Dampak Erupsi, Nasib Pedagang TWA Tangkuban Parahu Kian Tidak Menentu

Bandung Raya

Minggu, 8 September 2019 | 12:27 WIB

190908122812-dampa.jpg

Dicky Mawardi

Pedagang TWA Tangkubanparahu bersama masyarakat saat menggelar doa bersama, beberapa waktu lalu.

WARGA Desa Cikole, Kecamatan Lembang,  Kabupaten Bandung Barat yang biasa berjualan di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkubanparahu hidupnya kian tidak menentu. Pasalnya, sejak Tangkubanparahu erupsi 26 Juli 2019, mereka sudah tak bisa berjualan lagi.

Ironisnya, untuk menyambung hidup banyak di antara pedagang yang terpaksa menjual harta bendanya. Ada yang menjual perhiasan sampai sepeda motor.

"Selama Tangkubanparahu masih terus erupsi warga Cikole yang berjumlah sekitar 1.500 orang tak mendapat penghasilan apapun. Untuk menyambung hidup ada yang sudah menjual sepeda motor segala," ungkap Kepala Desa Cikole, Jajang Ruhiyat melalui sambungan telepon,  Minggu (8/9/2019).

Padahal,  lanjutnya,  sepeda motor itu digunakan selama ini oleh pedagang untuk membawa bayangan dagangan ke Tangkubanparahu. Kehilangan sepeda motor semakin membuat terpuruk para pedagang.

"Kalau nanti Tangkubanparahu kembali normal dan pedagang akan berjualan lagi, harus keluar modal banyak. Sementara modal sudah habis buat kebutuhan hidup sehari-hari," ucapnya.

Ia berharap  Pemkab Bandung Barat melalui Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan perhatian turun tangan memperhatikan nasib pedagang. Khawatirnya jika dibiarkan akan menimbulkan kerawanan sosial

"Pada saat kejadian erupsi beberapa tahun lalu. Pemerintah daerah memberikan bantuan sembako, tapi sekarang sudah satu bulan lebih belum ada perhatian. Mereka begini (tidak berjualan) bukan karena malas, tapi karena jadi korban bencana alam," keluhnya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA