Tolak Revisi UU Ketenagakerjaan, Buruh Jabar Ancam Unjuk Rasa

Bandung Raya

Senin, 15 Juli 2019 | 17:44 WIB

190715174551-tolak.jpg

ist

BURUH di Jawa Barat bakal menggelar aksi unjuk rasa menolak rencana revisi UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasalnya, revisi UU akan merugikan kaum buruh.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Roy Jinto mengatakan, rencana aksi unjuk rasa menyikapi revisi UU Nomor 13 tengah dibahas dalam Musyawarah Daerah (Musda) V Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP TSK SPSI).

"Sepanjang merugikan buruh, kami akan menolak. Kami akan mencari solusi atas revisi tersebut. Kami akan membuat kajian secara akademisi. Tak hanya demo, kami akan tolak secara yuridis," kata Roy di Hotel Topas, Jalan Djunjunan, Kota Bandung, Senin (15/7/2019).

"Kami akan turun ke jalan menolak revisi UU Ketenagakerjaan. Berserakan draf yang beredar, kami melihat (revisi UU Ketenagakerjaan) sangat merugikan buruh. Dari 37 pasal yang beredar akan direvisi, hampir semua merugikan," tegas Roy.

Roy mengungkapkan, beberapa perubahan pada pasal itu di antaranya terkait jumlah pesangon dari 9 bulan menjadi 5 bulan. Sementara pemerintah mengusulkan 7 bulan. Draft tersebut juga mengusulkan perubahan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau kontrak menjadi 5 tahun.

Poin lainnya, tenaga kerja asing boleh duduki jabatan tertentu. Serta sistem pengupahan yang direkomendasikan menjadi dua. Yaitu pengupahan per jam dan padat karya. Bila hal itu diterapkan, pihaknya menilai terjadi diskriminasi perburuhan.

Sebelumnya, Kadisnakertrans Jawa Barat, M Ade Afriandi menyatakan, rencana revisi UU Ketenagakerjaan akan menjadi perhatian Disnakertrans. Pihaknya akan merangkum keluhan buruh dna stake holder untuk disampaikan ke pusat.

"Bahwa ini suara bersama dari Jawa Barat. Tak hanya tenaga kerja, tetapi juga stakeholder ketenagakerjaan Jabar. Kita tak hanya melihat satu sisi, tetapi bagaimana pekerja sejahtera dan perusahaan eksis," katanya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA