Warga Antre Untuk Dapatkan Bibit Tanaman dan Ikan Gratis

Bandung Raya

Minggu, 15 September 2019 | 13:42 WIB

190915133342-warga.jpg

ANTISUASME warga terhadap kegiatan Bandung Agri Market (BAM) yang digelar Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung, di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Minggu (14/9/2019) cukup tinggi. Terbukti, mereka antre sejak subuh hanya untuk mendapatkan bibit tanaman dan ikan gratis.

Melihat hal tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana berharap, 95 persen pasokan pangan yang berasal dari luar Kota Bandung bisa berkurang karena warga bisa memenuhinya dari lingkungan sendiri. Pemkot pun mengapresiasi semangat warga untuk menanam tanaman ditengah keterbatasan lahan.

"Mudah-mudahan dengan antusiasme warga tanam pohon dan budidaya ikan, minimal keburuhan pangan terpenuhi dari lingkungannya," ungkap Yana.

Pihaknya, kata Yana, akan terus mendorong urban farming berkembang di kewilayahan. Apalagi jika metode hidroponik semakin diperkenalkan, warga pun bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Lebih jauhnya, pasokan pangan yang berasal dari luar Kota Bandung pun bisa berkurang.

"Mininal kebutuhan sayuran seperti cengej, cabai, ikan bisa terpenuhi. Memang ada beberapa pangan lain dipasok dari luar, minimal ya bisa mengurangi dari 95 persen.  Bisa tekan 10 hingga 20 persen sudah luar biasa," jelasnya.

Ia pun akan mendorong dinas terkait untuk membantu kegiatan BAM, misalnya DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan) unttuk menbuat pupuk yang bagus, agar proses pertumbuhan tanaman cepat. Diharapkan kegiatan BAM tetap digelar dan bahkan ditambah gelaran lain untuk memacu warga menanam sayutan dan buah-buahan lokal di rumahnya masing-masing.

Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan BAM yang dilaksnakan pada14 September ini merupakan gelaran kedua di tahun ini. Sesuai amanat pimpinan, Dispangtan akan mencoba format lain misalnya menggelar kegiatan yang hampir serupa sebulan sekali di kantor Dispangtan, Jln. Arjuna.


Dikatakannya, peserta BAM diantaranya komunitas urban farming yang sudah berkembang. Saat ini, dari awalnya 29 kelompok masyarakat yang melaksnakan urbang farming sudah berkembang menjadu 150 kelompok masyarakat. Itu baru yang tercatat secara formal, di luar itu kemungkinan masih ada kelompok atau individu yang menjalankan urban farming.

"Beberapa kelompok masyarakat malahan ada yang sudah berhasil, tidak hanya untuk kebutuhan keluarga sendiri tapi sudah ada yang bisa memenuhi kebutuhan lingkungan sekitat," tandasnya.

Keberadaan kelompok berkebun atau urban farming di tengah-tengah masyarakat ini, diharapkan Gin Gin bisa meningkatkan daya dongkrak untuk mengurangi ketergantungan akan kebutuhan pangan. Berdasarkan riset akademisi, pasokan pangan di Kota Bandung yang mengadalkan dari luar daerah berkurang 5-6 persen, salah satunya ditunjang yutban farming. Mininal beberapa kebutuhan bisa terpenuhi dari hasil berkebun sendiri.

"Awalnya mengembangkan urban farming ini untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan memanfaatkan lahan yang ada, kemudian ada juga yang berkembang menjadi pemenuh kebutuhan lingkungan dan tak menutup kemungkinan menjadi bisnis," tandasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA