BNN Pusat Beri Pembekalan Kewirausahaan di Daerah Rawan Narkoba

Bandung Raya

Rabu, 21 Agustus 2019 | 17:13 WIB

190821171537-bnn-k.jpg

ISTIMEWA

Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN RI, Andjar Dewanto bersama Kepala BNN Kota Bandung, AKBP Yeni Siti Saodah saat melihat hasil karya kerajinan tangan warga Saritem, Ruang Serbaguna Pondok Pesantren Ra Daar At Taubah, Andir, Kota Bandung, Rabu (21/8/2019)

Dalam rangka menjalankan amanah Undang-undang serta Program Kerja Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2019, BNN Pusat melaksanakan Kegiatan Pemberdayaan Alternatif (Dayatif) melalui Pengembangan Kewirausahaan di Kawasan Rawan Narkoba.

Adapun pelaksanaan Pengembangan Kewirausahaan oleh BNN Pusat di Kawasan Rawan Narkoba dilakukan di Ruang Serbaguna Pondok Pesantren Ra Daar At Taubah, Andir, Kota Bandung, Rabu (21/8/2019). Seperti diketahui, kawasan ini telah dikenal sebagai eks tempat prostitusi (Saritem).

"Pada hari ini kita laksanakan salah satu program yaitu Dayatip, dimana ini merupakan program BNN pusat dalam rangka pencegahan, agar lokasi yang di duga rawan ini bisa memiliki kegiatan yang menghasilkan, serta lebih produktif tanpa narkoba, dan ini juga merupakan lanjutan dari program Kelurahan Bersinar," Kata Kepala BNN Kota Bandung, AKBP Yeni Siti Saodah.

Lanjut Yeni, pada pelaksanaan Dayatip di kawasan Saritem, tidak hanya terfokus kepada para mantan pengguna atau yang diduga sudah terlanjur menjadi pengguna dan pengedar saja. Melainkan Masyarakat yang tidak memiliki aktifitas rutin (pekerjaan).

Sehingga, Masyarakat tersebut dapat terhindar dari aktivitas peredaran yang dinilai cukup rawan terjadi di kelurahan/desa. Dan menurut dia, saat ini desa/kelurahan telah menjadi wilayah yang strategis untuk jalur penyelundupan, penyebaran, penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba.

Sebelumnya, Kelurahan Andir telah dicanangkan serta dijadikan filed project sebagai Kelurahan Bersinar (Bersih Narkoba) di Kota Bandung oleh BNN. "Ibu-ibu dan bapak-bapak disini kita berikan pelatihan juga, supaya mungkin yang biasanya nganggur dan mungkin menggunakan atau jadi perantara bisa lepas agar beralih kepada kegiatan yang berdaya guna," katanya.

Melihat hasil dari kegiatan kegiatan kali ini, menurutnya masyarakat di kawasan Saritem Andir sudah menghasilkan kerajinan (handicraft) yang cukup baik, bahkan memiliki daya jual yang tinggi. Dan kedepan BNN melalyi aplikasi onlinenya akan turut membantu menjual hasil karya dari masyarakat tersebut.

"Hasil kami lihat sangat bagus, harapan BNN karena kita sudah punya online shop saya harap ibu-ibu yang dilatih ini bisa terus mengembangkan hasil kerajinanya agar lebih bagus lagi selain dijual dan disalurkan oleh BNN mereoa bisa membuka sendiri, itu harapan kami dari BNN Kota Bandung. Bisa kita lihat semua daru mulai kaos, kerudung, keranjang dan lainnya bisa dipasarkan," katanya.

Turut dihadiri, Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN RI, Andjar Dewanto. Ia berharap dengan adanya pelatihan ini, daerah yang dianggap rawan akan narkoba bisa terjauh dari aktivitas perdagangan barang ilegal, terutama narkoba.

"Kami dari Pemberdayaan Alternatif, kini tengah menangani daerah yang dianggap rawan narkoba, supaya terjauh dari, penyebaran, penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba, dengan pelatihan ini produknya bisa kita jual karena BNN RI telah menyediakan media penjualannya melalui aplikasi 'Stop Narkoba Online'," jelasnya.

Lanjut dia, sampai tahun 2024 BNN RI telah mencanangkan program Dayatip untuk 654 daerah yang dianggap rawan narkoba. "Memang kita sudah programkan sampai 2024 itu 654 daerah rawan narkoba. Tahun ini kita mengerjakan ada 5 daerah mulai dari Kalimantan Barat (Kalbar) Jawa Timur (Jatim), Jawa Barat (Jabar), Palembang dan Lampung," jelasnya.

Ia berharap, kedepan, semua daeah yang dianggap rawan akan narkoba bisa mendapatkan keahlian, tidak hanya kerajinan tangan tetapi juga di bidang lainnya. "Kita berharap masyarakat didaerah rawan ini bisa memiliki keahlian, tidak hanya dibidang kerajinan saja, jika di pedesaan petani kita berikan pelatihan karena di beberapa pedesaan para petani rawan menanam ganja, begitu harapan kami," pungkasnya. 

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA