990 Hektare Lahan Pertanian di Kabupaten Bandung Terancam Kekeringan

Bandung Raya

Minggu, 21 Juli 2019 | 11:02 WIB

190721110405-990-h.jpg

Engkos Kosasih

LAHAN pertanian seluas 990 hektare di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bandung terancam kekeringan, Minggu (21/7/2019). Ancaman kekeringan itu semakin meluas, setelah sebelumnya tercatat seluas 557 hektare lahan pertanian padi yang terancam kekeringan.

Ancaman itu disebabkan musim kemarau yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir ini. Kawasan pertanian padi yang terancam kekeringan di antaranya di Kecamatan Cikancung, Solokanjeruk, Nagreg, Baleendah, Arjasari dan kecamatan lainnya.

Sementara luas lahan pertanian padi yang ditanami di Kabupaten Bandung seluas 20.263 hektare pada musim tanam tahun ini. Dengan usia tanam bervariasi, yaitu antara satu hari setelah tanam sampai panen.

"Selain 990 hektare lahan pertanian padi yang terancam kekeringan, seluas 120 hektare sudah dilanda kekeringan dengan intensitas ringan (89 hektare), sedang 27 hektare dan berat (4 hektare). Sampai saat ini belum ada yang sampai puso," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, H. A. Tisna Umaran, kepada galamedianews.com di Baleendah, Minggu (21/7/2019) siang.

Didampingi Kabid Sarana Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Yayan Agustian, dan Kasi Perlindungan Tanaman Pertanian, Agus Lukman, Tisna mengatakan, rasio luas kekeringan dibandingkan luas tanam (20.263 ha) hanya mencapai 0,59 persen. Menurutnya, mayoritas terkena kekeringan adalah sawah tadah hujan.

"Penyebab kekeringan tidak turun hujan lebih dari 41 hari. Potensi sumber air hanya cukup mengairi sawah yang dekat dengan sumber air," kata Tisna.

Ia mengatakan, faktor utama penyebab kekeringan, target tanam yang dipaksakan oleh para petani pada pesawahan yang rendah potensi air.
"Kebanyakan petani tidak mengindahkan kesepakatan yang direkomendasikan petugas pertanian (spekulasi)," ungkapnya.

Varietas padi yang dilanda kekeringan maupun terancam, katanya, yakni ciherang, sintanur, inpari 32, 33, rojolele, dan varietas lokal lainnya.
Dinas Pertanian terus melakukan upaya penanggulangan kekeringan. Di antaranya melakukan perbaikan saluran irigasi (jitut, jides).

"Mobilisasi pompa air untuk mengamankan standing crop terutama pada daerah yang masih mempunyai sumber air (sumur pantek, sungai dsb)," katanya.

Upaya lainnya, imbuh Tisna, melakukan penerapan teknologi pengairan efektif dan efisien supaya areal yang terairi lebih luas (gilir giring, intermetern, dsb).

"Kami juga turut mengingatkan kepada para petani yang akan melakukan penananam, untuk memanfaatkan informasi iklim untuk memperhitungkan kecukuan air hingga panen. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menanam varietas padi umur genjah dan tahan kekeringan," harapnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA