Ini Alasan Ketua DPD Golkar Kota Cirebon Dipecat

Bandung Raya

Selasa, 9 Juli 2019 | 20:04 WIB

190709195016-ini-a.jpg

KETUA DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi blak-blakan soal pemecatan ketua DPD Golkar Kota Cirebon Toto Sunarto, Toto sudah tidak pantas pimpin Golkar.

Dalam pemecatan ini kesalahan yang paling fatal dilakukan oleh Toto adalah penggunaan uang partai untuk keperluan pribadi, dan penyalahgunaan dana saksi partai di pemilihan presiden tempo lalu.

Akan tetapi bukan hanya disitu Dedi juga mengaku, mendapatkan informasi bahwa Toto juga sempat menemui calon ketua umum partai Golkar selain Airlangga Hartanto yang sudah didukung penuh oleh Golkar Jawa Barat.

"Kalau orang ke sana ke mari kan tahu, mental seperti ini yang harus dihentikan di Golkar, yaitu mental cari ongkos," tegas Dedi dalam konferensi pers di Kantor DPD Partai Golkar Jabar, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Selasa (8/7/2019).

Padahal Toto sudah menandatangi surat dukungan untuk Airlangga Hartanto ditandatangi dan distempel basah, bahkan hingga saat dukungannya belum dicabut.

Lebih Lanjut Dedi menegaskan, hasil rapat pleno DPD Partai Golkar Kota Cirebon yang menetapkan dukungan terhadap Airlangga Hartarto sifatnya mengikat dan harus dipertanggungjawabkan. Pihaknya tidak menginginkan kader Partai Golkar memiliki mental yang buruk, yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

"Kita fair ya, Golkar ini harus baik. Jadi yang udah ke sana juga belum tentu ke situ juga milihnya. Kalau ada calon ketiga, itu pindah lagi ke calon ke tiga. Nah mental seperti ini harus segera dibenahi," ujar Dedi.

Dedi mengaku kecewa dengan kapasitas Toto. Sebagai orang nomor satu di Partai Golkar Kota Cirebon, kata Dedi, Toto tak mampu meraih kursi di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

"Bayangkan saja, ketua DPD kota mencalonkan menjadi anggota DPRD kota tidak terpilih di dapilnya. Terus kalau giliran munas paling rajin nemuin calon. Ayo kira kira bagaimana?" katanya.

Bahkan, Dedi pun tak sungkan menyinggung persoalan pribadi Toto, khususnya terkait materi. Menurut Dedi, Toto kerap tidak menepati janji saat meminjam uang untuk kepentingan pribadinya.

"Kalau ngomongin persoalan pribadi, persoalan materi nih kita saksinya. Pak Toto itu biasa, mau hajat pinjam gak balikin," kata Dedi seraya diamini Sekretaris DPD Partai Golkar Jabar Ade Barkah yang mendampingi Dedi.

"Ya sudah lah, kita kan gak mau punya kader yang terus-terusan menjadikan munas-musda sebagai ajang perusahaan," ucapnya.

Meski begitu, Dedi kembali menegaskan bahwa pemecatan Toto bukan didasari alasan manuver Toto untuk mendukung Bamsoet, melainkan karena berbagai pelanggaran yang dilakukannya.

"Apalagi, surat (pemecatan) kan keluar tanggal 18 Juni (sebelum Toto bertemu Bamsoet)," kata Dedi.

Sebelumnya, Dedi menyatakan, terdapat tiga alasan pemecatan Toto. Pertama, tidak mempertanggungjawabkan penggunaan dana partai 2018 lalu. Kedua, Toto diduga tidak menggunakan seluruh dana saksi di Pemilu 2019.

Terakhir, Toto tidak mampu mengelola organisasi hingga DPD Partai Golkar Kota Cirebon porak poranda.

Namun, Toto Sunarto menganggap, pemecatannya sebagai rekayasa DPD Partai Golkar Jabar.

Toto membantah dirinya dipecat gara-gara menyalahgunakan dana partai seperti yang disangkakan DPD Partai Golkar Jabar.

Menurut dia, pemecatan tersebut akibat dukungan politiknya kepada Bamsoet yang bakal maju sebagai kandidat calon Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar. Toto mengakui, dirinya memang melakukan manuver untuk mendukung Bamsoet ketika mengunjungi Ketua DPR RI itu di Kompleks DPR RI Jakarta, Senin (27/6/2019) lalu.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA