700 Santri Mengikuti Tes CBT PBSB 2019 di UIN SGD Bandung

Bandung Raya

Selasa, 18 Juni 2019 | 20:01 WIB

190618200215-700-s.jpg

Nana Sukmana

Roro Sri Rejeki Waluyajati, Sekretaris Jurusan Studi Agama-agama sedang mengawas seleksi berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Dalam Negeri tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2019 di Gedung Lecture Hall UIN SGD Bandung, Kampus I,Jalan A.H.Nasution No 105 Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Selasa (18/06/2019).

SEBANYAK 700 santri mengikuti seleksi berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dalam negeri untuk tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2019 di Gedung Lecture Hall UIN SGD Bandung, Kampus I, Jalan A.H.Nasution No 105, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Selasa (18/06/2019).

Kasubbag Humas UIN SGD Bandung, Drs. H. Rohman Setiaman menjelaskan,  PBSB merupakan bagian dari afirmasi Kementerian Agama (Kemenag) untuk memperluas akses santri mendapatkan kesempatan belajar di perguruan tinggi terbaik.

"Kebijakan ini didasarkan pada posisi strategis pesantren yang ikut mencerdaskan dan menjaga kedamaian  kehidupan bangsa," ujar Rohman di ruang kerjanya, Selasa  (18/06/2019).

Dikatakannya, selama ini kontribusi pesantren dalam peningkatan akses partisipasi pendidikan masyarakat telah diakui semua pihak. Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ditindaklanjuti dengan usaha untuk meningkatkan mutu dan kapasitas kelembagaaan pendidikan, bahkan terhadap komunitas pesantren, khususnya santri.

PBSB  yang berlangsung secara nasional di 34 Provinsi, imbuh Rohman, terdiri atas lima sessi tes, yakni tes potensi akademik (60 menit), tes bahasa dan kepesantrenan (60 menit), tes kemampuan bidang studi (90 menit),tes membaca kitab kuning dan hafalan 100 bait nazhom alfiyah khusus bagi santri yang mendaftar pada Ma’had Aly (60 menit), dan tes tahfiz Alquran khusus bagi santri yang mendaftar pada UIN Malang (150 menit).

“Alhamdulillah pelaksanaan tes CBT PBSB berjalan lancar sesuai dengan arahan dari panitia pusat  melalui Kanwail Jabar dan menjadi harapan kita bersama,” paparnya.

Rohman juga menjelaskan, sebagai bentuk akomodasi bagi calon mahasiswa dari kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK), panitia mengikutisertakan 1 peserta yang dikategorikan ABK.

"Dari peserta tes PBSB yang berjumlah 700 santri itu terdapat 1 yang difabel, yaitu Nailatudz Dzakirah Nurshalihah yang mengikuti tes menggunakan kursi roda," ujarnya.
Peserta ini, ungkap Rohman, kelahiran 12 April 2001 ini ikut tes PBSB sesi 1 dari pukul 08.00 WIB sampai 11:45 WIB dengan pilihan perguruan tinggi Insitut Pertanian Bogor yang memilih program studi Nutrisi dan Teknologi Pakan (pilihan 1) dan Teknologi Hasil Ternak (pilihan 2).

"Menurut orang tua Nalia, pemakaian kursi roda bukan dari lahir, melainkan tiga bulan ke belakang jatuh dari motor kakinya patah. Ketika mengikuti tes UTBK yang lalu, dia masih terlentang. Orang tuanya berharap Naila bisa kuliah karena sangat kuat keinginginanya untuk melanjutkan sekolah," paparnya.  

Diungkapkannya pula, keikutsertaan Naila merupakan bentuk kepedulian Kemenag terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Sikap ini, merupakan implementasi dari pasal 31 ayat (1) UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

“Kami tidak diskriminatif. Siapa pun berhak mengikuti pendidikan di bawah lingkungan Kemenag, asal telah mengikuti dan memenuhi syarat serta ketentuannya,”  tegasnya.

Sementara, hasil seleksi akan diumumkan melalui daring pada Juli mendatang. Santri yang dinyatakan lulus harus segera melengkapi pemberkasan pada Kantor Kemenag Wilayah Provinsi masing-masing untuk melakukan legalisasi dan pelengkapan administrasi lainnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA