Unik, Ada Masjid Berdesain Arsitektur Kakbah di Baleendah

Bandung Raya

Selasa, 9 Juli 2019 | 15:44 WIB

190709154523-unik-.jpg

Ziyan Muhammad Nasyith

Masjid Al Majid di Jln. H. Mulya RT 02/RW 10, Kp. Kawungsari, Kel. Wargamekar, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, memiliki desain arsitektur menyerupai tempat suci umat Islam seluruh dunia, yakni Kakbah.

MASJID menjadi salah satu tempat suci bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah dan juga berbagai kegiatan, seperti ceramah, diskusi, kajian agama dan juga tempat belajar Al-Quran dan Hadist. Tak heran, sebagai tempat yang dimuliakan Allah SWT, banyak Masjid yang dibangun dengan desain arsitektur indah dan megah.

Dalam perkembangan zaman, Masjid telah melalui serangkaian tahun-tahun terpanjang dalam sejarah hingga saat ini. Selama lebih dari 1000 tahun pula, arsitektur Masjid perlahan-lahan mulai menyesuaikan dengan arsitektur modern..

Setiap negara yang memiliki warga negara muslim pasti memiliki masjid-masjid yang indah dan nyaman. Terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam.

Tidak hanya indah dan megah saja, banyak juga masjid-masjid di Indonesia yang dibangun dengan bentuk yang sangat unik. Salah satunya Masjid Al Majid di Jln. H. Mulya RT 02/RW 10, Kp. Kawungsari, Kel. Wargamekar, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, yang dibangun menyerupai tempat suci Umat Islam dari seluruh dunia yaitu Kakbah, yang terletak di pusat Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Sekilas masjid ini memang tampak mirip dengan bangunan asli Kakbah di Masjidil Haram.

Layaknya Kakbah, Masjid ini juga berbentuk kubus besar dengan tembok yang dicat berwarna hitam menyerupai Kiswah (kain hitam yang menyelimuti Kakbah). Di atas tembok berwarna hitam ini, tampak hiasan kaligrafi yang berwarnakan tinta emas di setiap sisi Masjid, kecuali bagian belakang.

Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan kaligrafi seperti pada pintu Kakbah, namun hanya berupa hiasan saja, tidak difungsikan sebagai pintu di Kakbah. Agar tampak lebih mirip dengan bangunan aslinya, pada bagian sudut kiri pintu Kakbah, juga terdapat ornamen Hajar Aswad (batu hitam).

Masjid ini memiliki dua lantai, dimana lantai pertama diperuntukan bagi jemaah pria, dan di lantai dua diperuntukan bagi jemaah perempuan. Terdapat tangga penghubung ke lantai dua di bagian belakang Masjid, menyatu dengan tempat wudhu dan toilet.

Pintu masuk Masjid berada di bagian belakang dan di bagian samping kiri Masjid lengkap dengan tiga jendela yang berjejer di sampingnya. Sementara bagian dalam Masjid belum terlalu banyak ornamen yang mencolok, hanya ada hiasan lafadz Allah dan Nabi Muhammad serta kaligrafi di bagian depan atas. Terdapat lemari Al-Quran dan kitab-kitab di sudut depan kanan dan kiri, serta mimbar khutbah dan dudukan Al-Quran tempat mengaji atau berceramah di bagian tengah.

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Majid, Yayan Badruzaman (38) menuturkan, Masjid tersebut dibangun pertama kali pada 1980'an oleh kakek. Seiring berkembangnya zaman, banyak bagian dari bangunan Masjid tersebut yang rusak.

"Karena banyak yang rusak, makanya Februari kemarin mulai direnovasi dan selesai sebelum lebaran. Masjid ini berukuran 7x8 meter persegi dengan ketinggian 7 meter, dan mampu menampung hingga 150 jemaah," ujar Yayan saat ditemui di Masjid Al Majid, Baleendah, Kab. Bandung, Selasa (9/7/2019).

Menurut Yayan, Masjid tersebut merupakan peninggalan dari kakek buyutnya. Bangunan awal Masjid merupakan sebuah tajug sederhana yang dibangun di atas kolam ikan. Dibangun dengan ukuran 3x3 meter persegi, dengan model bangunan panggung terbuat dari bahan bilik, kayu dan bambu.

"Dulu mah ini teh balong semua, kemudian di atasnya dibangun tajug. Di pinggirnya sawah-sawah, jadi tempat orang-orang salat kalau selesai bekerja di sawah," katanya.

Kemudian seiring dengan pesatnya pembangunan di daerah tersebut, sekitar 1980'an bangunan tajug diganti menjadi bangunan Masjid permanen yang sangat sederhana. Dan pada Februari lalu bangunan Masjid lama direnovasi menjadi berbentuk Kakbah.

"Kenapa harus Kakbah? karena kami sekeluarga dan juga jemaah di sini selalu merindukan Kakbah. Karena alhamdulillah saya dan keluarga sudah pernah Allah undang untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, makanya kami selalu berdoa agar bisa kembali ke Mekkah. Bisa dipanggil kembali ke rumah Allah untuk beribadah," ungkapnya.

Alasan lainnya, kata Yayan, karena lahan wakaf dari kakek buyutnya tersebut sangat sempit sehingga tidak memungkinkan untuk dibangun lebih luas lagi dengan teras dan halaman Masjid pada umumnya.

"Sebenarnya pembangunannya belum selesai 100 persen. Masih ada beberapa ornamen yang harus ditambahkan, seperti beberapa kaligrafi di bagian dalam terutama di lantai dua. Selain itu di bagian kaligrafi pintu Kakbah yang masih dalam pemesanan. Tinggal finishing saja, targetnya bulan ini bisa beres semua. Doakan saja mudah-mudahan lancar semuanya," terangnya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA