Nunggak Utang Rp 500 Juta pada Vendor, Museum Bandung Masih Terus Beroperasi

Bandung Raya

Senin, 26 Agustus 2019 | 15:46 WIB

190826155007-nungg.jpg

MESKIPUN terus beroperasi dan menggelar banyak acara hingga saat ini, Museum Kota Bandung ternyata masih memiliki utang Rp 575 juta kepada vendor. Padahal, tunggakan pembayaran pekerjaan yang belum dilunasi itu telah berjalan sejak 2 tahun lalu.

“Nilai yang belum terbayarkan itu cukup besar. Sebagai penyedia jasa, tentu nilai itu sangat berarti. Saat ini Museum Bandung terus beroperasi secara normal, seakan tidak ada masalah. Makanya saya khawatir jika persoalan ini dianggap remeh,” tutur Chafid Yoedawinata, salah satu vendor yang dirugikan dari nilai total pekerjaan Rp 906 juta masih ada sisa tunggakan sebesar Rp 575 juta, di Bandung, Senin (26/8/2019).

Pada Desember 2017, Chafid mendapat pekerjaan dari Tim Museum Kota Bandung untuk mengerjakan pembuatan display grafis. Pekerjaan meliputi pembuatan display grafis tahap pertama di area dinding ruang pamer bangunan museum lama (cagar budaya), serta mengisi panel grafis yang berisi sejarah Kota Bandung serta tokoh- tokoh Bandung pada bangunan baru museum di bagian depan.

Tim Museum Kota Bandung meminta pekerjaan selesai dalam waktu 2 minggu demi mengejar pembukaan museum pada akhir 2017, meski idealnya pekerjaan tersebut seharusnya dikerjakan 6 bulan. Ternyata Tim Museum Kota Bandung menyatakan pembukaan ditunda. Selain itu, beberapa vendor lain diketahui masih belum menyelesaikan pekerjaannya.

“Kami bekerja dengan memerhatikan detail, karena ini proyek seni. Kami juga mengebut pengerjaan karena ingin menolong Tim Museum Bandung supaya bisa mengejar rencana pembukaan museum,” ujarnya.

Perjanjian kontrak antara Tim Museum Bandung dengan Chafid disepakati di atas materai pada 14 Desember 2017, dengan nilai pekerjaan Rp 431 juta. Chafid dijanjikan pelunasan pada saat setelah tanda tangan kontrak. Akan tetapi, pelunasan itu mundur. Baru pada Januari 2018 uang muka masuk dengan dicicil pada 2 Januari dan 26 Januari senilai Rp 181 juta.

“Beberapa kali dipastikan akan dibayar. Tetapi sampai saat ini belum juga diselesaikan. Saya sih terus mencoba sabar, sampai sekarang. Saya cuma berharap ini bisa selesai baik-baik,” ujarnya.

Pada 23 Februari 2018, kata Chafid, barang produksi tahap pertama diminta Tim Museum Kota Bandung agar segera dikirim karena akan ada audit dari dinas. Padahal barang produksi tersebut belum lunas, dengan janji dari Tim Museum bahwa akan dilunasi segera setelah barang dikirim, tetapi ternyata tidak juga dilunasi. Ia terus menagih setiap bulan.

Pada awal September 2018, Tim Museum menawarkan pekerjaan baru dengan dalih agar pelunasan proyek sebelumnya bisa dibayar sekaligus. Pekerjaan pembuatan display grafis dan mural tahap kedua itu berupa tambahan pembuatan dinding display grafis dan pembuatan dinding mural di lobby utama gedung lama senilai Rp 475 juta. Chafid sempat menolak tawaran itu karena pembayaran tahap 1 belum selesai. Namun, uang muka tahap II senilai Rp 150 juta kadung ditransfer pada 5 September 2018. Berbeda dengan 4 kali transfer tahap I yang menggunakan rekening pribadi, kali ini pembayaran uang muka tersebut diterima dari Lalu Lintas Giro dari Bank Jabar Banten Museum Sejarah BDG. Akhirnya, kata dia, kontrak pekerjaan ditandatangani pada 14 September 2018. Tahap II selesai hanya seminggu setelah kontrak, atau sebelum rencana pembukaan akhir Desember 2018. Ia kembali dijanjikan pembayaran lunas pada November 2018.

Namun, pelunasan itu kembali mundur hingga April 2019, dengan janji dari Tim Museum Kota Bandung bahwa katanya akan dibayarkan dengan dana dari APBD 2019. Hingga saat ini total sisa pembayaran Rp 575 juta belum ia terima.

“Orang makan telur ceplok di warung saja harus bayar lho. Ini sudah makan telur ceplok 2 tahun lalu, belum bayar juga. Malah yang menagih jadi dibenci. Padahal 2 tahun ini kami menagih secara baik-baik,” tutur Chafid Yoedawinata.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA