Dispangtan Lakukan Vaksinasi Brucellosis pada Sapi Perah

Bandung Raya

Kamis, 19 September 2019 | 20:02 WIB

190919200435-dispa.jpg

DINAS Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi melakukan vaksinasi brucellosis dengan sasaran sapi perah yang ada di wilayah Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara yang dimulai Kamis (19/9/2019). Hal itu dilakukan guna mengantisipasi penyakit brucellosis di wilayahnyaP

Kepala Seksi (Kasi) Peternakan Dispangtan Kota Cimahi, Retno Wulan menjelaskan, brucellosis merupakan penyakit yang menyebabkan keguguran di sapi, dan bisa menular ke manusia

"Brucella abortus dapat disebarkan melalui konsumsi produk peternakan yang sudah terkontaminasi seperti air susu. Selain itu juga melalui feces yang terkontaminasi terutama dari ternak sesudah melahirkan, atau dengan kontak langsung pada waktu kawin dengan hewan yang terinfeksi," terangnya disela kegiatan.

Menurutnya, sapi yang terinfeksi dengan mudah dapat menularkan pada saat sapi melahirkan, karena bakteri yang dikeluarkan pada saat itu mampu menularkan sampai dengan jumlah 600.000 ekor.

Selain itu penularan dapat terjadi juga melalui saluran pencernaan dan mukosa atau kulit yang luka. Pada sapi dan kambing, penularan melalui perkawinan sering terjadi, sehingga pemacek yang merupakan reaktor harus dikeluarkan.

Terkait gejala dari penyakit tersebut, Retno menjelaskan jika pada sapi gejala klinis yang utama ialah keluron menular yang dapat diikuti dengan kemajiran temporer atau permanen dan menurunnya produksi susu. Keluron yang disebabkan oleh brucella biasanya akan terjadi pada umur kebuntingan antara 5 sampai 8 bulan.

"Sapi dapat mengalami keluron satu, dua atau tiga kali, kemudian memberikan kelahiran normal, sapi terlihat sehat walaupun mengeluarkan cairan vaginal yang bersifat infeksius. Cairan janin yang keluar waktu terjadinya keluron berwarna keruh dan dapat merupakan sumber penularan penyakit," terangnya.

Pada kelenjar susu tidak menunjukkan gejala klinis meskipun di dalam susunya didapatkan bakteri brucella. Sementara hewan jantan memperlihatkan gejala epididimitis dan orchitis. Gejala ini terutama terlihat pada babi yang dapat mengakibatkan kemajiran.

"Selain gejala-gejala itu, sering pula ditemukan kebengkakan pada persendian lutut (karpal dan tarsal). Masa inkubasi penyakit ini belum diketahui dengan pasti. Pada sapi berkisar antara 2 minggu – 8 bulan atau lebih lama," beber Retno.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA