Abdy Yuhana: Bangsa Harus Menerima Perbedaan

Bandung Raya

Kamis, 20 Juni 2019 | 18:28 WIB

190620183021-abdy-.jpg

Rio Ryzki Batee

DUKUNGAN berbagai pihak baik pemerintah, tokoh masyarakat, instansi terkait dan masyarakat, dalam mengantisipasi persoalan perbedaan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Mengingat persoalan perbedaan yang menjurus kepada paham radikal, menghambat produktivitas bangsa dan negara.

Tokoh Muda Jawa Barat, Abdy Yuhana mengatakan bahwa dari Indonesia merupakan negara yang majemuk atau masyarakat heterogen. Sehingga perbedaan yang ada dapat diterima oleh semua pihak, yang tertuang dalam Pancasila.

"Maka dengan ini Jawa barat mengusulkan peradaban bangsa, yang dapat menerima perbedaan. Karena kita negara dengan masyarakat yang heterogen bukan homogen," ungkapnya pada diskusi 'Legasi Untuk Bangsa' di Kawasan Djuanda, Bandung, Kamis (20/6/2019).

Menurutnya yang saat ini paling penting, adalah soal semangat persatuan dan kesatuan bukan soal perbedaan. Terlebih masyarakat Indoneisa, yang dikenal menghormati perbedaan dengan berlandaskan pada Pancasila.

"Berdasarkan sejarah, Indonesia pernah mengalami konflik ideologi agama dan kebangsaan. Tapi karena sadar hal itu, tidak produktif maka akhirnya semua bersatu kembali," katanya.

Dikatakannya saat ini, berdasarkan sejumlah riset terkait paham perbedaan yang radikal banyak terjadi di generasi muda, seperti dikalangan mahasiswa. Yang lebih meyakini akan homogenitas dan tidak boleh adanya perbedaan.

"Jika kita ingin maju maka perlu diupayakan persatuan dan kesatuan, karena akan melahirkan produktivitas. Disini dibutuhkan peran dari semua elemen, baik masyarakat dan pemerintah," ujarnya.

Abdy menuturkan bahwa persatuan dan kesatuan yang ada, jangan sampai dirusak karena adanya agenda-agenda politik.

"Tentu jangan sampai rusaknya persatuan dan kesatuan, hanya gara-gara agenda politik. Karena itu hanya cara untuk mencari pemimpin yang dapat membangun bangsa," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dewan Pakar PA alumni GMNI Nasional, Andi Talman Nitidisastro menilai prihatin akan kesadaran Pancasila sebagai ideologi yang dapat mempersatukan bangsa dan negara. Maka perlu ada upaya untuk membumikan kembali ideologi tersebut ditengah masyarakat, terutama bagi kalangan pemuda.

"Kalau memungkinkan tokoh masyarakat, budayawan, tokoh agama dan kepercayaan iman disertifikasi pemahaman Pancasila. Sehingga dapat mengimplementasikannya di tengah masyarakat," tambahnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR