Rekayasa Lalu Lintas di Kawasan Jalan Jakarta Tunggu Kajian Amdal Lalin

Bandung Raya

Kamis, 19 September 2019 | 17:37 WIB

190919172838-rekay.JPG

dok

Ilustrasi Kemacetan Jalan Jakarta.


JALAN Jakarta kini menjadi salah satu titik kemacetan yang cukup parah, akibat pembangunan Flyover Jalan Jakarta-Supratman. Penumpukan kendaraan sudah dimulai sejak Jalan Ibrahim Adjie, lebih tepatnya setelah lampu merah yang berada dibawah Teras Pelangi.

Dengan menjadi jalan arteri atau utama, maka Jalan Jakarta dilewati oleh berbagai kendaraan yang berasal dari tiga jalan, yakni Jalan Ahmad Yani, Jalan Terusan Jakarta (Jembatan Pelangi) dan Jalan Ibrahim Adjie.

Proyek pembangunan Flyover Jalan Jakarta-Supratman memberikan dampak kemacetan pada pembangunan di kawasan tersebut. Dimana proyek tersebut memakan 3/4 jalan Jakarta (depan KFC), sehingga jalur yang dapat dilewati kendaraan semakin sempit.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang terbiasa menggunakan jalan tersebut mulai mengeluh, karena kemacetan yang semakin menjadi. Meski terlihat, sejumlah petugas berusaha mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan yang terjadi.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Ricky Gustiadi mengatakan bahwa rekayasa lalu lintas di Kawasan Jalan Jakarta baru akan diterapkan, jika kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Rekayasa Lalu Lintas (Amdal Lalin) dari Dishub Jawa Barat, sudah turun. Sehingga kajian dari Dishub Jabar tersebut, dapat dijadikan contoh di tempat lain.

“Jadi setelah ada amdal lalin baru bisa diterapkan rekayasa jalan di Jalan Jakarta. Dan ini belum turun dari Dinas Perhubungan Jawa Barat," ungkapnya di Balai Kota Bandung, Jln. Wastukancana, Kota Bandung, Kamis (19/9/2019).

Diakuinya, pembangunan dua jembatan layang (Flyover Jalan Jakarta-Supratman dan Flyover Laswi-Pelajar Pejuang), semestinya terlebih dulu melakukan kajian lalu lintas. Hal tersebut, diperlukan untuk menerapkan strategi rekayasa lalu lintas di dua lokasi tersebut.

"Tapi yang terpenting, kemacetan panjang yang terjadi akibat pembangunan jembatan layang, tidak berdampak pada waktu pengerjaan proyek," terangnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Fraksi PDI-Perjuangan, Folmer SM Silalahi menilai seharusnya kajian amdal lalin terkait pembangunan Flyover Jalan Jakarta-Jalan Supratman dan Jalan Laswi-Jalan Pelajar Pejuang 45, sudah dilakukan jauh sebelum proyek ditenderkan. Tepatnya ketika konsultan perencana membuat rancang bangun jembatan layang.

"Maka kemacetan di kawasan sekitar terdampak pembangunan, dapat diantisipasi. Konsultan yang melakukan kajian itu. Dan, hal itu dilakukan jauh sebelum proyek dilaksanakan," terangnya.

Ia menuturkan, kajian terhadap kemacetan arus lalu lintas pada sekitar lokasi pembangunan jembatan layang, harus melalui Amdal Lalin.

"Karena mengatasi kemacetan tidak cukup dengan rekayasa lalu lintas saja. Tetapi harus tahu pula jalan jalan alternatif yang akan dilewati," tambahnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA