Keterbatasan Tidak Surutkan Semangat Penyandang Tuna Rungu Ini Pelajari Agama Islam

Bandung Raya

Selasa, 9 Juli 2019 | 14:46 WIB

190709144335-keter.jpg

Ziyan Muhammad Nasyith

Seorang penerjemah menjelaskan ceramahnya dengan sebuah isyarat kepada sejumlah penyandang disabilitas tuna rungu di Masjid Raya Al-Fathu Soreang, Kab. Bandung, Selasa (9/7/2019).

BELAJAR dan memperdalam ilmu agama adalah kewajiban bagi semua umat Islam. Kewajiban dan kerelaan untuk berserah diri kepada Allah SWT ini, juga yang disadari oleh para penyandang disabilitas tuna rungu untuk lebih giat mempelajari ajaran agama Islam, dengan mengikuti berbagai kajian Al-Quran dan Hadits diberbagai tempat.

Para penyandang tuna rungu yang getol mempelajari ilmu agama Islam di beberapa masjid di Kabupaten Bandung, salah satunya di Masjid Raya Al-Fathu Soreang. Ada yang menarik dari kajian keagamaan yang dilakukan para penceramah dan penerjemaah dalam kelompok pengajian tersebut.

Seorang penceramah membaca dan menerjemahkan ayat-ayat dalam Al-Quran dan Hadist. Sedangkan seorang penerjemah yang duduk disamping penceramah, terlihat menggerak-gerakan tangan sebagai bahasa isyarat.

"Setiap bulan kami melakukan itikaf dengan beberapa orang kawan dari tuna rungu maupun yang normal, itu dilakujan dibeberapa Masjid di Kota Bandung dan di Kabupaten Bandung. Kami juga sowan silaturahmi kepada para ulama, dan mereka mengakui kesulitan untuk melakukan dakwah ataupun mengajari kawan-kawan tuna rungu ini," ujar salah seorang penerjemah dakwah untuk para penyandang tuna rungu, Abas saat ditemui di Masjid Raya Al-Fathu Soreang, Selasa (9/7/2019).

Diakui Abas, selama ini dakwah dari para penceramah untuk kalangan penyandang tuna rungu terbilang minim. Padahal, sebagai seorang Muslim, para penyandang tuna rungu ini juga memiliki kewajiban untuk belajar dan mengamalkan ilmu agama, seperti umat Islam yang dikarunia kesempurnaan fisik.

"Selama ini memang kurang atau jarang sekali ada penceramah yang mengajarkan ilmu agama khusus untuk para penyandang tuna rungu. Dan di Sekolah Luar Biasa (SLB) juga meskipun ada pelajaran agama tapi kurang. Alhamdulilah setelah kami bersama-sama menggelar pengajian dan dakwah kepada teman-teman tuna rungu ini, ilmu pengetahuan agama mereka lebih bertambah," ungkapnya.

Abas melanjutkan, kajian Al-Quran dan Hadist untuk para penyandang tuna rungu ini, telah berlangsung lumayan lama. Namun memang, untuk di Kabupaten Bandung belum begitu lama, karena biasanya kajian keagamaan dan dakwah ini lebih banyak dilakukan diberbagai Masjid di Kota Bandung. Sedangkan di Kabupaten Bandung, biasanya dilakukan di Masjid Al Muklis di Kecamatan Banjaran.

"Kalau di Kota Bandung sudah berlangsung lumayan lama, jamaah dari penyandang tuna rungu kurang lebih 20 orang. Sedangkan di Kabupaten Bandung biasanya di Masjid Al Iklas dengan jumlah jamaah baru lima orang. Nah, sekarang kami mencoba menggelar kegiatan dakwah dan kajian keagamaan ini di Masjid Raya Al Fathu Soreang, semoga saja semakin banyak kawan-kawan penyandang tuna rungu yang mau berama-sama belajar ilmu agama," ujarnya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA