Mahasiswa ITB Manfaatkan Lalat Pasukan Hitam Tangani Sampah Organik

Bandung Raya

Jumat, 11 Oktober 2019 | 10:45 WIB

191011104733-mahas.jpg

ist

MAHASISWA bersama dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) memanfaatkan lalat tentara hitam untuk mengelola sampah organik. Mereka membuat membuat sebuah startup Biorefinery Society (BIOS) yang bergerak dalam pengolahan sampah organik.

Dalam pengolahan sampah tersebut, BIOS memanfaatkan lalat tentara hitam atau black soldier flies (BSF). Larva lalat tentara hitam merupakan tipe lalat yang berukuran lebih besar dari lalat biasa dan terkenal akan kemampuannya untuk mengonsumsi dan mengurangi sampah organik.

Co-founder dan CEO dari startup tersebut, Bagoes Muhammad Inderaja menjelaskan, saat ini BIOS fokus untuk mengembangkan konsep biorefinery melalui pemanfaatan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly Larvae) yang kaya protein untuk dijadikan pakan hewan premium. Pakan premium yang dikembangkan oleh BIOS memiliki nama Magic Pet Feed.

"Bedanya apa dengan pengolahan sampah yang konvensional seperti biodigester, atau komposter, kalau biodigester dan komposter biasanya membutuhkan waktu yang lama. Dalam waktu 6 minggu sampai 2 bulan baru bisa diolah limbahnya. Tapi kalau pakai BSF, pengolahan limbahnya bisa lebih cepat,hingga 2-3 kali lipatnya” ujarnya dalam rilis yang diterima galamedianews, Jumat (11/10/2019).

Startup yang beranggotakan Dr. Muhammad Yusuf Abduh, Bagoes Muhammad Inderaja, Nurhayati Br Tarigan, Firdanta Ginting dan Asri Ifani Rahmawati ini telah memiliki dua produk unggulan. Pertama pupuk untuk tanaman, dan kedua larva kering yang mengandung protein tinggi.


 
Bagoes menjelaskan, BIOS bahkan telah berhasil mengolah limbah hampir 150 kilogram selama 6 bulan terhitung sejak Februari 2019. Dari pengolahan tersebut, sudah dihasilkan pula larva kaya protein berbasis BSF dengan label Magic serta pupuk organik.

"Protein larvanya sangat tinggi sangat cocok untuk ikan hias dan peliharaan seperti kura-kura, sugar glider, gecko dll.” jelasnya. Ia menambahkan, selain limbah rumah tangga, dan pasar, mereka juga fokus dalam pengolahan limbah roti.
 
Sementara itu, terkait produk pupuk dihasilkan oleh BIOS, dikatakan Bagoes, juga sudah masuk dalam standar SNI namun belum keluar sertifikasinya. Produk tersebut belum masuk pasar karena BIOS sedang berusaha untuk terus melakukan pengembangan.

"Pupuk yang dibuat oleh kita beda dengan pupuk lainnya, pertama lebih seragam ukurannya, dan juga lebih halus dengan warna coklat," ujarnya. Proses pembuatan pupuk tersebut berasal dari proses biokonversi lewat larva BSF yang memakan limbah roti.
 
Ke depannya, BIOS memiliki target yakni peningkatan kapasitas produksi larva dan penyerapan limbah. Selain itu, startup yang telah berjalan 1,5 tahun ini akan fokus kepada komersialisasi dan juga pengembangan bisnis model, baik itu pengolahan limbah, penjualan larva, penjualan produk, dan bidang edukasi.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA