Aktivitas Meningkat, Pengunjung Diimbau Dilarang Mendekat Kawah Gunung Tangkubanparahu

Bandung Raya

Senin, 22 Juli 2019 | 17:18 WIB

190722171904-aktiv.jpg

Dicky Mawardi

WISATAWAN yang berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Tangkubanparahu diimbau jangan mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas. Selain itu tidak diperbolehkan menginap/berkemah di kawasan kawah aktif tersebut.

Imbauan itu disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi pada Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana 
Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan dihubungi galamedianews.com, Senin (22/7/2019).

Selain itu, wisatawan dan pendaki juga diminta memperhatikan kondisi cuaca. "Ketika cuaca mendung dan hujan diiimbau jangan berada di dekat kawah aktif dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang membahayakan manusia," kata Hendra.

Berdasarkan rekaman seismograf pada Minggu (21/7/2019) dari pukul 00.00-24.00 WIB terjadi 425 gempa hembusan, 2 kali gempa tremor harmonik, 3 kali gempa low frequency, 3 kali gempa vulkanik dalam dan 3 kali gempa tektonik jauh. Dari pengamatan visual pada Senin (22/7/2019) pukul 06.00 WIB, menunjukan asap kawah utama bertekanan lemah-sedang teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara dan selatan.

Hendra mengingatkan kepada masyarakat di sekitar Gunung Tangkubanparahu, pengunjung/wisatawan, pendaki dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Mengenai gempa yang terekam seismograf, Hendra menjelaskan, belum dapat dibilang peningkatan karena evaluasi dari PVMBG belum selesai mengumpulkan dan mengolah datanya.

"Kalaupun jumlah gempa hembusan meningkat, sebenarnya dua minggu lalu lebih besar lagi. Malah beberapa hari belakangan terus menurun sehingga status Gunung Tangkubanparahu masih dalam level 1 atau normal. Wisatawan masih bisa mengunjungi Tangkubanparahu dengan tetap memperhatikan perkembangan aktivitas gunung dari BPBD dan pengelola," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kejadian ini selalu berulang, pernah terjadi tahun lalu dan tahun sebelumnya. 

"Kita belum tahu apakah surutnya muka air tanah karena musim kering berpengaruh terhadap kondisi yang terjadi saat ini di Gunung Tangkubanparahu," ujarnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA