Sofia : Banyak Kepentingan Dalam Penanganan DAS Citarum

Bandung Raya

Sabtu, 7 September 2019 | 22:02 WIB

190907220339-sofia.jpg

PERSOALAN di daerah aliran Sungai (DAS) Citarum sangat komplek. Begitu banyak kepentingan dalam penanganan Sungai Citarum. Begitu banyak pula kementerian yang dilibatkan dalam upaya pemulihan dari kerusakan lingkungan di aliran Sungai Citarum.

"Bahkan, dengan adanya Peraturan Presiden No 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, menunjukkan adanya sinyalemen kuat Sungai Citarum dalam kondisi darurat," kata Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jabar yang juga bergerak aktif dalam upaya penyelamatan Sungai Citarum, Sofia Yulinar kepada galamedianews.com di Baleendah Kabupaten Bandung, Sabtu (7/9/2019).

Sofia menuturkan, DAS Citarum tak hanya menjadi perhatian pemerintah pusat. Bahkan sudah menjadi perhatian dunia. Ia sebagai kader partai politik dari PDI Perjuangan, mendapat tugas baru untuk berperan aktif dalam program Citarum Harum.

"Langkah pertama yang akan dilakukannya, yaitu mengidentifikasi permasalahan, identifikasi potensi dan lain-lain melalui sebuah forum diskusi," kata Sofia.

Melalui forum yang akan digagas dirinya itu, Sofia akan mengundang sejumlah elemen masyarakat, aktivis lingkungan, selain mengundang Satuan Tugas Citarum Harum.

"Melalui forum diskusi itu tidak lain untuk menyamakan persepsi dan apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan, supaya kami bisa lebih mantap dalam melakukan kerja kedepannya. Nanti, setelah dibahas melalui forum diskusi  bisa menentukan langkah yang tepat kedepan," ungkapnya.

Ia mengatakan, pembahasan DAS Citarum di forum diskusi  itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Dengan harapan setelah pembahasan di forum, kata Sofia, PDI Perjuangan bisa menancapkan bendera sebagai bentuk kepeduliannya dalam penanggulangan persoalan Sungai Citarum.

Selain menyikapi persoalan Sungai Citarum, pihaknya pun memiliki sebuah konsep untuk mengembangkan kawasan hijau melalui program keanekaragaman hayati atau hutan rakyat (aboretum). Tentunya, dengan konsep dari hulu ke hilir dalam upaya mewujudkan semangat marhaen.

"Tetapi untuk pengembangan keanekaragaman hayati belum bisa dipastikan tempatnya di mana. Makanya, kita akan bahas atau diskusikan melalui forum. Dengan harapan bisa melahirkan suatu bentuk dalam upaya menggali potensi dan masalah," tuturnya.

Sofia pun menuturkan, di sepanjang aliran Sungai Citarum itu berbeda karakter lingkungan maupun masyarakatnya. Termasuk berbeda latar belakangnya, sehingga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan penanganannya.

Menurutnya, sebagai tahap awal dalam menyikapi DAS Citarum itu, melakukan upaya penanganan di kawasan Situ Cisanti Kertasari, Pasirjambu dan kawasan lainnya. "Mengingat kawasan tersebut, khususnya Kertasari sebagai hulu Sungai Citarum menjadi pusat perhatian," katanya.

Ia pun mengungkapkan, dengan berbagai permasalahan yang terjadi di DAS Citarum, sejumlah pihak melakukan sesuatu untuk persoalan Citarum.

"Bayangkan dengan hamparan yang sama, penduduk yang sama turut melaksanakan gerakan reboisasi atau penghijauan. Dalam pelaksanannya pun beda penyelelenggara. Meski banyak mendapatkan perhatian, tetapi dampaknya belum terasa," ujarnya.

Sofia berharap kepada Pemerintah Provinsi Jabar untuk melakukan upaya monitoring, evaluasi dalam segala kebijakan berkaitan dengan program yang sudah, sedang dan akan dilakukan berkaitan dengan DAS Citarum.

"Menurut saya secara pribadi, program Citarum sudah mulai bencana. Bayangkan pinjaman dengan nilai Rp 1,4 triliun itu akan menjadi utang yang harus dibayar oleh anak cucu kita. Apakah jaminan keberhasilannya? Sampai saat ini belum terasa," tandasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA