Harga Garam Anjlok Akibat Permainan Tengkulak

Bandung Raya

Selasa, 9 Juli 2019 | 19:43 WIB

190709194141-harga.jpg

agrifood.id

Ilustrasi.

HASIL penelusuran Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) provinsi Jawa Barat terhadap harga garam yang anjlok di kalangan petani, ternyata diakibatkan ulah tengkulak.

KEPALA Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat, Jafar Ismail mengatakan, dari hasil laporan, perusahaan produsen garam membeli garam dengan harga yang standar yaitu sekitar 1.500 per kilogram. Namun petani menjual garamnya mulai dari Rp 300 sampai Rp 700 perkilogram sesuai dengan kualitas.

"Ini ada masalahnya ada dari petani yang menjual ke tengkulak, padahal harga eceran terrendah garam itu masih diangka Rp 1.000. Artinya perusahaan produsen masih membeli harga garam cukup tinggi," kata Jafar Selasa (9/7/2019).

Kemudian informasi lain, petani garam sering meminjam uang kepada tengkulak pada saat musim tidak panen. Sehingga pada saat musim panen petani menjual terpaksa ke tengkulak dengan harga yang rendah untuk meringkan beban hutang mereka.

"Memang perusahaan ini juga sulit untuk masuk langsung membeli garam langsung ke petani, selalu dicegah oleh tengkulak," ujarnya.

Jafar mengatakan, pihaknya akan mencarikan solusi untuk para petani agar tidak meminjam uang kepada tengkulak agar harga garam mereka tidak di jual dengan murah kepada tengkulak.

"Mungkin dengan pola pembentukan koprasi yang sehat, sehingga ketika petani butuh uang bisa pinjam melalui koprasi ini. Itu salah satu solusi yang akan ditawarkan oleh kami pada petani garam," ucap dia.

Sementara itu terkait jumlah produkis garam saat ini cukup melimpah, dari catatan Diskanlut, stok dari tahun 2018 masih ada sekitar 37 ton dan tersimpan di masing-masing gudang penyimanan dan belum terjual.

"Kemudian produksi saat ini hingga bulan Juli ada sekitar 2000 ton, stok garam ini akan bertambah karena memasuki puncak panen di bulan Agustus dan September," ujarnya.

Jafar menambahkan, ada hal yang memang menyebabkan rusaknya harga garam yaitu masuknya garam untuk industri ke pasaran, padahal garam untuk industri itu kualitas terendah.

"Mungkin karena murah maka dilahap oleh pasaran, padahal itu tidak boleh karena kulitasnya jelek," ujarnya.

Kedepan, menurut jafar, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk mengatur pola pemasaran garam. "Memang untuk jalur penjualan itu ranah dinas perdagangan. Kami hanya berwenang pengawasan di tingakat petani," tuturnya.



Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA