Desa Neglasari Tak Izinkan Perusahaan Industri Penghasil Limbah Cair

Bandung Raya

Kamis, 20 Juni 2019 | 16:58 WIB

190620165959-desa-.jpg

Engkos Kosasih

PEMERINTAH Desa Neglasari Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung berusaha untuk mencegah masuknya para pengusaha industri mengembangkan usaha industri yang menghasilkan limbah cair. Sekaligus berusaha untuk mencegah alih fungsi lahan karena upaya pengusaha industri yang hendak mendirikan bangunan industri pada lahan pertanian padi.

"Kita berusaha untuk membuat peraturan desa (perdes) dalam upaya mempertahankan lahan abadi. Sebelum ke arah sana, kita akan mengumpulkan para petani. Yang jelas, pabrik yang menghasilkan limbah cair tidak akan diizinkan di Desa Neglasari," kata Kepala Desa Neglasari H. Asep Zaenal Malik Ibrahim kepada galamedianews.com di rumahnya, Desa Neglasari, Kamis (20/6/2019).

Menurut Asep, mempertahankan lahan abadi pertanian padi itu, berkaitan dengan kebijakan kepala desa. Melalui kebijakan itu, aparatur desa tidak akan memberikan kesempatan kepada para pengusaha untuk mendirikan pembangunan industri yang menghasilkan limbah cair.

"Kita berusaha untuk membatasi pembangunan industri di Desa Neglasari. Ketika pengusaha industri masuk ke Desa Neglasari, sangat berpeluang untuk menguasai lahan. Karena itu, kami berusaha untuk mencegah pembangunan industri berdiri di Desa Neglasari," katanya.

Asep pun mencontohkan di desa lain, sebelumnya masih terdapat lahan pertanian padi, setelah masuk para pengusaha industri, lahan pertanian padi pun banyak dikuasai para pengusaha untuk perluasan lahan pembangunan pabrik.

"Di saat para pemilik lahan ditawari harga jual tanah dengan harga tinggi, akhirnya pemilik lahan menjualnya. Kejadian seperti itulah yang kita hindari di Desa Neglasari untuk mencegah alih fungsi lahan," jelasnya.

Di saat ada pengusaha yang akan mengembangkan usahanya, Asep mendorong kepada para pengusaha tersebut dalam bidang pertanian seperti agro pertanian. Saat ini di Desa Neglasari sedang mengembangkan pertanian organik dengan menghasilkan beras yang benar-benar sehat untuk dikonsumsi.

"Memang untuk pertanian organik belum seutuhnya ke arah sana. Soalnya, air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian tersebut masih terkontaminasi dari penggunakan pupuk anorganik yang ada di kawasan pertanian di hulu Sungai Citarum yang meliputi Kecamatan Kertasari," jelasnya.

Tetapi setidaknya, kata Asep, para petani di Desa Neglasari sudah berusaha meminimalisir penggunaan pupuk anorganik dan lebih mengoptimalkan penggunaan pupuk organik.

"Dengan cara itu, dapat menghasilkan produksi pertanian padi tanpa resudu setelah penggunaan pupuk anorganik dikurangi. Para petani sudah bisa menghasilkan beras sehat, hampir tak ada residu," katanya.

Kepala Desa Neglasari ini mengatakan, pengairan lahan pertanian seluas 140 hektare di wilayahnya itu masih mengandalkan pengairan dari Bendungan Wandir Sungai Citarum Kecamatan Pacet.

"Alhamdulillah, sampai saat ini lahan pertanian di Desa Neglasari diairi aliran Sungai Citarum yang belum terkontaminasi limbah industri. Sehingga beras yang sudah menjadi nasi kualitasnya cukup bagus," katanya.

Ia mengatakan, beras asal Desa Neglasari merupakan jenis beras premium, sehingga banyak diminati masyarakat. Bahkan terkenal dengan sebutan beras Bandung di Jakarta. "Beras Desa Neglasari ini masuk kategori beras nasi pulen, wangi dan sehat. Soalnya, dialiri aliran Sungai Citarum yang belum kena limbah industri," jelasnya.

Dalam setahun, katanya, lahan pertaniannya bisa menghasilkan tiga kali panen. Meski pada pelaksanaannya pada musim pertama dan kedua ditanami padi, dan musim tanam ketiga ditanami palawija dengan menyesuaikan kondisi cuaca.

"Seperti kondisi saat ini, sekitar 80 persen lahan masih bisa ditanami padi dan sisanya 20 persen ditanami palawija karena memasuki musim kemarau," katanya.

Menurutnya, produksi padi di kawasan tersebut menghasilkan antara 6-10 ton gabah kering panen per hektare. "Produksi padi itu, juga turut dipengaruhi oleh organisme penganggu tumbuhan, sehingga berpengaruh pada produksi padi yang dihasilkan. Produksi padi yang dihasilkan itu, sekitar 50 persen dipasarkan dan siaanya dikonsumsi para petani," ungkapnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR