Ridwan Kamil Diajak Sama-sama Selesaikan Permasalahan GBLA

Bandung Raya

Sabtu, 20 Juli 2019 | 15:59 WIB

190720155120-ridwa.jpg

Ginanjar Arief Pratama

Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengajak mantan Wali Kota Bandung sekaligus Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, untuk menyelesaikan permasalahan GBLA secara bersama-sama. Apalagi Ridwan Kamil sudah mengetahui kendala serah terima aset antara PT Adhi Karya bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

"Jadi masih ada masalah di GBLA, GBLA dibangun tiga tahap, tahap satu sudah diserah terimakan tahap dua belum, tahap tiga sudah. Saya pikir Pak Gubernur pernah jadi Wali Kota Bandung tentunya paham masih ada masalah yang mengganjal karena belum ada serah terima dari PT Adhi Karya khususnya tahap kedua," tegas Yana saat dijumpai di Lapangan Lodaya, Kota Bandung, Sabtu (20/7/2019).

Jika proses serah terima belum selesai secara utuh, pihaknya tidak bisa menganggarkan anggaran pemeliharaan. Mengingat, PT Adhi Karya masih memiliki tanggung jawab untuk memelihara GBLA selama 10 tahun.

"Kalau sekarang tahap satu, dua dan tiga secara utuh belum di serah terimakan itukan sebetulnya sebagian besar pemeliharaan ada di PT Adhi Karya, karena sampai tahun 2023 kewajiban PT Adhi Karya itu masih tetao untuk melihara GBLA," katanya.

Apabila pihaknya masih tetap memaksakan untuk menganggarkan biaya pemeliharaan khususnya di bagian luar stadion, kursi dan lantai tiga (tahap kedua) Maka disebutkan akan terjadi duplikasi anggaran.

"Jadi kita tidak boleh duplikasi anggaran, tahap dua itu bukan diluar saja, tahap dua itu ada kursi, ada lantai tiga, jadi cukup sulit kita menganggarkan sesuatu yang itu ada kewajiban pihak lain termasuk secara anggaran Pemerintah kan tidak boleh duplikasi," jelasnya.

Menurutnya, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) telah menemukan terdapat Wanprestasi dari PT Adhi Karya senilai Rp 4,7 Milyar. Hal tersebut perlu diselesaikan oleh pihak terkait, termasuk tanggung jawab gagal konstruksi.

"Maka kemarin saya minta instansi terkait untuk segera berkomunikasi lagi, karena ada versi, saat tahap kedua mau diserah terimakan ada temuan dari BPK bahwa seolah-olah ada wanprestasi dari Adhi Karya senilai Rp 4,7 Milyar. Mereka merasa sudah selesai, tidak mau bayar. Kami kan tidak bisa menghapus karena itu temuan BPK," tegasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA