Jawa Barat Jadi Calon Tuan Rumah Muktamar ke-34 NU 2020

Bandung Raya

Kamis, 18 Juli 2019 | 19:17 WIB

190718191724-jawa-.jpg

ist

JAWA Barat termasuk salah satu calon tuan rumah Muktamar ke-34 Nahdatul Ulama (NU) pada 2020. Penentuan tempat muktamar ini akan diputuskan pada acara pertemuan pra-muktamar yang akan berlangsung di Purwakarta pada September mendatang.

Hal ini dikemukakan juru bicara Panitia Lokal Pra Muktamar Nahdatul Ulama K.H. Maman Imanulhaq setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil di Gedung Pakuan Bandung Kamis (18/7/2019). Turut mendampingi Maman, K.H. Abun Bunyamin, pengasuh Pondok Pesantren AlMuhajirin Purwakarta.

Maman mengatakan, selain Jabar ada tiga daerah lain yang akan jadi saingan Jabar yaitu Kalimantan Selatan, Lampung dan Bali. Jawa Barat menjadi tuan rumah Muktamar ke-29 organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia ini pada 1996 bertempat di Ponpes Cipasung Singaparna Kab. Tasikmalaya. Muktamar terakhir pada Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur yang memilih kembali K.H. Agil Siradj sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU.

“Kepastian tempatnya akan ditentukan pada pra muktamar di Ponpes AlMuhajirin Purwakarta,” kata Maman.

Beberapa tempat di Jabar yang jadi wacana antara lain Sukabumi, Bandung, Cirebon dan Tasikmalaya. Kepada gubernur, pengasuh Ponpes AlMuhajirin Dr. K.H. Abun Bunyamin M.A. berharap agar Jabar terpilih kembali sebagai tuan rumah. Jika terpilih, maka hal itu merupakan kesempatan untuk memperlihatkan keunggulan Jabar dalam berbagai hal.

Pertemuan pra muktamar sendiri akan berlangsung pada 20 September. Peserta resmi yang akan hadir adalah para pimpinan pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia dengan jumlah 1000 orang. “Kalau dengan peserta tidak resmi, jumlahnya bisa mencapai 6000 orang,” ujarnya.

Selain akan membahas calon tuan rumah muktamar, pertemuan pra muktamar juga akan menggelar  bazaar. Acara bazaar ini akan menampilkan produk-produk pesantren se-Indonesia sebagai bentuk pemberdayaan pesantren. “Ini sesuai dengan program pak Gubernur tentang one pesantren one product (OPOP),” kata Maman.

Selain bazar, pra muktamar juga akan menyelenggaran seminar bertemakan pemberdayaan pesantren berbasis 4.0, seminar genealogi pesantren NU di Jabar, dakwah digital, dan seminar pertanahan.

Seminar genealogi penting untuk mengkaji hubungan pesantren di Jabar. Misalnya kakek Ridwan Kamil, K.H. Muhyidin yang dikenal dengan nama Mama Pagelaran membuka pesantren di Cimalaka Sumedang. Ketika Mama Pagelaran pindah ke Subang, pesantren Cimalaka itu dikelola kakek Maman yaitu Mama Mualim Faqih. Seminar genealogi ini akan memetakan kembali hubungan-hubungan pesantren di Jabar.

Ridwan Kamil mengusulkan agar santri-santri milenial bisa mengikuti perkembangan zaman. Pemberdayaan ekonomi berbasis 4.0 dan dakwah digital agar bisa menyentuh juga masyarakat luar pesantren. Sedangkan seminar penggunaan tanah akan memberikan masukan kepada negara masalah hukum tanah maupun hukum agama. Tujuannya, untuk membantu menyelesaikan persengketaan tanah karena batas-batas yang tidak jelas. Juga agar masyarakat bisa memiliki panduan tentang mengelola tanah.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA