lesu.

"Kalau hanya mengandalkan manufaktur, ekonomi Jabar dikhawatirkan tidak tumbuh karena nilai ekspornya negatif. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi Jabar bisa 5,64 persen. Mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi tahun ini minimal sama dengan tahun lalu," terangnya.

Doni mengatakan bahwa, sumber ekonomi Jabar paling dominan berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 60 persen. Kemudian, disusul dengan porsi dari investasi (20) dan konsumsi pemerintah (10 persen).

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA