Krisis Air Bersih di KBB Meluas

Bandung Raya

Rabu, 11 September 2019 | 16:30 WIB

190911163105-krisi.jpg

Dicky Mawardi

DAERAH rawan air bersih di Kabupaten Bandung Barat meluas. Kini, sudah 10 dari 16 kecamatan yang terdampak musim kemarau panjang ini.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat warga yang terdampak mencapai.32.087 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 52 desa.

Sementara berdasarkan ajuan kebutuhan air bersih yang diusulkan setiap desa, totalnya mencapai 14.439.150 liter. Namun karena keterbatasan armada truk tangki air, baru tujuh kecamatan yang sudah bisa dilayani.

"Sebenarnya air di desa tersebut masih ada , tapi sangat kurang tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Sehingga desa-desa mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD. Kalau ditotal jumlah usulan atau permintaan dari 52 desa mencapai 14 juta liter lebih ," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Dicky Maulana di Ngamprah, Rabu (11/9/2019).

Dicky menambahkan, setiap musim kemarau lokasi yang mengalami krisis air bersih tidak bertambah ataupun berubah Seperti di Kecamatan Cipatat, wilayah langganan rawan air bersih adalah Desa Gunungmasigit.
"Di satu desa pun bukan berarti semua wilayah kekurangan air bersih. Hanya beberapa lokasi saja. Jadi kita distribusikan pada lokasi itu saja," tuturnya.

Sebenarnya Pemkab Bandung Barat sudah membangun sejumlah sumur bor di lokasi langganan krisis air bersih. Namun pada musim kemarau panjang seperti sekarang ini terkadang tidak mencukupi dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, pendistribusian air bersih bekerja sama dengan PDAM Tirta Raharja untuk penyediaan air bersihnya, Dinas Perkim sarana truk tangki dan juga melibatkan institusi atau organisasi lainnya
"Belum semua desa yang sudah mengajukan permintaan air bersih terlayani. Ini semata-mata keterbatasan sarana dan prasarana yang.kami miliki saja," tuturnya.

Pendistribusian air bersih beberapa kali dilaksanakan hingga larut malam. Pasalnya, jarak antar perkampungan penduduk dengan sumber air yang cukup jauh. Sehingga pengambilan air oleh truk tangki membutuhkan waktu.

"Kapasitas truk tangki milik BPBD hanya 5.000 liter, sementara yang harus didistribusikan ke warga bisa berkali-kali lipat dari kapasitas truk. Jadinya petugas harus bolak balik mengambil air," tukasnya

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA