Sejumlah Komunitas Rayakan Asyura Bernuasa Sunda

Bandung Raya

Selasa, 10 September 2019 | 09:49 WIB

190910095056-sejum.jpg

PULUHAN warga yang berasal dari berbagai golongan dan komunitas mengikuti perayaan Asyura 10 Muharam di Masjid Nurul Huda, Jalan Gegerkalong, Senin (9/9/2019) malam. Perayaan dengan nuansa tradisi lokal masyarakat sunda tersebut, merupakan ungkapan rasa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.

Dalam kegiatan kebudayaan tersebut, warga yang hadir terlihat khusyuk mendengarkan wejangan atau nasihat, dengan diiringi musik gamelan dan tembang-tembang daerah Sunda.

Selain itu, berbagai makanan khas Sunda disajikan, termasuk juga dawegan (kelapa muda) yang merupakan tradisi khas Kabuyutan Sunda, juga tak ketinggalan bubur merah bubur putih yang melambangkan rasa cinta Indonesia.

"Peringatan Asyura ini merupakan peringatan syahidnya cucu Rasulullah, Imam Husein. Jamaah yang hadir dari seluruh Indonesia bahkan dihadiri juga tokoh-tokoh lintas agama seperti Hindu, Budha, Kristen dan Penghayat," ungkap Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong, Abah Yusuf Bahtiar.

Menurutnya tradisi perayaan Asyura atau Syuraan merupakan budaya Sajaja Padjajaran dan sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Lebih jauh, peringatan Asyura 10 Muharam bertujuan untuk memperingati kebangkitan nilai-nilai perjuangan, kepahlawanan, dan pengorbanan Imam Husein.

Selain itu, perayaan Asyura selalu memiliki semangat untuk mendukung empat pilar kebangsaan dan menjunjung tinggi kebinekaan.

"Di sini kita benar-benar mejunjung tinggi keberagaman, toleransi beragama dan tetap berpegang teguh pada Pancasila," katanya.
 
Paham radikalisme menjadi salah satu ancaman bagi kesatuan Indonesia, namun paham tersebut dapat ditangkal dengan kembali kepada jati diri bangsa, yakni kebudayaan dan tradisi.

Diakuinya bahwa kebudayaan atau tradisi merupakan jatidiri dari bangsa Indonesia, yang dapat menangkal berbagai paham dari luar seperti radikalisme maupun terorisme. Paham ini mulai dikhawatirkan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI.

Maraknya berita bohong atau hoaks, juga menjadi perhatian pihaknya yang berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menerima setiap informasi atau berita. Termasuk dapat menyaring dengan tidak hanya dari satu sumber, tapi juga berbagai sumber termasuk media massa.

"Radikalisme itu berasal dari luar, maka untuk melawannya dengan kembali ke jati diri kita yakni kebudayaan dan tradisi. Seperti yang berasal dari kita apa, yaitu kebersamaan dan gotong royong, ini yang harus kita terus lestarikan," tuturnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA