Legislator Ini Menyayangkan Belum Ada SMAN di Cimenyan

Bandung Raya

Sabtu, 7 September 2019 | 20:38 WIB

190907203951-legis.jpg

ANGGOTA DPRD Kabupaten Bandung Juwita sangat menyayangkan di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, sampai saat ini belum berdiri bangunan SMA Negeri. Sementara kawasan tersebut sangat berdekatan dengan Kota Bandung.

"Kenapa di Kecamatan Cimenyan enggak ada SMA Negeri. Kalaupun berbicara kewenangan, mendirikan dan pengelolaan SMA ada di ranah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, tetapi wilayahnya ada di Kabupaten Bandung," kata Juwita kepada wartawan di Baleendah Kabupaten Bandung, Sabtu (7/9/2019).

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyatakan, pihaknya akan berusaha untuk mengusulkan berdirinya SMA Negeri di Kecamatan Cimenyan kepada pihak terkait.

"Ini sudah menjadi harapan masyarakat di Kecamatan Cimenyan dengan penduduk 78.000 jiwa yang tersebar di 9 desa. Mereka berharap, di Cimenyan ada SMA Negeri, seperti halnya di kecamatan lainnya," kata Juwita.

Sebenarnya, imbuh Juwita, sudah lama hal ini dikeluhkan warga sekitar, menyusul belum adanya infrastruktur bangunan atau kegiatan belajar mengajar untuk para siswa SMA Negeri di kecamatan tersebut.
"Di Cimenyan itu masyarakatnya cukup padat. Tapi kenapa, bangunan SMA Negeri saja belum ada," ucapnya.

Dampak dari tidak adanya SMA Negeri, imbuh Juwita, banyak para siswa lulusan SMP atau sederajat yang gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Lulusan SMP banyak yang putus sekolah. Mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri di Kota Bandung, walaupun berdekatan karena terkendala zonasi. Para siswa lulusan SMP itu kartu keluarga atau domisilinya di Kecamatan Cimenyan, jadi tidak bisa melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri di Kota Bandung," katanya.

Sementara mereka mau melanjutkan pendidikan ke SMA swasta terbentur anggaran atau biaya yang mahal, sehingga mereka memilih tidak melanjutkan pendidikan. "Akhirnya, ada di antara mereka yang melakukan pernikahan dini dengan usia muda dan menjadi  buruh tani," katanya.

Juwita menuturkan, para siswa lulusan SMP itu, bagi yang akan melanjutkan ke SMA dengan zonasi masuk wilayah Kecamatan Cilengkrang dan Cileunyi. Mereka harus melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri di Cilengkrang dan Cileunyi terkendala jarak tempuh.

"Bagaimana mereka mau melanjutkan pendidikan ke Cileunyi, sementara biaya transfortasinya saja sebesar Rp 50.000/hari. Itu akan menjadi kesulitan dan permasalahan biaya. Salah satu solusinya, Dinas Pendidikan harus membangun SMA Negeri di Cimenyan," katanya.

Juwita menuturkan, untuk mendirikan sekolah baru itu, bisa dengan cara membebaskan lahan milik warga. "Atau siapa tahu ada warga yang menghibahkan lahannya," harapnya.

Juwita yang berasal dari daerah pemilihan (dapil 3), meliputi Kecamatan Cimenyan, Cilengkrang, Cileunyi dan Kecamatan Bojongsoang itu, berusaha untuk mencari solusi dalam menyikapi kebutuhan dan tuntutan warga terhadap sarana dan prasarana pendidikan.

"Kita berusaha untuk mencari solusi, bukan mengkritisi. Kami berharap, sejumlah pihak di kalangan Pemkab. Bandung untuk sama-sama memikirkan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan tersebut," katanya.

Juwita juga berencana untuk mempertanyakan hal itu kepada Bupati Bandung maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. "Kenapa selama ini, bangunan SMA Negeri enggak dibangun? Apa memang enggak diusulkan? Katanya, Kabupaten Bandung harus maju dan berkembang dalam bidang pendidikan, tetapi di Kecamatan Cimenyan belum ada SMA Negeri. Ini sama dengan menyuruh anak bodoh," ucapnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA