Istana Ingin Mendag Dongkrak Ekspor RI ke Cina

Bandung Raya

Kamis, 18 Juli 2019 | 20:57 WIB

190718205844-istan.jpg

net

NERACA perdagangan Indonesia sudah mulai surplus per juni 2019. Namun, ekspor Indonesia harus terus ditingkatkan dengan melihat peluang dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina.  Istana mengamini perluasan ekspor harus dilakukan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dan jajarannya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan peningkatan ekspor itu. Termasuk, utamanya dengan Cina.

Staf Khusus Presiden bidang ekonomi, Ahmad Erani Yustika mengatakan, Presiden Jokowi selalu menekankan agar ekspor terus ditingkatkan.

"Presiden ingin kinerja perdagangan diperbaiki, baik dengan jalan meningkatkan ekspor ke negara tradisional maupun nontradisional dan mengendalikan impor, salah satunya dengan cara menginisiasi industri substitusi impor," kata Erani dalam siaran persnya, Kamis (18/7/2019).

Erani melanjutkan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sudah memacu ekspor dengan memperluas pasar. Langkah tersebut sedikit banyak sudah membuahkan hasil. Tahun lalu, ekspor Indonesia naik ke negara-negara nontradisional, seperti Bangladesh (15,9 persen), Turki (10,4 persen), Myanmar (17,3 persen), Kanada (9,0 persen), dan Selandia Baru (16,8 persen).

"Tahun ini, pemerintah fokus ke pasar Afrika, dengan menandatangani 12 perjanjian. Tiga di antaranya merupakan target pasar baru (sejak 2018), yakni Mozambik, Tunisia, dan Maroko," katanya.

Selain dengan beberapa negara di Afrika, pemerintah juga memacu perdagangan dengan Iran  dan Turki. Kemudian memacu kinerja sektor industri. Peranan produk industri terhadap nilai ekspor semakin meningkat dan mencapai di atas 70 persen pada 2018.

"Agar terus meningkat, Kementerian Perindustrian sebagai anggota Komite Penugasan Khusus Ekspor (KPKE) mendorong dari sisi pembiayaan lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)," katanya.

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Marolop Nainggolan sebelumnya mengatakan, Indonesia dapat memanfaatkan potensi pasar Ciina yang penduduknya berjumlah 1,4 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya tentu pemerintah Cina tidak dapat mengatasinya sendiri.

Neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2019 tercatat surplus sebesar USD 0,2 miliar. Meski surplus, ekspor Indonesia juga harus terus digenjot dengan memanfaatkan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. Sejumlah kalangan meminta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk menggeber peluang itu dengan melobi langsung pemerintah Cina.

Pimpinan Komisi VI Inas Nasrullah Zubir mengatakan Indonesia harus meningkatkan ekspor produksi lantaran banyak yang berpotensi. Oleh karena itu, Inas menyarankan Mendag pergi ke Cina untuk melakukan lobi dan mengetahui apa yang dibutuhkan di sana. Apalagi, kata dia, tenaga kerja di Cona sangat mahal.

"Jadi apa yang bisa produksi bisa kita tawarkan. Ya saya kira kalau emang ada yang bisa dibicarakan perlu ke Cina. Nah saya kira apa yang bisa kita ekspor sama kita, kita izin kita ekspor ke sana," kata Inas.

Pimpinan Komisi VI lainnya, Azam Azman Natawijana mengatakan Mendag bisa langsung ke Cina untuk melobi agar ekspor Indonesia meningkat. Sehingga komoditi Indonesia bisa terus diterima Cina.

Apalagi, kata dia, Indonesia punya perjanjian dengan Ciina. Perjanjian itu pun punya payung hukum. "Nah itu bisa dipakai," katanya.

Namun, ia menekankan bahwa Indonesia harus memiliki barang yang kompetitif agar Cina tertarik. Menurutnya, produk Indonesia masih kalah dengan milik Cina.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA