Hamparan Kebun Kopi di Kab. Bandung Terbesar di Jabar

Bandung Raya

Kamis, 17 Oktober 2019 | 17:14 WIB

191017171526-hampa.jpg

Kiki Kurnia

BUPATI Bandung, Dadang M Naser menegaskan, hamparan kebun kopi di Kabupaten Bandung merupakan yang  terbesar di Jabar. Ada sekitar 12 gunung yang jadi sentra perkebunan kopi di Kabupaten Bandung.

"Kalau dihitung secara luasan, perkebunan kopi di Kabupaten Bandung terluas di Jabar. Ini potensi yang bisa dikembangkan untuk pariwisata. Bayangkan ada 12 gunung yang jadi sentra perkebunan kopi," ungkap Bupati Bandung pada wartawan di sela sela menerima peserta Jelajah Kopi 2019 di sentra Kopi Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Kamis (17/10/2019).

Dadang pun meminta pada peserta jelajah kopi bisa mengeskplore lagi soal kopi di Kabupaten Bandung. Dadang merasa optimistis, gelaran jelajah kopi 2019 ini bisa mendongkrak pariwisata Kabupaten Bandung.

"Apalagi pesertanya ada dari luar negeri sebanyak 20 orang, seperti dari India, Vietnam, Cina dan negara lainnya. Mereka tentunya akan membicarakan tentang kopi Kabupaten Bandung (Indonesia) pada keluarga maupun temannya, sehingga kemungkinan bisa kembali lagi ke sini, " ujar Dadang Naser.

Bupati pun mengapresiasi gelaran jelajah kopi ini, yang tujuannya selain untuk mengangkat pamor kopi, juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Bandung melalui pariwisata. Saat ini, kata dia, banyak Cafe-Cafe lokal di Kabupaten Bandung yang banyak disinggahi para penikmat kopi dari berbagai daerah.

"Hal ini pasti berdampak pada perekonomian masyarakat Kabupaten Bandung. Tidak hanya petani kopi dan pengusaha kopi lokal, masyarakat sekitarnya pun pasti kena dampaknya," ujarnya.

Dadang pun menyebutkan,  keberadaan perkebunan kopi di kawasan pegunungan pasti bisa menarik para wisatawan. Apalagi bentangan alam Kabupaten Bandung yang sangat indah ini.

" Bentangan alam yang indah ini bisa dijual pada wisatawan. Selama ini para wisatawan bisa menikmati dengan gratis. Kedepan kita akan menej agar bentangan alam ini bisa memberikan dampak perekonomian pada masyarakat kabupaten Bandung," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dadang pun menyampaikan kenapa para Peserta Jelajah Kopi ini digiring ke kopi malabar yang dikelola oleh H. Nuri. Pasalnya, kata dia, H Nuri mengembangkan perkebunan kopi dengan tetap mempertahankan pohon tegakkan dan tidak merusak alam.

"Ia menggunakan hewan luwak untuk media penghasil kopi berkualitas, serta melibatkan masyarakat setempat. Perlu diketahui, pohon kopi yang berada di bawah lindungan pohon tegakkan akan menghasilkan kopi berkualitas premium, berbeda dengan yang ditanam di lahan terbuka. Ini yang ingin diterapkan pada masyarakat lainnya, " tambahnya.

Sementara pemilik Kopi Malabar, H Nuri menyebutkan, permintaan kopi di Jabar cukup tinggi dan hingga kini belum bisa terpenuhi oleh para petani kopi. Ia membenarkan, jika kopi yang berada dibawah pohon tegakkan kualitasnya Best of the Best alias premium.

"Sampai saat ini, permintaan kopi di Jabar belum bisa terpenuhi. Kita berusaha agar masyarakat mau menanam kopi dengan cara apa yang saya lakukan tanpa merusak alam," tambahnya.

H. Nuri menyebutkan, pihaknya sudah melibatkan sekitar 212 warga untuk menanam kopi jenis arabica di daerah tegakkan di kawasan Malabar. Bahkan dirinya pun telah melepas liarkan sebanyak 79 ekor hewan Luwak di kawasan perkebunan kopi Malabar.

"Kita ingin mempertahankan kualitas kopi malabar dengan brand kopi luwak," tandasnya.

Jelajah Kopi ini diikuti sekitar 79 peserta dari berbagai daerah dan 20 dari luar negeri. Setelah mengikuti jelajah kopi mereka akan dijamu dalam galadinner di rumah dinas Bupati di Kompleks Pemda Kabupaten Bandung, sebelum mengikuti kompetisi kopi specialty (KKSI) 2019. Kontes bertaraf internasional ini diikuti puluhan barista baik nasional maupun internasional.

Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA