Kesulitan Cari Sponsor, Dua Peneliti Remaja Ini Mengadu ke DPRD Kota Bandung

Bandung Raya

Selasa, 15 Oktober 2019 | 17:47 WIB

191015174854-kesul.jpg

Rio Ryzki Batee

MESKI sebagai satu-satunya perwakilan dari Kota Bandung pada Kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dua siswi SMAN 3 Bandung, Tiara Nadita dan Muthia Naila Putri Yudia mengalami kesulitan untuk mencari support dan dukungan.

Kedua siswi berprestasi tersebut menciptakan inovasi sistem pendeteksi masa panen madu, berdasarkan perubahan intensitas bunyi buzzer dengan menggunakan Nodemcu dan internet of things (IoT).

Tiara (17) mengaku, ide tersebut muncul ketika melihat sebuah peternakan lebah di daerah Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

"Jadi kita melihat apa yang dibutuhkan, apa yang belum dipenuhin di sana, dan kita buat alat agar peternak lebahnya efisien untuk mengambil madu yang mau dipanen. Apalagi di sana ada sekitar 10 ribu hektar, dan peternak lebahnya enggak semua muda, pasti ada capeknya," ungkapnya di Gedung DPRD Kota Bandung, Jln. Sukabumi, Kota Bandung, Selasa (15/10).

Terinspirasi dari pengamatan tersebut, kedua siswi ini berupaya menciptakan alat yang dapat mendeteksi apakah sarang madu telah penuh atau belum. Dengan demikian bisa mengefisiensi waktu maupun tenaga, karena peternak tak lagi berjalan jauh maupun mengandalkan perasaan, ketika memanen madu.

"Kami menggunakan IoT, apalagi sekarang semua serba digital, sudah masuk revolusi industri 4.0. Jadi kita membuat alat yang bisa membuat efisien untuk peternak madu ketika memanennya," tuturnya.

Lebih jauh, pihaknya mengembangkan penelitian berbasis Nodemcu dan IoT, sehingga peternak tidak perlu lagi memeriksa kotak eram yang berisikan sarang lebah di lahan yang sangat luas. Sementara pada saat pengambilan data lebah pun tidak terganggu, karena sarang tak perlu dibongkar hanya mengandalkan suara buzzer yang intensitas bunyinya dibaca oleh mikrofon, dan data dikirim ke server IoT.

"Kita buat alat dari nodemcu yang sudah support wi-fi dan IoT, serta kita programming sendiri agar alat ini bisa connect ke web atau aplikasi monitoring peternak lebahnya," katanya.

Inovasi ini lolos kualifikasi pada peringkat 50 besar se-Indonesia tingkat SMA dan peringkat 11 untuk kategori Bidang Ilmu Pengetahuan Teknologi sebagai perwakilan Kota Bandung, dalam kompetisi Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI.

Walau demikian, Ia mengaku membutuhkan dukungan dari sejumlah pihak untuk mengikuti kompetisi karya ilmiah tingkat nasional ini. Mengingat keduanya bakal mengikuti pameran dan melakukan presentasi hasil penelitian mereka selama lima hari.

"Kita sudah meminta support kepada beberapa pihak, seperti bank-bank pemerintah, perusahaan swasta, namun tidak ada respon," ujarnya.

Selain itu, telah meminta dukungan kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung, namun belum mendapatkan respon positif. Oleh karena itu, pihaknya mendatangi DPRD Kota Bandung untuk meminta sokongan dari anggota dewan.

"Karena belum ada respon positif, kita meminta bantuan kepada anggota dewan, juga kami membawa nama Kota Bandung," ucapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung, Heri Hermawan mengatakan, pihaknya berharap tidak ada lagi putra-putri berprestasi Kota Bandung yang kesulitan mengembangkan potensinya.

"Kami sangat mendukung apa yang dilakukan oleh anak-anak muda, seperti Tiara dan Muthia ini, yang memiliki pemikiran inovatif dan kreatif. Ini harus kita dukung, karena Tiara bisa menginspirasi anak muda lainnya untuk melakukan inovasi guna bersaing dengan bangsa lain," jelasnya.

Ketua Fraksi NasDem DPRD Kota Bandung, Uung Tanuwidjaya mengatakan berkomitmen untuk mendukung generasi Kota Bandung yang berprestasi. Lebih jauh pihaknya akan berupaya mencari solusi dari persoalan tersebut.

"Tentu kami akan support agar mereka tetap terus berjalan dan membawa nama Kota Bandung. Ini juga jadi pelajaran agar tidak ada putra-putri Kota Bandung yang kesulitan dalam mencari support untuk terus berkarya," tambahnya.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA