19 Peserta KPM PKH Kecamatan Cikancung Mengundurkan Diri

Bandung Raya

Rabu, 21 Agustus 2019 | 12:39 WIB

190821124402-19-pe.jpg

Engkos Kosasih

SEBANYAK 19 peserta keluarga penerima manfaat dalam program keluarga harapan (KPM PKH) di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung dengan sukarela mengundurkan diri dari kepesertaan tersebut. Dari 6.120 peserta KPM PKH di kecamatan tersebut, mereka mengundurkan diri tahun 2019 ini setelah ada perbaikan secara ekonomi. Mereka rata-rata masuk kepesertaan KPM PKH/kohor 2016 dan 2018.
 
Ke-19 peserta tersebut, yakni Ucu Saleha, Siti Solehat, Dede Siti Hasanah,  Anah, Wiwin, dan Imas Listawati, keenamnya warga Desa Ciluluk Kecamatan Cikancung. Peserta lainnya, Yeti dan Wiwin warga Desa Sri Rahayu, Onih Hayati dan Nining warga Desa Cikancung, Eni, Kokom Komariah dan Endeh, ketiganya warga Desa Cihanyir. Selain itu, ada tiga warga asal Desa Tanjunglaya, yakni Nining, Ai Mamat, dan Rofi Robiah juga turut mengundurkan diri dengan sukarela dari kepesertaan KPM PKH.  Sementara tiga warga asal Desa Cikasungka, Widayati, Siti Ipah Syaripah dan Apong, ketiganya mundur dari kepesertaan KPM PKH. 
Mereka mengundurkan diri setelah melewati proses pendampingan yang dilakukan oleh para pendamping melalui program pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2). 
Koordinator Kecamatan (Korcam) Cikancung Yanyan Sopian, S.Pd., mengatakan, mereka mengundurkan diri dari kepesertaan KPM PKH dengan alasan sudah mampu dan maju dalam usahanya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan ekonominya. 
"Sebelumnya, mereka usahanya biasa-biasa dan belum dapat memperbaiki secara ekonomi. Namun sekarang, kondisi usahanya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga mengundurkan diri dari kepesertaan KPM PKH," kata Yanyan kepada galamesianews.com di Cikancung, Rabu (21/8/2019).
Seperti dialami oleh Ucu Saleha, yang memiliki usaha taplak dari anyaman bambu. Sebelumnya tak berkembang sesuai dengan harapan. Tetapi setelah suaminya memiliki ide membuat kesed motif, dengan modal menggadaikan roda dua miliknya senilai Rp 2 juta. 
"Omset usahanya sudah mencapai Rp 30 juta per minggu, sehingga bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Akhirnya mereka mengundurkan diri dari kepesertaan PKH," kata Yanyan. 
Dari 16 peserta PKH, imbuh Yanyan, mereka mengundurkan diri dengan sukarela, karena sudah merasa mampu secara ekonomi. Selain itu, para peserta yang mundur untuk memberikan kesempatan kepada warga lain yang berhak menerimanya. 
"Sementara kepesertaan yang lain, mereka mengundurkan diri dari peserta PKH karena memiliki usaha berdagang atau jualan keliling alat-alat tulis, plastik, tali rapia dan barang-barang lainnya. Selain itu, mereka ada juga yang berkebun, dan memiliki usaha atau bertani. Dengan usahanya itu bisa memenuhi kebutuhan keluarga," jelasnya. 
Melihat banyak peserta yang mundur dari kepesertaan KPM PKH, Yanyan memperkirakan akan terus bertambah seiring dengan perbaikan ekonomi
mereka setelah menerima program PKH. 
"Intinya, dengan adanya peserta KPM PKH yang mundur untuk memberikan motivasi kepada peserta lainnya, yang sudah mampu untuk mengundurkan diri dengan sukarela. Mengingat, masih banyak warga lain yang berhak untuk menerimanya yang belum masuk kepesertaan KPM PKH," jelas Yanyan. 
Ia mengatakan, ribuan peserta KPM PKH di Kecamatan Cikancung, mereka rata-rata memiliki tiga hingga empat tanggungan keluarga. Yaitu, tanggungan balita, siswa SD, SMP, dan SMA. Selain itu, ibu hamil, disabilitas dan lansia, di antaranya juga ada yang masuk kategori kepesertaan itu di Kecamatan Cikancung. 
"Diperkirakan 2019 ini ada penambahan kuota keluarga penerima manfaat dari program keluarga harapan. Yang sebelumnya mencapai 6.120, akan bertambah dan melebihi dari jumlah tersebut. Walaupun ada di antara peserta yang mengundurkan diri dari kepesertaan PKH," katanya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA