Bandung Coffe Festival Angkat Popularitas Kopi Kabupaten Bandung

Bandung Raya

Senin, 19 Agustus 2019 | 14:14 WIB

190819141558-bandu.jpg

Ziyan Muhammad Nasyith

BANDUNG Coffe Festival akan kembali diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung pada 23-25 Agustus 2019 mendatang di Festival Citylink, Jalan Peta, Kota Bandung. Gelaran tersebut menjadi yang ketiga kalinya, sebagai upaya mengangkat popularitas kopi asal Kabupaten Bandung ke tingkat internasional.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Tisna Umaran mengatakan, gelaran tersebut harus dijadikan momen oleh para petani kopi Kabupaten Bandung, untuk meningkatkan wawasan mereka dalam menguji cita rasa produk mereka.

"Pertanian kopi di Kabupaten Bandung dimulai sejak masa rintisan pada 2003-2006. Saat itu kami gencar memperkenalkan kopi sebagai komoditas unggulan pengganti tanaman hortikultura, yang banyak merambah hutan dan kebun," ujar Tisna saat konferensi pers 3rd Bandung Coffe Festival 2019 di Kantor Distan Kabupaten Bandung, Soreang, Senin (19/8/2019).

Tisna menceritakan, awalnya Distan sering mendapat cibiran dan tertawaan dari berbagai kalangan terutama petani. Soalnya, kopi diragukan bisa mengganti tanaman hortikultura yang lebih cepat dipanen dan mendatangkan pendapatan bagi petani.

"Seiring berjalannya waktu, program tersebut akhirnya berbuah hasil manis hingga kopi Kabupaten Bandung masuk golongan spesialti dengan ciri khas rasa lemonnya. Dalam tiga tahun terakhir, luas tanam kopi pun semakin luas hingga mencapai 1.000 hektar," terangnya.

Menurut Tisna, kopi Kabupaten Bandung saat ini sudah diterima pasar lokal dan internasional. Harganya pun terbilang tinggi dengan tren yang terus meningkat. Meski saat ini masih minimnya pengetahuan petani soal uji cita rasa kopi.

"Hal itu membuat masih ada petani yang tertipu oleh eksportir atau pedagang, sehingga kopi mereka diterima dengan harga rendah. Kalau sudah menguasai uji cita rasa, petani bisa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Ketika kopi mereka dinyatakan kualitas rendah, mereka bisa berargumen melalui uji cita rasa," ungkapnya.

Sejak beberapa waktu lalu, Tisna mengaku, terus meningkatkan kemampuan petani dalam uji cita rasa. Selain sejumlah workshop, gelaran 3rd  Bandung Coffee Festival 2019 pun menjadi salah satu sarana yang diharapkan bisa mendongkrak kemampuan petani dalam uji cita rasa.

Selain itu, event tersebut juga diharapkan membuka komunikasi yang lebih intens di masa depan antara petani dan pedagang. Dengan begitu, para petani pun mengetahui kondisi pasar kopi dunia dan bisa beradaptasi sehingga tidak mematok harga terlalu tinggi ketika harga pasaran dunia turun.

Tisna mengatakan, kualitas memang menentukan harga jual kopi di suatu negara. Ia mencontohkan, di Australia kopi Kabupaten Bandung dihargai 10-15 dolar AS per kilogram. Harga itu lebih tinggi dari kopi asal Amerika yang hanya dipatok 5 dolar AS per kilogram.

"Kalau terlalu mahal dan tidak menyesuaikan dengan kondisi pasar, kopi Kabupaten Bandung akan sulit bersaing, karena 90 persen peminat kopi di Australia adalah peminat kopi campuran (blended) bukan single origin, sehingga mereka tidak terlalu memerlukan kopi dengan kualitas tinggi," terangnya.

Sementara itu Project Manager 3rd Bandung Coffee Festival dan Indonesian Coffee Master 2019, Henry Darmawan menambahkan, puncak acara tersebut digelar pada 24-25 Agustus.

"Selain memamerkan produk kopi unggulan asal Kabupaten Bandung dan Jawa Barat, ada juga gelaran Kompetisi Indonesian Coffee Master," ujar Henry.

Kompetisi tersebut, kata Henry, diikuti oleh 16 dari total sekitar 40 peserta yang sudah disaring sejak Februari lalu. Mereka akan bertanding dalam enam disiplin lomba, untuk memperebutkan tiket sebagai Duta Kopi Jawa Barat dan dikirim ke London untuk mengikuti kompetisi serupa tingkat internasional.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA