Pemkab Garut Tetapkan Darurat Kekeringan

Bandung Raya

Rabu, 11 September 2019 | 18:56 WIB

190911185726-pemka.jpg

Agus Somantri

Sejumlah lahan pertanian sudah mengering dampak dari musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Garut sejak beberapa bulan ini

RIBUAN hektare lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Kemarau panjang menjadi penyebab utama yang berdampak keringnya sumber mata air dan irigasi.

Selama ini sejumlah lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten garut memang banyak yang mengandalkan tadah hujan untuk mengairi tanamannya.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, mengatakan saat ini ada sekitar 2.760 hektar lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Garut yang sudah kekeringan.

selain 2760 hektare lahan yang sudah kering, terang Beni, seluas 5.600 hektare lahan lainnya terancam kekeringan. Kekeringan tersebar mulai dari wilayah utara dan selatan Garut.

"Dari 2.700an lahan yang kering itu, 1.200 hektare tanaman padi puso. Mutlak kering tidak ada sumber air," ujarnya, Rabu (11/9/2019).

Sementara itu, lanjut Beni, dari ribuan hektare lahan yang kering tersebut, sedikitnya ada sekitar 6.000 ton padi yang mengalami gagal panen atau puso. Jumlah padi yang puso tahun ini mengalami peningkatan bila dibanding tahun lalu.

"Tahun lalu kan kemarau basah. Tidak seperti tahun ini jadi yang pusonya kecil. Sekarang sangat besar karena kemarau panjang," ucapnya.

Meskipun mengalami puso yang cukup besar, namun Beni menyebutkan bahwa produksi padi di Kabupaten Garut masih surplus. Menurutya, jumlah produksi padi mengalami kelebihan produksi mencapai 7.500 ton.

Beni menambahkan, sebelum masa panen, sebenarnya pihaknya sudah menganjurkan kepada para petani agar tidak menanam padi. Apalagi sudah ada peringatan bahwa musim kemarau akan berkepanjangan.

"Kami sudah ingtakan para petani agar menunda dulu menanam padi, lebih baik menanam palawija. Tapi masih banyak yang menanam padi. Mungkin karena pertimbangan hasilnya," ucapnya.

Status Darurat Kekeringan
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menetapkan status darurat kekeringan setelah ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan mengalami kekeringan. Sejumlah langkah pun disiapkan agar kekeringan tidak semakin meluas.

Bupati Garut, Rudy Guawan, menyebutkan saat ini sudah lebih dari 2000 hektare lahan prtanian dan perkebunan di wilayah Kabupaten Garut yang dilanda kekeringan. Padahal wilayah yang mengalami kekeringan tersebut merupakan lahan produksi.

"Ini sudah SOS, kekeringannya sudah sangat menyebar. Makanya harus segera ditangani. Saya sudah kumpulkan dinas terkaiy untuk atasi masalah kekeringan ini," ucapnya.

Menurut Rudy, dari sebanyak 42 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut semuanya sangat rawan terhadap kekeringan. Terlebih kemarau yang terjadi di prediksi masih akan berlangsung sangat panjang.

"Informasinya sampai akhir Oktober masih kemarau. Makanya harus ada tindakan, apalagi menyangkut masalah air," ujarnya.

Rudy mengungkapkan, tahun depan pihaknya berencana untuk menambah sumber air untuk irigasi. Pemkab Garut akan menganggarkan dana sebesar Rp 20 miliar untuk pipanisasi dari sumber air ke lahan pertanian.

"Ada 20 sumber air baru. Investasinya sekitar Rp 10 miliar sampai Rp 20 miliar. Dari 20 titik itu, ada lima sumber air yang besar. Ada di Malangbong, Pendeuy, Banjarwangi, dan Pakenjeng," katanya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA