Kompetisi Koi Terbanyak, ZNA Catat Rekor Dunia

Bandung Raya

Minggu, 15 September 2019 | 17:01 WIB

190915170215-kompe.jpg

Lucky M. Lukman

BUDIDAYA Ikan Koi di Indonesia menemukan masa terbaiknya. Saat ini, kualitas koi dari Indonesia diklaim lebih baik dari negara asalnya, Jepang.

Tak cuma kualitas, secara kuantitas pun Ikan Koi di Indonesia sudah cukup banyak. Hal itu terlihat dari Kompetisi Ikan Koi yang digelar komunitas pecinta ikan koi tingkat Internasional, Zen Nippon Airinkai (ZNA) Bandung Chapter, di Sudirman Grand Ballroom, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bandung, Minggu (15/9/2019).

Dalam kompetisi sebagai rangkaian peringatan 20th ZNA Anniversary Bandung Chapter, tercatat ada sebanyak 4.467 ekor koi. Jumlah itupun membuat NZA mencatatkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai "Pemecah Rekor MURI Kontestan Ikan Koi Terbanyak".

Presiden Zen Nippon Airinkai (ZNA) Bandung Chapter, Hartono Soekwanto menjelaskan, jumlah koi yang dikukuhkan ini merupakan hasil budidaya para petani yang tersebar di Indonesia. Bibit yang dibudidayakan dikelola para petani.

"Dukungan dari petani Blitar, Tulungagung, Sukabumi sangat luar biasa. Makanya kaget juga bisa membuat rekor dunia. Ini kepercayaan terhadap kami. Selama ini silaturahmi terjalin di antara kami, para penghobi. Dan ini hasil bibit-bibit yang diberikan ke mereka kemudian dibawa ke pertandingan ini," papar Hartono, di sela kegitan.

Ditambahkan Hartono, tujuan utama dalam persaingan ini yaitu untuk meningkatkan standar petani koi di Indonesia. Prestasi yang disuguhkan para petani ini yaitu dicek dan diuji oleh juri - juri pengalaman dari Jepang, Hongkong, Thailand dan Malaysia.

"Juri-juri terbaik dunia hadir di sini. Kawan kita kemarin memecahkan rekor dunia Asia Cup di Jakarta di angka 2.500 ekor. Di Jepang sendiri yang terbanyak itu 2.100 ekor. Dan sekarang di Bandung jumlah 4.467 ekor, itu sangat luar biasa. Itu suatu penghargaan," kata Hartono.

Melihat animo dari penghobi yang makin tinggi serta kualitas ikan yang makin baik, Hartono tak heran jika kedigdayaan Jepang tersisihkan oleh Indonesia. Selain itu, katanta, Indonesia yang memiliki iklim dua musim, menjadi kekuatan para petani dalam membudiyakan bibit ikan koi.

"Di Indonesia potensinya lebih besar karena basis petani koi di Blitar dan Tulungagung jauh lebih lebih besar daripada di Jepang. Makannya seperti yang bawa koi ke sini, dia dua hari sekali panen. Tapi di Jepang panennya satu tahun sekali," ungkapnya.

Di Jepang, lanjut Hartono, panen Koi dilakukan sekali dalam setahun, yaitu di bulan Mei sampai Juli. Sementara di Indonesia, tak perlu repot-repot karena bisa dua hari sekali.

"Kalau di sini (Indonesia) karena kita diberkati dengan punya dua musim, enggak perlu nunggu seperti di Jepang. Jepang nunggu di musim panas saja, musim dingin mereka enggak ngapa-ngapain. Jadi kapan pun kita bisa (berkembang biak), anugerah kita ada di dua musim," ujarnya.

Lebih lanjut Hartono menuturkan, kejuaraan ikan koi mengalahkan Jepang, tidak hanya terjadi pada tahun ini. Secara perlahan, menurutnya Jepang tergeser dalam waktu tiga tahun terakhir dari sisi kejuaraan.

"Ukuran ikan terbesar itu 1,10 meter, warna kuning yang tanpa sisik, itu terbesar. Itu dari Indonesia. Koi dari Jepang tidak ada satupun yang menang, semuanya dari lokal," terangnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA