Dampak Kemarau, Petani Optimalisasi Penggunaan Pompanisasi

Bandung Raya

Rabu, 14 Agustus 2019 | 16:50 WIB

190814165156-dampa.jpg

Engkos Kosasih

DAMPAK perubahan iklim, lahan seluas 60 hektare di Desa Bojongemas, Kecamatan Solokanjeruk Kabupaten Bandung rawan terancam kekeringan. Hal itu akibat pasokan air di sejumlah aliran sungai maupun saluran irigasi sudah mulai berkurang, bahkan habis pada musim kemarau tahun ini.

Sementara itu, seluas 203 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bandung yang dilanda kekeringan. Dari 203 hektare itu, seluas 151 hektare (ringan), 41 hektare (sedang) dan 11 hektare (berat). Sedangkan luas lahan yang terancam 1.381 hektare.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Solokanjeruk, Aang Sudrajat mengatakan, luas lahan sawah keseluruhan di Desa Bojongemas mencapai 329 hektare, dengan umur tanaman berkisar antara 21-60 hari setelah tanam.

"Namun saat ini seluas 60 hektare terancam kekeringan. Sementara lahan pertanian di Kecamatan Solokanjeruk, pengairannya dari Sungai Citarik dan Sungai Citarum," kata Aang kepada galamedianews.com di Solokanjeruk, Rabu (14/8/2019).

Dalam penanggulangan dampak perubahan iklim, imbuh Aang, yaitu dengan cara melakukan pompanisasi atau menarik air dari Sungai Citarik dan Sungai Citarum. "Penarikan air itu dengan cara memanfaatkan pompa milik pribadi atau pompa bantuan pemerintah. Namun untuk pengoperasian pompa tersebut, yaitu dengan cara pemberdayaan petani dalam segi biaya," kata Aang.

Dikatakannya, areal atau lahan sawah yang potensial dilakukan pompanisasi yang berada tidak jauh dari sumber air seperti aliran ungai, khusus di wilayah Desa Bojongemas.

"Saat ini sudah terdapat beberapa jaringan irigasi yang bisa menjangkau areal pesawahan yang berada jauh dari sungai atau tengah hamparan seperti di Kelompok Tani Jati Waluya dan Kelompok Tani Karya Tani," jelasnya.

Jauh sebelum datangnya musim kemarau, imbuh Aang, sejumlah petani/kelompk tani sudah diarahkan tidak menanam dulu padi dikhawatirkan ketersediaan air di beberapa wilayah aliran sungai tidak akan mencukupi.

"Mereka diarahkan untuk menanam komoditas yang tidak membutuhkan banyak air dan berumur pendek. 
Risko dari dampak kekeringan bisa mengakibatkan tanaman berumur vegetatif, pertumbuhannya tidak bagus dan bisa mengakibatkan tanaman kering gagal tanam," ungkapnya.

Dikatakan Aang, tanaman berumur atau fase generatif resiko kerugiannya lebih besar lagi karena tanaman sudah dilakukan pemupukan maksimal dan sudah mulai berproduksi.

"Jauh sebelum tanam, para petani yang memiliki lahan potensial kekeringan diarahkan menanam palawija yang berumur genjah, dan juga di arahkan untuk mengikuti asuransi usaha tani padi (AUTP)," katanya.

Tanaman padi mulai berproduksi (berbuah) kalau mengalami kekeringan dikarenakan pasokan air berkurang, imbuh Aang, bahkan tidak ada bisa menghambat proses pembentukan buah. "Perkembangan buah yang menyebabkan produksi menurun drastis bahkan mengalami kematian dan gagal panen," tuturnya.

Beruntungnya di beberapa wilayah di Kecamatann Solokanjeruk, khususnya di Desa Bojongemas bisa ditekan dampak kemarau tahun ini dengan cara dilakukan pompanisasi dengan mengandalkan sumber air Sungai Citarik dan Sungai Citarum.

"Kita berusaha untuk memanfaatkan atau optimalisasi alat mesin pertanian bantuan pemerintah," ucapnya.

Lebih lanjut Aang mengatakan, dampak kekeringan itu, produksi menurun, bahkan tanaman mengalami kematian pada saat tanaman masih kecil atau fase vegetatif.

"Kalau sampai tidak terairi samasekali akibat habisnya debit air dari sungai, tanaman akan mati. Hal itu mengakibatkan kerugian materi yang tidak sedikit bagi petani. Alhamdulillah sampai saat ini belum terjadi kekeringan yang parah dikarenakan terus diupayakan pompanisasi," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA