Sunda Harus Menjadi Indentitas Jabar

Bandung Raya

Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:54 WIB

190820184939-sunda.jpg

deviantart.com

TALKSHOW 'Sundalineals' dengan tema 'Melestarikan Budaya Sunda di tengah Modernisasi', sebagai implementasi berbudaya masyarakat kekinian. Acara yang diinisiasi oleh Praja Muda Beringin (PMB) ini, merupakan menujukan jatidiri Sunda menjadi indentitas sebagai orang Jawa Barat.

Panglima PMB Dedy Arianto mengatakan, budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Di era modernisasi budaya yang ada di Indonesia mulai tersisihkan oleh budaya barat yang masuk dalam sendi kehidupan masyarakat hari ini. Sehingga, budaya mesti dijaga sebagai persatuan bangsa.

"Di era hari ini budaya sangat penting jangan sampai hilang. Meskipun budaya berbeda-beda tapi tetap satu. Kita harapkan seluruj daerah baik Sunda, Jawa, Papua, semua bisa terus menjaga budaya mensosialisasikan budahanya dan semua tetap satu bersaudara kita tetap Indonesia," kata Dedy, usai acara Talkshow 'Sundalineals'di Armor Coffee Dago Pakar Kota Bandung, Selasa (20/8/2019).

Pihaknya pun mengomentari soal budaya-budaya yang semakin hilang, dari mulai kerja bakti, gotong-royong, silaturahmi yang semakin hari tersisih oleh budaya luar yang datang ke kehidupan masyarakat.

Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, budaya hadir dalam diri setiap masyarakat. Misalnya, kita tinggal di daerah yang menganut budaya sunda maka miriplah dengan orang sunda, begitupun ketika kita tinggal di daerah Jawa, maka miriplah dengan orang jawa.

"Jadi yang harus dibangun oleh kita ketika kita tinggal di jawa maka harus mirip orang jawa, ketika tinggal di sunda harus mirip jadi orang sunda, ketika tinggal di papua harus mirip menjadi orang papua," ujarnya.

Budayawan Jawa Barat lainnya, Budi Dalton mengatakan, jargon yang selalu menjadi aksesories politik dalam budaya yaitu 'urang kudu ngamumule budaya' atau kita harus melestarikan budaya sudah tidak relevan lagi.

Karena yang saat ini harus dilakukan, adalah gerakan-gerakan nyata untuk terus menjadikan budaya sebagai identitas diri.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA