Haneut Moyan Ajarkan Anak-anak Cinta Lingkungan Sejak Dini

Bandung Raya

Minggu, 14 Juli 2019 | 18:00 WIB

190714175659-haneu.jpg

ANAK- anak usia dini mulai diarahkan pada pencintaan lingkungan terutama pelestarian sungai Citarum sebagai sumber peradaban dunia guna mensukseskan program pemerintah Citarum Harum.

Program tersebut di inisiasi oleh Anak Kali Citarum Foundation dengan acara kemah di Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan acara yang berjudul "Haneut Moyan" dalam acara tersebut anak anak diberikan edukasi tentang alam.

Melalui kemah keluarga, anak-anak dan keluarga diharapkan sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan, terutama dalam mengatasi persoalan sampah. Sebab, persoalan sampah adalah persoalan perilaku, sehingga diperlukan perubahan perilaku masyarakat untuk mengatasi persoalan ini.

"Sampah telah menjadi sebuah persoalan yang mendapat sorotan beberapa waktu terakhir. Bagaimana Paus Sperma di Wakatobi mati karena makan sampah plastik," ujar Sesepuh Anak Kali Citarum Dedi Barnadi, Minggu (14/7/2019).

Dalam kegiatan yang digelar selama dua hari berturut-turut, mulai Sabtu 13 Juli 2019 kemarin hingga hari ini, Minggu (14/7/2019), para peserta diwajibkan membawa donasi berupa buku sebagai syarat mengikuti kegiatan ini. Buku hasil donasi tersebut akan dibagikan kepada anak-anak sekolah di sekitar lokasi kegiatan.

"Selain itu, peserta juga tidak boleh membawa makanan dan minuman berkemasan sekali pakai," ujarnya.

Dedi melanjutkan, Haneut Moyan yang digelar untuk ketiga kalinya ini merupakan kemah keluarga gerakan lingkungan hidup dan diikuti sekitar 550 peserta anggota komunitas dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia.

"Target acara ini sebenarnya adalah bagaimana memberikan edukasi terhadap anak anak sebagai generasi penerus, agar menjadi manusia yang benar-benar bisa menjaga alamnya," ucap Dedi.

Rangkaian kegiatan Haneut moyan yang digelar dua hari satu malam ini diawali oleh beberapa penampilan musisi peduli lingkungan pada malam harinya, di antaranya Karinceut (karinding), Huni Band, Rumah Mimpi, Somalia Project, Seni Tradisional Buncis, Artis Cilik Cangcimen, Motekar Voice, Abah Diki, dan Alunan Semesta.

"Menariknya, hadir juga seorang anak sekolah kelas sepuluh SMK di Pangalengan yang cukup berprestasi, yakni Arum dimana biaya sekolahnya berasal dari memungut dan memilah sampah yang kemudian dijualnya hingga bernilai ekonomis," kata Dedi.

Tidak hanya penampilan musisi, lanjut Dedi, seluruh peserta juga mengikuti diskusi lingkungan yang membahas persoalan sampah di Indonesia bersama narasumber yang juga aktivis lingkungan Dadang Sudarja.

"Acara puncak Hanet Moyan digelar pada pagi hari, saat matahari terbit, dimana musisi peduli lingkungan Budi Cilok membawakan beberapa lagu bertema lingkungan dan dilanjutkan dengan melepas burung dan menebar ikan oleh anak-anak untuk memperbaiki ekosistem lingkungan tempat acara," ucapnya.

Dedi menambahkan, anak anak yang mengikuti kegiatan pun diberikan sertifikat duta lingkungan. Mereka diharapkan bisa menyebarluaskan pengalamannya, termasuk berbagi kebaikan soal lingkungan yang didapat dari kegiatan Kemah Keluarga Haneut Moyan.

Sementara itu, musisi peduli lingkungan Budi Cilok berharap, para peserta Haneut moyan nantinya bisa memberikan contoh pentingnya menjaga lingkungan kepada teman-temannya maupun masyarakat luas.

"Minimal kita memberikan contoh kepada anak dan keluarga kita untuk tidak membuang sampah sembarangan," kata Budi Cilok yang juga Ketua Anak Kali Citarum Foundation.

Untuk diketahui, Haneut Moyan merupakan kalimat bahasa Sunda yang berarti waktu antara pukul 07.00-08.00 pagi. Pada waktu inilah, manusia mulai beraktivitas setelah istirahat semalaman.

Pada waktu ini juga, otak manusia menyiapkan ruang baru yang lebih segar untuk menerima gagasan dan rencana yang akan dilakukan. Saat pagi inilah, lantunan musik yang bertemakan pelestarian alam masuk dalam ruang baru otak kita, agar bisa bersama menjaga kelestarian alam kita.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA